Beranda Publikasi Kolom Senggakan: Estetika Musikal yang Melintas Zaman

Senggakan: Estetika Musikal yang Melintas Zaman

200

Oleh: Supriyadi (mahasiswa Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Surakarta) 

“Tarik, Sis! Semongko!

Kini tinggal aku sendiri,

Hanya berteman dengan sepi,

Menanti dirimu kembali,

Di sini kuterus menanti….”

(Cuplikan lagu bertajuk “Bunga”)

Belakangan ini, fenomena senggakan menjadi sebuah hal yang digandrungi oleh masyarakat secara parsial. Barangkali masih terngiang lagu bertajuk “Pamer Bojo”. Dalam lagu ini terdapat senggakan “Cendol Dawet” yang begitu populer. Ataupun senggakan “Ha’e Ha’e Ha’e Ha’e” yang seringkali dijumpai di banyak lagu dangdut koplo. Lebih ke belakang lagi, misalnya senggakkan “Buka Sithik Jos!”. Senggakan ini juga karib digunakan dalam berbagai lagu dangdut koplo. Senggakan yang populer dewasa ini ialah “Tarik, Sis! Semongko!” serta senggakan “Aaaaaa! Aaaaaa!”.

Bagi masyarakat pecinta dangdut koplo, senggakan menjadi sebuah bagian musikal yang sangat penting. Pasalnya, selain menambah keriangan dan keeksotisan lagu, senggakan juga memengaruhi goyangan. Seringkali kita saksikan, ketika bagian senggakkan disuarakan, para penonton mendapat sebuah tekanan-tekanan tertentu dalam goyangannya. Misalnya senggakan “Buka Sithik, Jos!”. Pada bagian “Jos!”, penonton yang bergoyang akan merasakan titik berat dari dendangan lagu. Alhasil, goyangan yang dihasilkan juga turut mendapatkan tekanan.

Dalam perjalanannya, senggakan kiranya sudah karib ditemui oleh masyarakat. Tidak hanya pada dangdut koplo, dalam berbagai musik tradisionalpun sebenarnya sudah menggunakan ornamen musik ini. Lekas dari karawitan Jawa, Calung Banyumasan, Kesenian Janthilan, dan lain sebagainya. Senggakan menjadi sebuah ornament musikal sekaligus mewujud menjadi estetika musikal yang melintasi zaman.

Senggakan

“Senggakan memiliki kata dasar senggak yang memiliki arti nyuwara gijak arame mbarengi (njaboengi) oenining gamelan (sinden)” (Poerwadarminta, 1939:557). Selaras dengan pengertian tersebut; Suraji mengungkapkan, “vokal bersama atau tunggal dengan cakepan parikan dan/atau serangkaian kata-kata (terkadang tanpa makna) yang berfungsi untuk mendukung terwujudnya suasana ramai dalam sajian gendhing.

Pada pengertian ini, senggakan ditujukan untuk menambah kesan ramai dalam sajian gendhing. Misalnya, dalam karawitan gaya Surakarta dan Yogyakarta. Senggakan sering nampak di berbagai gendhing, misalnya senggakan “Ha’e Ha’e… Ooooo… Eeeeee!”. Selanjutnya, dalam Tari Gambyong Pareanom. Sembari bertepuk tangan, para gerong akan menyuarakan senggakan “Oeee… Oeeee… Ooooeeeeng!” di bagian-bagian tertentu.

Setelah itu, setiap kali gerong hendak melantunkan lagu bagiannya, senggakan “Sasolaheee!” akan terdendangkan. Dalam hal ini, senggakan menjadi sebuah ornamen gendhing yang mengisi ruang-ruang ruang-ruang kosong. Juga, menjadi sebuah penanda terhadap akhir kalimat lagu. Dengan begitu, sajian gendhing menjadi rapat dan penuh; bahkan pada jembatan antar kalimat lagu.

Kemudian, senggakan pada kesenian Karawitan Banyumasan. Senggakan yang nampak pada Karawitan Banyumasan ialah “Dowa lolo…Loiiiing!”. Senggakan ini menjadi senggakan yang paling umum digunakan dalam Karawitan Banyumasan. Dalam Kesenian Calung pun juga demikian. Menariknya, senggakan yang karib ditemui dalam dangdut koplo, yakni “Buka Sithik, Jos!” juga ditemukan pada kesenian calung. Penyajiannya juga sama laiknya pada dangdut koplo.  Menurut Hastanto dalam Setiaji (2021: 116), “’Buka Sithik, Jos!’ sudah ada sejak tahun 70-an pada seni Calung Banyumasan”.

Senggakan dalam karawitan ataupun kesenian Banyumasan sangatlah kaya. Pasalnya, masih terdapat banyak sekali senggakan. Misalnya, “ooo”, “eee”, “telululu”, “esod-esod”, dan lain sebagainya. Kekayaan senggakan ini juga ditemui dalam Kesenian Janthilan. Apalagi, ketika sajian pertunjukannya berada dalam fase ndadi (kesurupan).

Senggakan seperti “Ha’e… Ha’e…”, “Hokya…”, “Beh… Boh…Beh…”, “Slolololo…”, dan lain sebagainya. Pada fase ini, senggakan pada Kesenian Janthilan justru menjadi ornamen yang dominan. Hal serupa juga terjadi pada Kesenian Reog Ponorogo.

Fenomena senggakan juga nampak pada campursari. Dalam berbagai karya campursari, senggakan yang digunakan tidak berbeda jauh dengan senggakan pada karawitan. Barangkali memang induk dari campursari memanglah gamelan, sehingga keidentikan juga ditemui.

Namun, di sisi lain juga terdapat perbedaan senggakan dengan karawitan pada umumnya. Pada campursari, seringkali terdapat senggakan yang menempel pada aksen kendhang laiknya senggakan Banyumasan. Campursari meleburkan senggakan karawitan yang dominan halus dengan senggakan Banyumasan yang terkesan enerjik.

Mutakhir, senggakan yang digunakan dalam musik dangdut, khususnya dangdut koplo. Senggakan yang ada pada dangdut koplo kiranya transformasi dari senggakan campursari. Perbedaannya, dalam dangdut koplo terdapat ketipung/kendhang jaipong memberikan aksen-aksen di sepanjang lagu.

Pada aksen-aksen tersebut, senggakan turut mengikuti iramanya. Selain itu, dalam dangdut koplo; senggakan begitu mendominasi di sepanjang lagu. Alhasil, kesan rapat dan penuh begitu terasa dalam sajian lagu. Dampaknya ialah melahirkan atmosfer riang yang kemudian menuntun penonton untuk bergoyang.

Estetika

Senggakan menjadi sebuah ornament musikal yang mewujudkan kesan ramai dari sebuah gendhing ataupun lagu.  Lekas dari karawitan, kesenian tradisional, campursari, hingga dangdut koplo. Kehadiran senggakan menjadi sebuah ornament yang penting. Jika diamati, senggakan sudah ada sejak lampau. Hingga kini, senggakan masih digunakan dalam berbagai lagu dengan kemasan yang aktual. Berkat perjalanan panjang dari senggakan, agaknya senggakan mewujud menjadi sebuah estetika musikal.

Hal ini dapat dirasakan jika gendhing dalam karawitan dan kesenian tradisional ataupun lagu dalam campursari dan dangdut koplo tidak diberikan senggakan. Kiranya, terdapat “sesuatu” yang hilang dari sajian tersebut. Selain itu, dalam berbagai kesempatan saya sering melihat adanya respon penonton (entah itu karawitan ataupun campursari dan dangdut koplo) yang dengan refleks menyuarakan senggakan di bagian-bagian tertentu. Agaknya, senggakan sudah menubuh ke dalam diri masyarakat.

Ihwal senggakan yang menubuh; Michael (2013) berpendapat, “… habitus sangat berperan kuat, wilayah budaya sangat melandasi habitus dari individu maupun kelompok, dan pada senggakan dangdut koplo ini pun terjadi berdasarkan habitus individu dan habitus masyarakat”. Bagi masyarakat Jawa, keberadaan senggakan kiranya sudah teralami sejak lampau. Hal inilah yang mendasari habitus ini terbentuk.

Secara subyektif, ketika ada sebuah sajian gendhing ataupun lagu dangdut-campursari; saya sering menerka senggakan yang akan hadir meskipun bagian senggakan belum dimainkan. Rasanya, terdapat rekaman bawah sadar atas pengetahuan dan perasaan musikal yang sebelumnya teralami.

Kiwari, senggakan tidak hanya menjadi ornament musikal saja. Melainkan mewujud menjadi sebuah estetika yang menghadirkan kenikmatan tersendiri. Bahkan, senggakan menjadi sebuah unsur musikal yang dinanti-nanti. Perjalanan senggakan yang panjang, menjadikannya sebuah estetika yang menembus dan melintasi zaman. Semoga panjang umur! [NI]

Artikulli paraprakKopi dan Ngopi: dari Simbol Identitas Budaya Hingga Cara Menikmati Hidup
Artikulli tjetërNKRI Harga Mati dan Makna Bela Negara
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini