Beranda Publikasi Kolom Panorama Musik dalam Tradisi Sufi

Panorama Musik dalam Tradisi Sufi

723
Ilustrasi Gambar dari Persische Sufi Musik - ein moderiertes Konzert mit Maryam Hatef & Mohsen Taherzadeh
Ilustrasi Gambar dari Persische Sufi Musik - ein moderiertes Konzert mit Maryam Hatef & Mohsen Taherzadeh

Sunarto (Pengajar Musikologi dan Filsafat pada Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang)

Dunia etnomusikologi di Barat tidak membatasi diri pada hal-hal di seputar lingkungannya sendiri, mesikpun kini ada kecenderungan untuk mengambil objek penelitian etnomusikologis di wilayahnya sendiri. Sebagai contoh pemahaman tentang tradisi musik musik sufi, yang berasal dari Timur Tengah (Middle East). Musik sufi merupakan wilayah studi etnomusikologi.

Studi musik sufi berkembang searah perkembangan etnomusikologi (dari) Barat. Upaya untuk menemukan berbagai alur pengaruh musik sufi (masih) perlu dilakukan baik hal itu untuk menciptakaan kesadaran historis maupun untuk memenuhi salah satu syarat keilmuan bahwa setiap bidang ilmu perlu memiliki deskripsi kesejarahan guna mengungkapkan tahap-tahap perkembangan pemikiran ilmiah di bidang itu.

Tradisi Sufi

Harafiahnya kata “Sufi” diartikan sebagai mereka yang mengenakan pakaian dari bahan bulu domba yang kasar, yang dipakai oleh para dervish, pertapa yang hidup dengan memilih kemiskinan bagi pengabdian mereka bagi agama di lingkungan masyarakat Islam di Timur Tengah termasuk Afrika Utara, yang lazim disebut: marabout, terutama di Maroko.

Sufisme (Arab: tasawwuf) adalah istilah payung yang diterapkan pada praktik mistik yang berkembang di luar kewajiban Islam normal, baik di dalam maupun di luar Ordo Sufi yang terorganisir (tarīqa). Geertz menyebutkan bahwa para marabout itu adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dan pimpinan persaudaraan Sufi (Sufi brotherhood). Tradisi Sufi ini terdapat juga di Turki, India, dan Pakistan.

Tradisi Sufi menyangkut kepenyairan, tari, dan musik ritual. Di Indonesia di antara ketiga hal itu kepenyairan sajalah yang lebih dikenal. Di antara para pendiri tradisi Sufi sebagai sebagai mistik Islam terdapat beberapa nama, seperti: Al-Ghazali, Ibn Al-Arabi, Abdul Qadir, Sana’i dari Ghazna, Muhammad Iqbal, Omar Khayyam, Kabir, Jalalu’d-Din Rumi, Talib, Attar, Hafiz, dan Jami. Mereka ini adalah para penyair religius dalam Islam.

Tradisi kepenyairan di kalangan Sufi mula-mula timbul dari kebutuhan para Sufi untuk menghafalkan dan mengulang-ulang bagi diri sendiri delapan belas pertama bait-bait Surah (bab) 53 dalam Kitab Suci Al-Qur’an tentang “Perjalanan Malam Nabi” (Isra’ Miraj), dan bab ini merupakan bab yang paling dihormati oleh kaum Sufi dalam tradisi mistik Islam. Dalam hubugan ini mereka berharap dapat terbawa ke lingkungan Illahi (the Divine realms).

Dilihat dari tradisi musiknya, jumlah nama para pemimpin Sufi itu mungkin dapat bertambah; di Turki, misalnya: 1) Mevlana, yang di abad ke-13 telah mendirikan Tarekat Mwelewi; 2) Sidi Abdulsalam Al Asmar yang meninggal tahun 981 di Tripoli, sebagai pendiri Tarekat Awliya di Tunisia; 3) Al-Bcheich Mulai At-Taieb yang mendirikan Tarekat At-Taibia di Maroko; 4) Khawaja Hazrat Mueenuddin Chishti dari Tarekat Chishtia di India; 5) Hadschi Bektasch, pendiri Tarekat Sufi Bektaschi dari Propinsi Chorassan di Turki; dan 6) Syrer Abu Hashim, pendiri kaum Faqir sebagai kaum Sufi di Pakistan pada tahun 780 Masehi.

Benang Merah dalam Tradisi Musik

Sebagai hasil dari kontroversi doktrin tentang status hukum musik, musik Sufi awal dihindari lagu sekuler dan digunakan hanya, seruling (reed-pipa) dan rebana (frame drum). Dalam banyak tradisi, Rebana (frame drum, duff, tār, mizhār, dāire) tetap merupakan instrumen tunggal yang digunakan dalam ritual komunal. Dari masa awal, vokalisasi nama Allah (dzikir) menjadi penting .

Gerakan ekstatik dari tubuh diakui sebagai ekspresi emosi spontan yang disebabkan oleh pengalaman Ilahi, dan gerakan kepala dan lengan, kadang dikombinasikan dengan langkah sederhana, menjadi dimasukkan ke dalam ritual Sufi. Ordo Mevlevi adalah yang pertama untuk membuat tarian sama pentingnya dengan zikir. Dari abad ke-14 perintah lain mengadopsi tarian, seperti yang digambarkan dalam lukisan miniatur Persia. Di Suriah tarian Samāh disertai dengan ayat metrik mūwashshah klasik.

Dari abad ke-16, penggunaan alat musik dan tarian ditinggalkan atau dilarang dalam perintah Sufi Syiah. Musik Sufi berkembang di dalam Kekaisaran Ottoman. Dari abad ke-15 sampai abad ke-17, tarekat Mevlevi, Rifā’ī, dan Qādirī, mendapat pengakuan yang kuat dan pengaruh politik sehingga mereka mampu mengembangkan musik mereka sendiri. Hal ini sangat dipengaruhi oleh musik seni sekuler, yang pada gilirannya mempengaruhinya. Tarekat Chishtī di Asia Selatan adalah signifikan dalam pengakuan atas penggunaan alat musik sebagaimana berlaku dalam konteks umum.

Ritual diadakan di Pondok Sufi atau kuil orang kudus, secara mingguan dan sesekali, dengan tujuan untuk mencapai persatuan dengan Allah SWT. Mereka biasanya berdzikir. Berbagai Ordo Sufi mengenali “rantai” spiritual dari penularan melalui para pemimpin pria; perempuan sebagian besar dikecualikan, meskipun ada banyak perintah “saudari” di Mesir. Dalam suku Uighur di China dan Turkestan di 1989 ritual mingguan (Zekr) dilakukan oleh seratus perempuan dan didokumentasikan tanpa banyak persetujuan dari suami.

Tradisi musik seni Timur Tengah dan Asia Tengah (ke berbagai variasi) dijiakan dengan konsep Sufi dari audisi spiritual, seperti yang tercermin dalam penggunaan teks lagu mistis dan tanggapan penonton yang khidmat. Etos dan instrumentasi Sūfiāna kalām dari Kashmir juga menunjukkan hubungan ini. Perbendaharaan ma’lūf Tunisia dikaitkan dengan tradisi Arab-Andalusia yang diawetkan dalam pondok Sufi. Puisi Sufi panjang dalam bahasa Persia, Mathnawī-i  karya Jalāl Al-Dīn Rūmī, telah disebarkan oleh spesialis Mathnawī-Singers. Melodinya ditemukan dalam bagian vokal utama dari beberapa dastgāhs modern seni musik Persia (khususnya avāz-e Afshārī).

Di luar Ordo yang terorganisir, musik memiliki tempat penting dalam kelompok tertentu yang memisahkan diri dari Islam. Menghindari larangan dari kaum ortodoks, mereka mampu menumbuhkan musik sebagai ekspresi emosi yang saleh, mengembangkan dan mempertahankan bentuk musik yang tidak lagi ditemukan di tempat lain. Gerakan Bektaşi yang didirikan oleh Hajji Bektaş (wafat 1338) ditampung di dalam Kerajaan Utsmaniyah sebagai Ordo Sufi, tetapi keyakinannya adalah heterodoks, berkaitan erat dengan Alevis dan juga kepada sekte Ahl-e Haqq.

Bruno Nettl menyatakan bahwa suatu wilayah dari Asia Barat dan Afrika Utara yang budaya musiknya didominasi oleh bangsa-bangsa yang berbahasa Arab-Islami, Persia, dan Turmi dan terbangun dari suatu sistem tunggal meski heterogin yang mencakup musik liturgis, klasik, musik, rakyat, dan musik pop modern disebut Timur Dekat (Near East) dan Tengah. Yang dimaksud dengan sistem tunggal di sini adalah organisasi melodik yang mengikuti suatu sistem moda-moda (modes dalam Bahasa Inggris), umumnya dan Bahasa Arab disebut maqam, tetapi juga makam dalam Bahasa Turki, dastagh dan gusheh dalam Bahasa Persia.

Makam dalam Bahasa Turki, yang jamaknya adalah mamkamlar, dan Arabnya: maqam, menurut Oransay adalah “aturan-aturan komposisi”. Aturan-aturan itu adalah skala-skala yang sudah pasti yang diatur oleh aturan-aturan tertentu; aturan-aturan ini menyangkut ciri-ciri seperti alur melodik yang naik dan menurun, nada-nada pembuka dan final, rentang nada-nada dan nada-nada yang menonjol.

Selanjutnya Oransay menjelaskan sebuah makam tidak memiliki nilai intrinsik (alegoris) dan tak terikat pada saat-saat dalam hari atau tahun, seperti yang terdapat dalam raga dalam musik India. Nama-nama makam, yang kebanyakan juga dipakai oleh orang-orang Arab dan Persia, menandai sebuah nada dalam oktaf, misalnya gargah: posisi ke-41, atau misalnya nama sebuah kota, misalnya Esfahan, suatu lanskap, misalnya suatu bangsa, misalnya Kurdi atau suatu abstraksi puitik, misalnya suzidil, yang artinya: “kegemerlapan hati”.

Umumnya semua bentuk musik dan ritme-ritme mungkin bagi setiap makam. Pentingnya makam dalam musik seni Turki begitu besarnya, sehingga komposisi-komposisi selalu dinamakan dan digolongkan pertama-tama oleh makam-nya. Daerah yang etnomusikologis dinamakan Timur Dekat dan Timur Tengah memiliki daerah pinggiran dalam tradisi musik bersistem modal, maqam: Afganistan, Asia Tengah bekas wilayah Soviet, dan Kaukasus.

Namun studi yang kemudian dilakukan oleh Jurgen Elsner (1988) dengan mengambil bahan-bahan dari Kelompok Studi “magam” dari ICTM (International Council for Traditional Music) di Berlin menunjukkan bahwa prinsip maqam sebagai suatu tipe pemikiran dan artikulasi musikal tersebar luas dan jelas-jelas memiliki suatu tradisi yang sangat lama, sedikitnya prinsip itu berasal dari jaman kuna.

Prinsip ini ada dalam lagu-lagu sederhana tertentu para nomad dan penggembala, misalnya di kalangan orang Swehil di Irak dan Aiyai di Aljir, atau hojekenya di Ukraina dan halekanie di Slovakia, dan lain sebagainya, tetapi juga ada di sementara nyanyian ritual, di beberapa lagu kanak-kanak.

Seperti halnya Nettl menyebut watak heterogin dalam sistem moda yang tersebut, Elsner menyebutkan adanya diversitas pada sementara fenomena di dalam budaya-budaya musik yang berbeda yang berhubungan dengan penamaan-penamaan seperti maqam, dastagah, tab, raga, patet, ban, dan sebagainya, sesungguhnya serupa dan berkaitan. Apa yang diperlihatkan oleh Nettl di bawah ini menunjukkan tetracord bawah dari delapan kelompok utama, yang consituent maqamat-nya dipilah-pilah tetracord atas.

Nezih Uzel menyatakan bahwa makam adalah suatu prinpip improvisasi musikal. Tradisi improvisasi juga dikenal dalam musik India, Timur Tengah, dan Afrika dalam konteks benang merah dalam tradisi-tradisi musik dalam tulisan ini. Dalam musik Arab dan Turki, genre instrumental yang pokok adalah taqsim (taksim dalam Bahasa Turki), yang non-metrik tetapi kadang-kadang dengan denyut. Tugas si improvisator adalah pengembangon motif-motif dan modulasi dari sebuah maqam pokok, model untuk isi tonal dan motif-motif melodik, ke maqam sekunder.

Dalam banyak musik Asia Selatan dan Asia Barat, improvisasi menyangkut penggunaan sebuah motif melodik yang dapat mengalami pengulangan, variasi sederhana, perluasan, pengerutan, rangkaian melodik, dan sebagainya. Musik gamelan di Jawa dan Bali mencakup improvisasi kelompok dengan kesehihan tinggi (great sophistication), dengan banyak instrumen-instrumen ansanbel yang beranjak dalam beberapa cara khas dari suatu model yang dikomposisi, yang menghasilkan variasi-variasi simultan dalam heterofoni.

Musik Mewlewi

Membahas tentang musik sufi tidak dapat lepas dari eksistensi Tarekat Mewlewi, dengan Jalaluddin Rumi sebagai tokohnya. Musik Mewlewi merupakan suatu bagian dari musik religius Turki, yang di pihaknya bergema musik klasik Turki. Musik religius Turki mempunyai dua cabang utama. Pertama, musik dari Masjid; kedua, musik mistik, dan di sini terhitung pula Musik Mewlewi.

Upacara-upacara dalam Tarekat Mewlewi berupa struktur-struktur yang dikomposisi dengan cermat. Upacara-upacara ini terbagi dalam empat bagian masing-masing bagian ditandai dengan “Selam” (Penghormatan). Selam-selam itu sama-sama berjalinan lewat nyanyian. Dalam Selam yang pertama dan kedua dinyanyikan bagian-bagian dari Mevlana Devan-i Kebir atau Mathnawi, dalam Selam ketiga dapat dinyanyikan pula sanjak dari penyair Mewlewi lainnya.

Tentang musik Mewlewi di masa hidupnya Mevlana di abad ke-13 di Konya tidak banyak yang dapat kita ketahui. Musik ini oleh Ismail Hakki dari Bursa disebut “Musik konsentrasi”. Dalam kronik-kronik di jeman Mevlana hanya dapat diketahui nama-nama dan informasi tentang mereka. Dalam Mathnawi, karya utamanya yang besar (25.700 bait sanjak) Mevlana mengkaji problem perlambangan.

Puisi-puisi Mevlana dapat dipahami juga dari beberapa teknik musikalnya. Musik itu terkenal selama berabad-abad dan disempurnakan dengan tetap. Di dalamnya ritme dan nada berimbang; Melodinya mendukung keduanya. Dari kerjasama ketiga unsurnya: ritme, vokal dan melodi, lahirlah sebuah musik monoton yang menjadi tujuan dasar musik Mewlewi.

Dalam alur-alur musiknya ritme dan vokal harus saling berhubungan, namun keduanya secara prinsip mandiri. Instrumen ritmisnya dapat dengan cara yang sama menciptakan musiknya sendiri seperti vokalnya berlaku demikian. Melodinya menyatukan keduanya ke dalam suatu kulit luar. Musik monoton ini mengikat perhatian manusia dan menuntun mereka ke meditasi.

Musik mistik Tarekat Mewlewi mengenal gaya-gaya berlainan yang segar. Pimpinan musik itu umumnya adalah Kudumzenbashi, pemukul genderang utama. Ia bertanggungjawab bagi kelancaran musiknya, dan memutuskan apakah musik itu akan harus dimainkan dengan cepat atau lambat. Ia sendirilah yang memastikan keadaan antara musik dan tarian, namun suasana mistis dalam ruang upacara itu mempengaruhi keputusan itu.

Jika suasna di ruang itu terasa khidmat dan Kudumzenbashi merasakannya, ia akan membiarkan pengaruh ini menjiwai musiknya. Di bawah ini diperlihatkan pola-pola pukulan pada nakkare (sepasang genderang kecil) atau kudum dalam sistem iqa yang memiliki berbagai variasi ritmik dari yang betul-betul metrik dengan ostinato ritmik melalui ritme bebas dengan unsur-unsur metrik hingga ke pola yang sepenuhnya non-metrik.

Upacara ritual Mewlewi terdiri dari dua bagian. Pertama, terdiri dari Naat (sebuah puisi untuk memuji Nabi Muhammad SAW). Kedua, Taksim, yaitu improvisi dengan ney (seruling) dan “Siklus Sultan Veled”. Naat adalah suatu bentuk musik relijius. Naat dalam musik Mewlewi telah dikomposisi oleh Buhuriz Mustafa Itri (1640-1712) ber-maqam Rast, yang dipandang sebagai dasar teori musik Turki; sanjaknya oleh Mevlana.

Taksim adalah bagian paling menentukan dari upacara ritual Mewlewi. Setiap upacara dinamakan menurut makam yang digunakan untuk komposisi yang akan dimainkan. Neyzenbashi, pemain utama seruling memainkan suatu improvisasi panjang (Taksim) bagi setiap makam. Kadang-kadang ini membiarkan improvisasi ini dilakukan oleh salah seorang pemain seruling yang lain. “Siklus Sultan Veled” sebagai bagian upacara yang pertama adalah sumbangan dari anak Celaledin Rumi atau Mevlana, yang bernama Sultan Veled (1226-1312).

Dalam acara muncullah pars dervish (mistisi), yang kemudian tampil dalam tarian  pusaran. Ini dilakukan oleh mereka dalam Semahane, ruang upacara dengan berputar bolak-balik tiga kali dan saling menghormat antara sesama dervish penari di depan sheikh, syekh. Dengan cara ini mereka saling “menjalankan” “misteri (-misteri)”. Untuk maksud itu sebuah musik, bernama peshrev, dimainkan. Peshrev ialah sebuah bentuk musik terkenal; biasanya bentuk musik ini terdiri dari empat bagian dengan pola-pola ritmis yang panjang dan dengan pementasan itu musik klasik (Turki) mulai dimainkan.

Musik pesrev, seperti halnya saz zemai, sebagai musik instrumental kuna, yang hingga kini masih bertahan terus dianggap orang berasal dari Sultan Veled. Upacara berlangsung terus, dan musik pesrev yang tidak hanya sebuah itu kadang-kadang berasal dari para komposer yang ikut serta dalam upacara ritual itu. Sesudah musik ini berakhir, maka “Siklus Sultan Veled” pun berakhir dengan suatu improvisasi seruling, yang panjang. Kemudian, mulailah bagian kedua dari upacara ritual ini.

Upacara ritual bagian kedua terdiri dari empat Selam (penghormatan), yaitu:

  • Selam pertama memakai melodi yang biasanya panjang; ritme yang dipakai adalah 14/8 dan bernama Devr-i Revan, “ritme sedang berjalan”. Kadang digunakan pola ritme: du-yek, dua-ke-satu.
  • Selam kedua, pola ritme selam ini disebut “Evfer” dengan pola ketukan 9/8. Pola ini nanti akan muncul kembali di tahap Selam ke-empat.
  • Selam ketiga, terpecah menjadi dua bagian dengan melodi dan ritme. Siklus di bagian pertama bernama siklus, namun itu berbeda dari melodi dan ritme dalam “Siklus Sultan Veled”. Harga hitungannya adalah 28/4. Bagian kedua dari Selam ketiga ini disajikan dengan musik yoruk semai dengan ketukan 6/8. Antara kedua bagian ini ada aksak semai, ritme penghubung yang dikomposisi dari ketukan 10/8. Bagian tercepat dari upacara Mewlewi ini adalah bagian terakhir dari Selam ketiga.58 Ritme waltz (6/8) di bagian ini memberi kesempatan pada komposernya ruang bermain lebih banyak. Penggelaran bagian ini menawarkan kesempatan untuk mengalami dan mengungkapkan kegembiraan mistis tertinggi. Di sini sensasi mistis telah mencapai puncak dan berubah ke ekstrase. Ikatan antara semazen, para mistik dengan rekan musisi pengiringnya telah sempurna.
  • Selam ke-empat. Pola ritmenya di sini kembali pada pola “Evfer”, 9/8. Ritme “Evfer” ini lambat dan lama; sekarang ekstase itu menjadi menurun. Orang, yang selama ketukan 6/8 itu mengalami trans (trance), kerasukan mulai berkumpul kembali.

Dengan keempat Selam ini berakhirlah bagian vokalnya. Dalam acara ini, seperti dapat dilihat di Bagian Dokumentasi Internationales Institut fur Vergleichende Musikstudien, Berlin, yang pernah mengadakan Festival Musik Tradisional, khusus untuk Musik Sufi pada tahun 1981, para pelaku vokalnya terdiri dari lima orang, musisi tiup: dua orang sebagai peniup seruling berlubang peniup di ujung, ney, tiga orang pemain instrumen gesek, kemenge, dua orang pemain sepasang gendang kecil bersisi satu atau naqqarah, dan seorang pemain cymbal. Instrumen lain yang juga sering dipakai, adalah: rebab dan qanun.

Penutup

Musik sufi, terlepas dari berbagai pertentangan, merupakan salah satu kekayaan dalam budaya Islam. Peran musik sufi dalam kebudayaan Islam telah memberikan warna estetis yang masih eksis sampai saat ini, walau perkembangannya tidak semeriah pada era Tarekat Mewlewi, dengan Jalaluddin Rumi sebagai pionirnya. Wacana estetis ini telah memberikan nuansa unik, yang kemungkian tidak ditemukan di kebudayaan lain. Musik sufi lahir dan hadir sebagai sebuah manisfestasi spirit keagamaan lewat jalur estetika. Estetika musik dipakai oleh kaum sufi sebagai sarana membantu dalam pencapaian “pertemuan dengan yang Ilahi”. [NI]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here