Beranda Publikasi Sunan Prawata dan Silsilah Raja-raja Demak dalam Manuskrip Syeh Anom Sidakarsa

Sunan Prawata dan Silsilah Raja-raja Demak dalam Manuskrip Syeh Anom Sidakarsa

317
0
Manuskrip Syeh Anom Sidakarsa berusia ratusan tahun (dokumen Penulis, Juni 2019)

Oleh: Ali Romdhoni (Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang)

Baru-baru ini saya diketemukan dengan seorang kiai di Kebumen, Jawa Tengah yang masih menyimpan manuskrip (naskah tulisan tangan) berusia ratusan tahun. Naskah itu berisi ajaran keislaman, terutama pembahasan tauhid (teologi). Selain itu juga memberitakan sejarah Islam, sejarah raja-raja di Jawa, dan tidak terlewatkan silsilah para sultan Demak Bintara yang nasabnya masih menyambung kepada Kanjeng Nabi Muhammad.

Kepada saya, pemegang manuskrip menceritakan telah menerima peninggalan monograf itu secara turun-temurun dari leluhurnya yang masih memiliki garis keturunan dari Syeh Anom Sidakarsa. Kitab itu pun dikatakan sebagai karya—atau paling tidak ajaran—dari Syeh Anom yang diterima dari para wali (walisongo) di Jawa.

Syeh Anom merupakan cucu Sunan Prawata atau Pangeran Hadi Mu’min, raja ke-4 kesultanan Demak Bintara (bertahta 1546-1547 M). Dengan demikian, Syeh Anom juga keturunan dari pendiri Demak Bintara, Raden Fatah (bertahta 1475-1518).

Tulisan ini secara spesifik mengkaji silsilah Sunan Prawata dan hubungannya dengan kesultanan Demak Bintara (1475-1554 M) yang berdiri atas inisiasi oleh para wali. Di sini saya menyebut naskan tulisan tangan karya Syeh Anom Sidakarsa sebagai manuskrip Syeh Anom.

Berita yang beredar di tengah masyarakat selalu menghubungkan tokoh Sunan Prawata sebagai sultan Demak Bintara yang menanggung ‘karma’ politik. Ia diceritakan sebagai raja kesultanan Demak Bintara yang menyebabkan dinasti itu mengalami kemunduran. Sampai akhirnya, pusat pemerintahan kesultanan Islam paling awal di pulau Jawa ini harus digeser ke daerah pedalaman di Pajang (sekarang Surakarta) setelah tahun 1554 M.

Berita yang beredar di tengah masyarakat selalu menghubungkan tokoh Sunan Prawata sebagai sultan Demak Bintara yang menanggung ‘karma’ politik. Ia diceritakan sebagai raja kesultanan Demak Bintara yang menyebabkan dinasti itu mengalami kemunduran

Sebelumnya Sunan Prawata juga digambarkan sebagai seorang pangeran yang telah menyulut ‘api permusuhan’ di dalam istananya sendiri. Puncaknya, cerita mengenai dinasti Demak Bintara yang hidup di tengah masyarakat adalah sejarah kumpulan para pangeran yang jauh dari watak kesatria.

Di antara raja-raja Demak itu digambarkan berwatak serakah. Kemudian penerusnya diceritakan tidak becus mengurus negara. Ada lagi yang digambarkan sebagai penguasa pongah dan serakah. Sampai ada yang dikabarkan sebagai bangsawan amoral dan hina.

Manuskrip Syeh Anom menyampaikan informasi, khususnya mengenai silsilah keturunan Raden Fatah, yang berbeda dari pemahaman umum. Hal ini perlu disampaikan ke publik, mengingat selama ini berita tentang relasi kekerabatan istana kesultanan Demak telah didominasi oleh narasi tunggal. Bahkan para wali pun tidak lepas dari pencitraan negatif. Kemunculan manuskrip Syeh Anom bisa menjadi informasi pembanding bagi sumber yang telah ada sebelumnya.

Manuskrip Syeh Anom

Saya berterima kasih kepada pemegang manuskrip Syeh Anom yang berbaik hati dan menunjukkan naskah berharga itu untuk dikaji. Dari Kiai Muhyiddin penulis diperlihatkan kitab yang tiap-tiap halamannya telah berwarna kuning-kecoklatan. Di salah satu halaman menerangkan, karya itu ditulis tahun 1177 H. (1763 M.), atau kemungkinan lain tahun 1277 H (1863 M.).

Naskah tulisan tangan dengan huruf Arab Pegon itu segera menarik perhatian saya. Selama ini, catatan kuno tentang kehidupan sosial, politik dan kebudayaan masyarakat Jawa, terutama yang lahir dari karya para pujangga keraton Solo dan Yogyakarta dituliskan dengan huruf Jawa (ha na ca ra ka). Manuskrip Syeh Anom ini ditulis menggunakan huruf Arab Pegon.

Tetapi saya kemudian teringat dengan Babad Diponegoro (1833 M) yang naskah aslinya juga ditulis dalam aksara Arab Pegon. Naskah catatan tangan yang berisi semacam otobiografi Pangeran Diponegoro itu pada 21 Juni 2013 diakui UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).

Relasi Sunan Prawata dan Syeh Anom

Tersebut dalam kitab Babad Tanah Djawi (gubahan L. Van Rijckevorsel, 1925), Sunan Prawata merupakan anak Sultan Trenggana, raja ke-3 kesultanan Demak Bintara. Raja sebelumnya adalah Sultan Pati Yunus (bertahta 1518-1521 M), saudara tertua Trenggana. Sunan Prawata adalah putra mahkota Sultan Trenggana yang kelak menggantikan kedudukan sang ayah. Dengan demikian, Sunan Prawata adalah raja ke-4 kesultanan Demak.

Nama kecil Sunan Prawata adalah Pangeran Mu’min, atau Raden Mu’min. Serat Centhini atau Suluk Tambangraras (1814 M) menyebut Sunan Prawata sebagai Sultan Hadi kang ngedaton in nagari Demak (raja Demak Bintara). Sedangkan orang-orang di Prawoto (sekarang di Pati) menyebutnya sebagai Raden Bagus Hadi Mu’min alias Sunan Prawata.

Masa pemerintahan Sunan Prawata dikabarkan sangat singkat, hanya tiga tahun. Bahkan sebagian cerita mengatakan hanya setahun, itu pun diwarnai dengan konflik internal. Meskipun demikian terdapat laporan penelitian sejarah yang menyimpulkan, Sunan Prawata sudah berperan dalam memperkuat pasukan angkatan laut kesultanan Demak sejak Sultan Pati Yunus, bahkan bisa lebih awal lagi (Slamet Muljana, 2007). Ketika ayahnya, Sultan Trenggana menyisir pulau Jawa, dia lah yang menjaga pusat kekuasaan dari potensi serangan lawan. Artinya, sebagai calon raja Raden Mu’min sudah dipersiapkan sejak dini.

Tetapi berita yang diterima orang-orang mengatakan, Pangeran Mu’min lebih memilih mandita, menjadi seorang alim yang mengajarkan ilmu agama Islam. Itu kenapa, namanya lebih dikenal sebagai seorang sunan (sunan Prawata; susuhunan ing Prawata) katimbang sultan (sultan Prawata; raja Demak).

Sunan Prawata juga diceritakan tidak begitu suka dengan kedudukan sebagai pemimpin formal (raja), apalagi berpolitik. Kemunduran Demak Bintara selanjutnya dihubungkan dengan kabar mengenai sikap raja yang demikian.

Adapun Pangeran Anom adalah cucu dari Sunan Prawata. Keduanya masih memiliki garis keturunan dengan pendiri kesultanan Demak Bintara. Bila Sunan Prawata adalah keturunan ketiga dari Raden Fatah, maka Pangeran Anom adalah keturunan keenam.

Ayah Pangeran Anom bernama Pangeran Sudarma. Pangeran Sudarma anak Pangeran Kediri (Wirasoma; Wirasmara). Pangeran Kediri anak kandung Sunan Prawata.

Perkembangan sosial-politik di pulau Jawa kala itu menjadikan Pangeran Anom lahir dan berkembang di luar gedung istana. Mendalami ilmu agama Islam menjadi pilihannya. Agaknya pilihan menjadi seorang ulama ada kesamaan dengan kecenderungan sang kakek, Sunan Prawata.

Menurut berita dari manuskrip Syeh Anom, Pangeran Anom muda pergi ke Mekkah dan berguru kepada para syeh (masyayekh; maha guru) di sana. Sekembalinya dari tanah kelahiran nabi, ia menyandang gelar syeh dan menjadi pemuka agama di daerah Sidakarsa (sekarang di kabupaten Kebumen).

Silsilah para Sultan dan Berita Konflik di Istana

Berdasarkan sumber babad, serat, dan pemahaman masyarakat umum, Demak Bintara didirikan oleh Raden Fatah dengan dukungan para wali. Penggantinya adalah Pati Yunus, anaknya. Sumber lain mengatakan sebagai menantunya. Pati Yunus meninggal di usia muda dan belum memiliki keturunan, lalu digantikan anak Raden Fatah lainnya, yaitu Trenggana.

Hingga di sini berkembang kabar, suksesi raja diwarnai intrik politik yang berujung pada konflik saling-bunuh di antara kerabat istana. Pangeran Trenggana memiliki pesaing, Raden Kikin atau Seda Lepen. Untuk membantu sang ayah naik tahta, Mu’min muda menyingkirkan pamannya.

Manuskrip Syeh Anom memberikan informasi berbeda. Di sana diceritakan, Sunan Prawata adalah anak Sunan Demak. Sunan Demak anak Pangeran Seda Lepen. Seda Lepen anak Panembahan Palembang.Dalam kitab Ahla al-Musamarah tulisan Kiai Abu al-Fadhal, Sunan Demak adalah gelar yang disematkan kepada Raden Fatah. Dengan demikian, bila mengiktui berita dari manuskrip Syeh Anom, Sunan Prawoto sebenarnya cucu dari Pangeran Seda Lepen.

Berikut ini adalah silisilah Sunan Prawoto berdasarkan informasi yang tertulis dalam manuskrip Syeh Anom:

SILSILAH KANJENG SUNAN PRAWOTO BERDASARKAN MANUSKRIP SYEH ANOM SIDAKRSA
NO NAMA
01. Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah
02. Raden Ayu Fatimah
03. Hasan Husain
04. Zainul Abidin
05. Zainul Alim
06. Zainul Kubra (Zainul Kabir)
07. Zainul Hakim
08. Syeh Jumadil Kubra
09. Ibrahim Asmar
10. Sunan Kutub
11. Nyai Mas Kedaton
12. Putri Ayu diperistri Panembahan Palembang
13. Pangeran Seda Lepen
14. Sunan Demak
15. Sunan Prawoto
16. Sunan Prawoto memiliki lima orang anak:

Arya Pangiri; Pangeran Kediri; Panembahan Prawoto; Ratu Mas Semangkin; Ratu Mas Prihatin

17. Pangeran Kediri memiliki anak Pangeran Sudarma
18. Pangeran Sudarman memiliki anak Pangeran Anom atau yang kemudian mashur sebagai Syeh Anom

Dari pemaparan di atas bisa dipahami, Pangeran Seda Lepen ternyata orang yang masih memiliki garis keturunan langsung dengan Sunan Prawata, yaitu antara kakek dan cucu. Informasi ini berbeda dengan kabar yang diturunkan oleh Babad Tanah Djawi yang kemudian diamini masyarakat awam: Sunan Prawata justru diceritakan sebagai orang yang telah menyingkirkan Seda Lepen.

Kesimpulan: Narasi Sejarah yang Melibatkan Pengetahuan Pelaku

Saya memang tertarik untuk membaca ulang cerita sejarah masa lalu yang narasinya mengabaikan nalar dan pengetahuan para pelaku (pemilik sejarah). Iya, saya melihat, ada hal-hal yang tidak elok dalam penggambaran kehidupan para tokoh di masa lalu.

Kesultanan Demak Bintara berdiri di bawah pengarahan dewan wali yang memegangi tata-nilai. Di antara mereka terdapat semacam ikatan untuk saling menghargai dan welas asih, antara guru dan orang, orang tua dan anak. Dalam konteks ini, setiap kebijakan apalagi yang menyangkut persoalan rakyat akan melalui nasehat dan fatwa dewan wali.

Hal lainnya, kesultanan Demak Bintara kala itu merupakan kelanjutan dari dinasti Majapahit. Sisa-sisa pekerjaan rumah Majapahit akan diwarsikan pada Demak Bintara. Masih ditambah dengan tantangan baru yang harus dihadapi Demak, yaitu kedatangan orang asing yang ingin menguasai kekayaan bumi Nusantara.

Sampai di sini saja, Demak Bintara memiliki tugas yang tidak enteng: menata, membenahi, dan mempertahankan wilayahnya. Butuh strategi jitu dan kerja keras untuk semua itu. Faktanya, serdadu Portugis tidak pernah benar-benar menyentuh benteng pertahanan istana Demak.

Lalu, bagaimana mereka justru digambarkan bertikai dengan keluarga sendiri.[]