Beranda Publikasi Kolom Ritual Reba di NTT: Harmoni Manusia, Alam, dan Pencipta

Ritual Reba di NTT: Harmoni Manusia, Alam, dan Pencipta

603

Dewi Ayu Larasati (Akademisi & Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)

Boleh dibilang, keretakan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta telah terjadi akhir-akhir ini. Arogansi dan ketamakan manusia telah mengakibatkan kerusakan alam yang berbuntut bencana. Munculnya nafsu berkuasa kerap membuat manusia merendahkan martabat manusia lainnya. Dalam hal ini Mahatma Gandhi pernah berujar (Mangunjaya, 2015:35), “Bumi ini tidak akan pernah cukup untuk memenuhi nafsu satu orang tamak. Selalu akan kurang dan senantiasa mencari peluang baru.”

Dulu, manusia menganggap alam adalah sebagai bagian dari anggotanya. Sehingga tidak ada keinginan untuk mendominasi ataupun menargetkan alam. Semua tindakan hidup juga menempatkan entitas ilahi di tempat yang tinggi. Konsep itulah yang mendasari masyarakat tradisional hidup dalam keseimbangan, dimana mereka mampu membina relasi yang baik dan harmonis dengan dirinya, sesama alam sekitarnya serta dengan wujud-wujud supranatural di alam gaib.

Masyarakat tradisional Ngada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur juga mempunyai cara untuk membangun keseimbangan hidup. Dalam keyakinan orang Ngada, manusia harus menjaga bumi dan segala isinya. Merusak lingkungan hidup sama dengan mencederai ciptaan Tuhan (kompas.id, 16/2/2023).

Tradisi ritual Reba oleh masyarakat Ngada yang digelar setiap penyambutan tahun baru bukan hanya seremonial sebagai bentuk rasa syukur atas kesejahteraan yang diperoleh dari Tuhan Yang Maha Esa, namun juga merupakan upaya masyarakat Ngada untuk membangun hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Tahapan Pelaksanaan Ritual Reba

Ritual Reba biasanya diselenggarakan pada bentangan bulan Januari hingga Februari, bertepatan dengan musim hujan dan angin.  Tanggal pelaksanaan ditentukan berdasarkan kalender adat yang disebut paki sobhi (tahun sisir) atas petunjuk pemegang adat istiadat atau ‘Mori kepo vesu’ (dikutip dari travel.detik.com, 20/2/2023). Jadi, jadwal untuk pelaksanaan upacara Reba berdasarkan kalender lokal adat, yang waktunya juga tidak selalu tepat dengan kalender Masehi.

Ritual Reba umumnya memiliki tiga tahap utama, yaitu Kobe Dheke, Kobe Dhoi, dan Kobe Su’i.

Pada tahap pertama yaitu Kobe Dheke, semua anggota suku yang berasal dari rumah-rumah adat yang mekar dari rumah induk  (sao dhoro) dan yang mencari hidup di mana saja (Gae kuru nguza nee wae lina) diharapkan datang dan masuk ke dalam rumah induk atau rumah pokok (sa’o pu’u), kecuali berhalangan hadir karena alasan kesehatan atau jauh di perantauan.

Menurut Banilodu (2015), pada malam Kobe Dheke ini, tidak ada agenda evaluatif atau pembicaraan penting di dalam rumah adat. Yang terjadi adalah makan bersama, yang didahului dengan memberi makan nenek moyang (Ti’i Ka Inu Ebu Nusi) karena diyakini pada malam Kobe Dheke semua nenek moyang dalam rumah adat dan suku hadir. Oleh karena itu, tahap ini dianggap sebagai simbol ungkapan syukur kepada Tuhan dan para leluhur dengan memberikan persembahan berupa hewan kurban, beras, dan minuman tradisional.  

Tahap kedua yakni Kobe Dhoi. Tahap ini diawali dengan kegiatan berdendang dan menari keliling kampung (Kelo Ghae Gili Nua), mengajak sanak saudara untuk segera berpakaian adat, keluar dari rumah masing-masing, dan menari “O uwi” bersama-sama di tengah kampong (Banilodu, 2015). Para penari membentuk lingkaran, dan di dalam lingkaran yang terbentuk ada beberapa penyanyi lelaki yang mahir dalam pantun-pantun warisan leluhurnya (Daeng, 1997).

Tahap ini juga ditandai dengan simbol pengangkatan setinggi-tingginya ubi atau uwi disertai teriakan “be uwi” (hai ubi) dan diulangi oleh mereka yang hadir sebanyak tiga kali (Sudjana, dkk., 2022:46) . Pada tahap ini ubi tampil dalam bentuk “koba” (batang menjalar ubi) yang dililitkan pada “sua atau tofa” yang biasanya diletakkan di mataraga atau tempat saklar di dalam rumah induk (Kaka, 2019) .

Tahap ketiga yaitu Kobe Sui atau Su’i uwi, yakni ritual meneguhkan martabat uwi juga mengisahkan tentang ziarah perjalanan leluhur menuju tanah Ngada sekarang (Mawo, dkk., 2021). Tahap ini juga dilengkapi dengan pesan moral atau nasihat-nasihat untuk hidup selaras dengan alam semesta (travel.kompas.com, 18/1/2019).

Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Sang Pencipta

Pada tahap Kobe Dheke, dimana warga Ngada diminta untuk kembali ke rumah induk saat ritual Reba dimulai, tidak hanya memiliki makna harfiah seperti ajakan untuk pulang kampung layaknya orang mudik. Momen ini juga mengusung makna filosofis yaitu suatu bentuk kontemplasi agar masyarakat adat Ngada ingat akan asal usulnya seperti dalam budaya Jawa yang diistilahkan sebagai Sangkan Paraning Dumadi.  

Secara harfiah Kobe Dheke berasal dari kata ‘kobe’ yang berarti malam, dan kata ‘dheke’ yang berarti naik (Bate, 2023).  Ini berarti momen ketika di malam hari, seluruh seluruh anggota keluarga yang pulang ke kampung halaman harus memasuki bagian paling inti rumah adat yang disebut one sa’o.

Namun untuk masuk ke dalam rumah inti atau one sa’o, mereka harus menaiki tangga.  Bagian inti atau one sa’o ini merupakan tempat berlangsungnya ritual adat karena bagian ini terdapat kediaman leluhur orang Ngada.

Oleh karena itu, menapaki tangga menuju bagian one sa’o dapat dimaknai sebagai kembali ke rumah asal, menemui wujud tertinggi masyarakat Ngada, yaitu Sang Pencipta dan para leluhur. Mereka kembali bersama-sama untuk menghormati leluhur asli mereka. Dengan berkumpulnya mereka di dalam rumah induk akan membangun kesadaran bahwa mereka semua berada dalam perlindungan leluhur (Mawo, 2021). Namun sebaliknya, bila mereka melupakan rumah induk, petaka bagi keluarga yang melakukannya akan datang atau diistilahkan dengan “rebho sa’o pu’u” yang artinya lupa rumah induk (Kaka, 2019).

Dengan demikian, masyarakat Ngada tidak hanya memaknai ritual Reba sebagai penyambutan tahun baru dalam kalender etnis Ngada, namun juga terkait dengan penghormatan terhadap arwah para leluhur.

Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Alam

Dalam ritual adat Reba, rasa syukur manusia atas kebaikan Tuhan disimbolkan lewat uwi (ubi tapi bukan singkong). Jadi, menu utama yang dihidangkan selama ritual itu berlangsung adalah uwi atau ubi.

Bagi orang Ngada, uwi (ubi) dianalogikan sebagai makanan kehidupan yang tidak pernah musnah (mediaindonesia.com, 18/2/1028). Uwi bernilai mulia, luhur diagung-agungkan serta bermartabat dalam kehidupan sosial (travel.kompas.com, 18/1/2019).

Uwi atau ubi dulunya tumbuh liar di hutan. Leluhur orang Ngada yang belum mengenal tanaman padi, memanfaatkan ubi tersebut sebagai makanan pokok. Dan untuk mengembara atau merantau, mereka juga mengkonsumsi ubi.  Inilah cara bagaimana nenek moyang orang Ngada bisa bertahan hidup.

Disamping untuk menghormati makanan tradisional yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur Ngada, melestarikan tradisi Uwi Reba juga sebagai bentuk manisfestasi kecerdasan ekologis. Dengan menanam ubi, maka lingkungan akan terjaga karena uwi (ubi) tidak merusak tanah. Dan dengan menggiatkan kembali menanam uwi di seluruh kebun masing-masing di zaman sekarang, juga sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian pangan, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada beras.

Harmonisasi Hubungan Manusia dengan Sesama

 Bentuk harmonisasi hubungan manusia dengan sesamanya dalam ritual Reba terlihat dalam hal berikut.

Pertama, tarian adat “O uwi” selain bermakna ungkapan syukur, juga merupakan merupakan momentum kebersamaan dan persatuan antar warga Ngada. Hal ini seperti yang dituliskan oleh Betu (2023) bahwa tarian “O uwi” merupakan sebuah tarian massal berbentuk lingkaran lambang persekutuan dan persaudaraan.

Kedua, ubi atau uwi sebagai makanan penguat satu-satunya dalam riwayat pengembaraan leluhur orang Ngada, kemudian dipotong-potong dan dibagi-bagikan merupakan simbol kerukunan, persatuan, persaudaraan, dan perdamaian sejati di antara mereka (travel.kompas.com, 18/1/2019).

Ketiga, ritual Su’i uwi yang merupakan bagian dari keseluruhan adat Reba sebagai wujud kebersamaan masyarakat Ngada. Ritual Su’i uwi yang ditandai dengan memotong atau mengiris ubi, juga menyampaikan tuturan lisan agar warga Ngada tidak boleh melupakan tanah kelahirannya, tidak boleh melupakan sanak saudara, dan membina persaudaraan (Mawo, dkk., 2021).

Keempat, Ritual Su’i uwi juga merupakan solusi untuk mendamaikan keluarga yang sedang berselisih dari satu rumah adat. Lewat makan bersama usai ritual pemotongan ubi, harmoni dan kedamaian dapat terwujud. Solusi damai ini berbasis pada prinsip “kita ine le mogo ema le utu” (kita ibunya satu bapanya sama) atau bahwa kita berasal dari turunan yang sama (Kaka, 2019).

Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa tradisi Reba bukan saja bentuk refleksi penghormatan kepada leluhur serta ungkapan syukur, namun juga menanamkan nilai penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia, alam, serta Tuhan sebagai Sang Pencipta. Oleh karena itu, ritual Reba ini harus dipertahankan bagi masyarakat penganutnya agar tidak punah dan tetap lestari. [NI]

DAFTAR PUSTAKA

Ama, Kornelis Kewa. (16 Februari 2023). Reba, Merajut Kembali Kekuatan Hidup Orang Ngada. Diakses dari https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/02/13/reba-merajut-kembali-kekuatan-hidup-orang-ngada-feature

Banilodu, Leonardus. (2015). Reba Orang Ngada: Sebuah Refleksi terhadap Tata Nilai yang Didengar, Diyakini, dan Dijalankan Serta Dikisahkan kepada Anak Cucu.(Makalah untuk Memenuhi Permintaan Panitia Reba Orang Ngada Tahun 2015 dari Kecamatan Bajawa, Kupang). Diakses dari https://docplayer.info/57302655-Reba-orang-ngada-sebuah-refleksi-terhadap-tata-nilai-yang-didengar-diyakini-dan-dijalankan-serta-dikisahkan-kepada-anak-cucu.html

Bate, Maria Arianti. (2023). Menggali Makna Perayaan Reba bagi Kehidupan Iman Umat di Lingkungan Gurusina. JAPB: Jurnal Agama, Pendidikan, dan Budaya, 4(1), 23-36.

Betu, Silverius. Pata Dela: Identitas Budaya dalam Mendukung Toleransi dan Kerukunan antar Umat Beragama. JKPM: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio, 15(1), 9.

Daeng, Hans J. (1997). Reba, Tahun Baru Adat Orang Bajawa. Jurnal Humaniora IV, 22-25.

Kaka, Pelipus Wungo. (2019). Makna Simbolik dalam Bahasa Ritual Reba pada Masyarakat Luba Desa Tiworiwu Kecamatan Jerebuu Kabupaten Ngada. Ejurnal Imedtech, 3(2), 41-44.

Kanaka, Weka. (20 Februari 2023). Mengenal Pesta Adat Reba dari Masyarakat Ngada. Diakses dari https://travel.detik.com/travel-news/d-6577824/mengenal-pesta-adat-reba-dari-masyarakat-ngada

Makur, Markus & I Made Asdhiana. (18 Januari 2019). Reba Ngada, Tradisi Menghormati Makanan Tradisional Uwi. Diakses dari https://travel.kompas.com/read/2019/01/18/102200027/reba-ngada-tradisi-menghormati-makanan-tradisional-uwi?page=all

Mangunjaya, Fachruddin Majeri. 2015. Mempertahankan Keseimbangan: Perubahan Iklim, Keanekaragaman Hayati, Pembangunan Berkelanjutan dan Etika Agama. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Marzuqi, Abdillah M. (18 Februari 2018). Menghormati Ubi sebagai Makanan Kehidupan. Diakses dari https://mediaindonesia.com/weekend/145720/menghormati-ubi-sebagai-makanan-kehidupan

Mawo, Yoakim Rianto, dkk. (2021). Nilai dan Makna Ritual Su’I Uwi pada Upacara Adat Reba Masyarakat Bosiko Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada (Kajian Historis dan Sosiologis). Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi, 3(2), 1-12.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini