Beranda Info & Event NI Zoominar Series-Refleksi Kebudayaan & Spiritualitas Nusantara

NI Zoominar Series-Refleksi Kebudayaan & Spiritualitas Nusantara

347

Kehidupan budaya nenek moyang bangsa Indonesia “terekam” dalam berbagai manuskrip kuno. Naskah tua ini hampir tersebar di seluruh Nusantara. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia kuno adalah negara yang sudah memiliki budaya tertulis, bahkan dapat mengungkapkan segala gagasan, pemikiran dan konsepnya dalam bentuk tulisan.

Artefak budaya tertulis dimuat dalam media yang terbuat dari batu, daun lontar, daun lontar,  ambu, rotan, kulit kayu, logam, kain dan kertas Daluwang. Sayangnya, iklim, kelembaban, hewan pengerat yang tidak menguntungkan, dan mereka yang tidak menghargai warisan berharga ini telah menyebabkan kerusakan, hilangnya, dan bahkan kepunahan manuskrip-manuskrip lama.

Sebelum berkembangnya budaya spritualitas di Indonesia, ada budaya lisan  yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sisa budaya lisan ini masih dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, nenek moyang menciptakan simbol sederhana untuk komunikasi, yang kemudian secara bertahap berkembang menjadi budaya baca dan tulis. Ketika budaya baca tulis mulai berkembang, simbol-simbol tersebut akhirnya menjadi bentuk tulisan, dan kemudian berbagai bentuk tulisan Nusantara dihasilkan dalam proses interaksi budaya yang intensif pada periode berikutnya.

***

Mulai tahun 2021 ini, karena pandemi Covid-19, Nusantara Institute mengadakan program “Zoominar Series”, yakni menggelar serangkaian acara diskusi berseri yang diadakan secara virtual melalui Zoom. Topik pertama Zoominar series yang kami angkat adalah “Refleksi Kebudayaan & Spiritualitas Nusantara.”

Pengangkatan topik ini, menurut Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby, dimaksudkan untuk merefleksikan situasi terkini (sekaligus prediksi di masa depan) kebudayaan dan spiritualitas lokal Nusantara di tengah arus deras serbuan globalisasi, modernisasi, dan agamaisasi yang dalam banyak hal tidak ramah dengan budaya dan spiritualitas lokal.

Meski diadakan secara virtual, acara diskusi tetap berjalan lancar dan diikuti secara antusias baik oleh audiens maupun narasumber. Gelaran dialog Zoominar kali ini dilaksanakan pada Sabtu (16/01) dengan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain, KGPH Dipokusumo (Keraton Surakarta Hadiningrat), Ida Rsi Wisesanatha (Pandita & Ketua Forum Studi Majapahit), Ida Widyastuti (Pendiri Paguyuban Hening Sambung Rasa). Diskusi ini dimoderatori oleh Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby.

***

KGPH Dipokusuma (Gusti Dipo) mengutarakan “Bani Jawi” masa kini. Asal usul manusia adalah sangkan paraning dumadi dan dumadining sangkan paran. Baginya budaya, merupakan kuasa sang maha pencipta tidak bisa dibayangkan oleh manusia.

“Falsafah “Siji Sawiji Muladne Dadi Amencar Angebaki Jagad Kasamatan Dening Dzat’e”. Bisa memberikan dan menciptakan hal termasuk di dunia ini. Satu sama lain nama-nama dan sebagainya. Asal mula kehidupan sebab dari segala faktor-faktor yang memberikan kehidupan,” tuturnya.

Di Indonesia, menurutnya, bentuk kehidupan budaya hingga kerajaan bisa dilacak peninggalan budaya dan NKRI karena kesepakatan raja-raja Nusantara. Usul Sultan Hamengkubuwono XII diikuti oleh seluruh kerajaan di Nusantara. Bahwa kehidupan ini dijaga dan dikelola mendapatkan manfaat yang berkesinambungan dan berkembang. Kemudian harus menciptakan persoalan seperti wayang.

Ia menambahkan, 10 hal dijadikan kearifan lokal berupa peristiwa eka bumi (gempa bumi), dwi sawah  (sumber makanan), tri gunung  (recovery gunung), catur segara (bencana laut), panca tanam (deforestasi), sat pangonan (terjadi penyakit),  sapta pandita (orang pandai dapat menimbulkan persoalan), hasta tawang  (global warming), nawa dewa (keyakinan agama), serta dasa rato (sumber sang maha pencipta atau teokratis)

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merefleksikan kebudayaan yang terjadi saat wabah Covid-19 berupa sat pangonan  (selain manusia) seperti kutu-kutu walang. Kondisi saat ini, mampu dihadapi  dengan sedekah bumi, doa bersama, sarasehan, tirakat agar bisa hamimasuh malaning budi.

“(Wabah ini mengajak) untuk menghilangkan “aku” untuk  menemukan “sang aku’. Jangan mencoba melarang “berpuasa” yang menjadi alasan terlalu banyak makanan. Hal ini berbeda dengan yang lain sulit mencari makanan untuk menghidupi kebutuhan. Agar segala sesuatu di segala bidang pengertian pengertian yang negatif berupa penyakit hati,” tambahnya.

Peningkatan nilai-nilai spritual melalui kebudayaan untuk memandang Tuhan ada dan hadir. Ia merujuk pada kridhaning atu dhatan bisa mbedah kuthaning pepesten (Segala upaya tidak akan bisa merubah ketentuan takdir yang maha kuasa/ maha penentu. Budi dayaning manungsa tan bisa ngungkuli garising Kang Maha Kuasa (Ikhtiar yang dilakukan tidak akan melebihi garis ketuhanan), serta jalma tan kena kinira (Nasib kehidupan manusia sesungguhnya tidak bisa diperkirakan).

Sementara itu, Ida Rsi Wisesanatha memaparkan refleksi spiritualitas dan kebudayaan Nusantara dalam perspektif transisi peradaban.  Parade peralihan dari “kali yuga” ke “kerta yuga” sebagai gambaran Sabda Palon Nagih Janji. Bencana covid-19 menjadi alarm alam sebagai kode perubahan sosial, budaya dan politik berupa proses dekonstruksi zaman. Fakta demikian  memengaruhi setiap individu untuk terlibat Mulat Sarira. Ida Rsi menaruh harapan untuk melakukan perenungan ke dalam guna menemukan kehakikian.

“(Era) pandemi memberikan waktu luang untuk itu. Menyadarkan diri bahwa situasi ini memunculkan banyak tantangan baru yang muncul bertujuan merevolusi diri  ke arah kemajuan. Membentuk diri guna menemukan jati diri, bertobat, membersihkan diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui perilaku yang mengajak pada keadamaian, penuh kasih, keceriaan kepada semua manusia dengan keragaman,” ungkapnya.

Usaha-usaha solutif juga harus digerakkan oleh pemimpin yang bekerja dengan efektif berdasarkan konstitusional. Beradaptasi pada perubahan melalui cara informal proakatif terhadap perubahan zaman. Kebutuhan untuk reedukasi sesuai dengan zaman berupa logika lateral, holistik serta implementasi menggunakan fakta-fakta hakiki kehidupan yang beragam.  Tujuannya agar manusia menjadi sejati memengaruhi alam ini.

Kemudian Ida Widyastuti mengenalkan komunitas yang ia dirikan, Paguyuban Hening Sambung Rasa, kepada peserta zoominar. Perkumpulan yang telah tersebar secara nasional dan internasional mengajak untuk melakukan meditasi untuk menyatukan diri dengan Tuhan agar menyelaraskan apa  yang kita inginkan. Ia menambahkan, kegiatan untuk mengingatkan pada para leluhur Nusantara dan pahlawan. Metode meditasi ini dipilih sebagai bentuk keprihatinan banyak generasi muda yang makin fanatik dan mengklaim golongan paling benar. Baginya, kita tidak bisa lepas dari leluhur yang mengumpulkan keturunan agar selalu berdoa bersama. Spritualitas yang mengenalkan kearifan lokal dari meditasi merupakan “image” dari Nusantara.

“(Paguyuban Hening Sambung Rasa) melakukn kegiatan  setiap malam jumat. Maka tali sambung rasa para kepada semua calon anggota. Untuk menjangkau untuk menjaga pribadi yang berkesadarandisinggung oleh melalui hening diri. Guna mencapai “Yang ada hanyalah aku “manungaling kawula gusti,” jelasnya.

Proses di Paguyuban Hening Sambung Rasa tentang penyatuan diri sendiri dengan alam sebagai upaya berupa sambung rasa “hening” ke alam. Tak sekadar itu, komunitas ini juga melakukan gerakan perekonomian antar anggota untuk saling promosi. Sehingga berspritual sekaligu kehidupan ekonomi terbantu dipromosikan anggota lainnya.

“Kita berbicara keseimbangan antara spiritual dan perekonomian, sekaligus merobohkan stigma negatif  tentang meditasi. Pada saat berbicara spiritual di Nusantara seringkali peyoratif karena erat dengan dunia paranormal. Perlahan, lokalitas meditasi harus dibumikan dan dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa melihat latar belakangnya,” ungkapnya.

***

Di akhir acara, Sumanto Al Qurtuby mengungkapkan, ke depan Nusantara Institute akan berusaha untuk terus menghelat forum-forum dialog budaya, baik online maupun offline, demi eksistensi kebudayaan lokal yang sangat penting bagi pembangunan karakter bangsa. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Bank Central Asia yang memiliki komitmen kuat untuk terus mendukung upaya pelestarian kebudayaan luhur warisan leluhur Bangsa Indonesia (Fadli Rais).