Beranda Publikasi Kolom Ornamen Motif Prambanan: Sebuah Identitas yang Tak Dikenal

Ornamen Motif Prambanan: Sebuah Identitas yang Tak Dikenal

648

Oleh: Riza Istanto (pemerhati seni rupa percandian, alumni Pascasarjana Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang)

Sejauh ini, Candi Prambanan dikenal dengan identitas candi Hindu terbesar di Indonesia melalui bentuk dan struktur candinya yang menjulang tinggi. Namun, jauh sebelum identitas itu melekat pada Candi Prambanan, nenek moyang pencipta Candi Prambanan telah lama menciptakan identitas Candi Prambanan ke dalam sebuah pahatan khas yang sering kali para arkeolog menyebutnya “Motif Prambanan”.

Menariknya, meskipun oleh UNESCO candi ini disebut sebagai warisan budaya bangsa Indonesia serta dinobatkan sebagai candi Hindu terindah di Asia Tenggara, identitas tersebut tidak dikenali, bahkan oleh pewaris Candi Prambanan itu sendiri.

Candi Prambanan Selayang Pandang

Candi Prambanan atau candi Lara Jonggrang merupakan kompleks percandian Hindu terbesar di Indonesia yang terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Penamaan candi ini mengacu pada letaknya di wilayah Kecamatan Prambanan. Adapun nama Lara Jonggrang berkaitan dengan legenda atau cerita rakyat yang menyelimuti candi ini.

Kompleks candi Prambanan memiliki tiga halaman atau pelataran, dan candi utama terletak pada halaman ketiga yang merupakan halaman tengah. Di halaman tengah ini terdapat dua deret candi berjajar dari utara ke selatan. Deret pertama sisi barat merupakan Candi Trimurti, yaitu Candi Siwa di tengah sebagai candi induk, diapit oleh Candi Wisnu sebelah utara, dan Candi Brahma sebelah selatan. Deret kedua sisi sebelah timur terdapat tiga buah Candi Wahana, yaitu Candi Nandi di depan Candi Siwa, Candi A di depan Candi Brahma, dan Candi B di depan Candi Wisnu.

Keberadaan Ornamen Motif Prambanan

Ornamen Motif  Prambanan merupakan sebutan untuk pahatan singa yang diapit oleh relief Kalpataru pada kanan dan kirinya. Relief tersebut ditempatkan pada dinding atas kaki ketiga Candi Trimurti Prambanan (Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu), serta tiga Candi Wahana yang terletak di depannya (Candi A, Candi Nandi, dan Candi B) dengan jumlah keseluruhan mencapai 135 motif dan bentuknya sendiri bervariasi.

Cara demikian merupakan khas Prambanan yang oleh para ahli disebut sebagai “Motif Prambanan” karena cara penggambaran dan penempatan reliefnya tidak ditemukan pada candi manapun di Indonesia. Sejumlah arkeolog telah menyinggung keberadaan motif ini seperti Van Erp (1909), Krom (1923), Ratnawati (1989), Soekmono (1973), Moertjipto (1994), Jordaan (1996), serta penampakan secara visual oleh Istanto (2017).

Gambar 1. Pola Motif Prambanan di Candi Trimurti (Sumber Gambar: Foto Penulis)

Gambar 2. Pola Motif Prambanan di Candi Wahana (Sumber Gambar: Foto Penulis)

Ukuran perbingkaian Motif Prambanan bervariasi. Pada candi-candi Trimurti perbingkaian ornamen Motif Prambanan lebih besar apabila dibandingkan dengan Motif Prambanan di candi-candi Wahana. Hal tersebut dipengaruhi oleh tinggi pilar kaki masing-masing candi. Apabila pilarnya sempit, bingkainya kecil dan melebar ke samping, sedangkan apabila pilarnya lebar maka bingkainya lebih besar dan memanjang ke atas. Hal ini berpengaruh juga terhadap variasi perbentukan dari ornamen Motif Prambanan.

Satu Motif Prambanan terdiri atas relung berisikan pahatan singa dalam posisi duduk diapit oleh dua relief Kalpataru pada kanan dan kirinya. Pahatan singa ditempatkan dalam relung ruang penampil yang dibingkai oleh hiasan Kala-Makara. Unsur Kalpataru yang mengapit pahatan singa pada kanan dan kirin pahatan singa dibingkai dengan hiasan ceplok bunga dan pola ikal ganda yang menyerupai angka delapan.

Motif singa pada Motif Prambanan digambarkan berbentuk patung frontal dalam posisi duduk dengan kedua kaki depan berdiri kaku dan kedua kaki belakang seolah ditekuk dalam posisi duduk. Muka singa digambarkan tegak menghadap ke depan, mulutnya menyeringai, dan kedua mata melotot sehingga tampak garang.

Penggambaran singa seperti itu termasuk dalam tipe Jagarata yaitu wajah angkuh dan buas (Mattarupina) serta sikap duduk dengan telapak kaki diangkat ke atas (Khummanasimba). Pada bagian leher, bulu-bulu lebat digubah dengan perulangan pilin atau ikal yang tersusun rapi menghiasi bagian leher dan dada, sehingga terkadang terkesan seperti kalung. Penggambaran ornamen pada bagian leher dan dada tersebut terdapat beberapa variasi dan sekaligus pembeda antar motif singa, namun perbedaan secara mencolok dapat dilihat antara motif singa yang berada di candi-candi Trimurti dengan di candi-candi Wahana.

Selain relung berisi pahatan singa, unsur lain yang tidak kalah penting adalah relief Kalpataru yang mengapit relung berisikan pahatan singa pada kanan dan kirinya. Penggambaran relief tersebut bervariasi, bahkan pada satu Motif Prambanan tidak dapat dijumpai satu motif yang sama penggambarannya, sehingga tidak hanya Motif Prambanan yang merupakan kekhasan ornamen di Candi Prambanan, namun relief Kalpataru juga merupakan kekhasan di Candi Prambanan, karena relief tersebut tidak dapat ditemukan di candi manapun di Indonesia kecuali di Candi Prambanan.

Ornamen Kalpataru merupakan gambaran atas kebahagiaan akhirat. Penggambaran di Candi Prambanan diwujudkan dalam bentuk pohon hayat yang keluar dari jambangan. Pada kanan dan kiri pohon terdapat hewan-hewan pengapit dan sering kali berwujud mahluk kayangan Kinara-Kinari. Di sekitar pohon terdapat pundi-pundi harta.

Mengingat jumlahnya yang mencapai 270 buah ditambah luas bidang ornamen yang bervariasi menyebabkan penggambaran unsur-unsur ini juga bervariasi. Pada pohonnya sendiri bentuknya ada yang bulat, oval, maupun bulat meruncing ke atas. Pada candi-candi Wahana yang luas bidangnya sempit, pohon hayat digambarkan berbentuk oval dan hewan yang beradaada di samping kanan dan kiri pohon Kalpataru kebanyakan adalah burung kakak tua.

Penelitian saya sebelumnya (Istanto 2017) menyebutkan keragaman hewan yang terdapat pada masing-masing relief Kalpataru dari jumlah 270 buah tersebut. Hewan-hewan tersebut antara lain adalah singa, rusa, domba, kera, musang, tupai, merak, angsa, kakak tua, ayam, rangkong, bangau, merpati, serta sejumlah burung yang belum bisa di identivikasi, ada pula mahluk imajinasi seperti Kinara-Kinari (mahluk setengah burung dan setengah manusia) dah Hare (binatang bulan mirip kelinci namun memiliki daun telinga panjang).

Yang menarik dari hewan-hewan ini adalah burung kakak tua yang penggambarannya dalam jumlah banyak dan hampir dijumpai pada semua ornamen kalpataru. Penggambaran burung kakak tua digarap secara naturalistik dengan beragam perilaku yang menarik.

Bangsa Indonesia memiliki warisan produk budaya berupa bangunan percandian yang jumlahnya mencapai ratusan dan tersebar di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sumbawa. Masing-masing candi di Indonesia memiliki karakteristik serta kekhasannya masing-masing. Pada kasus ini, Candi Prambanan sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia telah memperlihatkan kekhasan identitas yang dimiliki melalui Motif Prambanan. Ornamen Motif Prambanan merupakan bukti kecerdasan produk budaya masa lampau yang adiluhung yang dimiliki oleh bangsa ini sehingga patut untuk disyukuri, dijaga, dan dilestarikan bersama. [NI]

Bibliografi

Fontein, Jan, dkk. 1990. The Sclupture of Indonesia. Washington: National Gallery of Art.

Istanto, Riza dan Sunarto. 2020. “Kalpataru: Dunia Atas yang Dibumikan dalam Budaya”. Dalam Majalah Basis, Nomor 03-04, Tahun ke-69. Hlm. 55-60

Istanto, Riza dan Syafii. 2017. “Ragam Hias Pohon Hayat Prambanan”. Dalam Jurnal Seni Imajinasi, Vol. XI No. 1 Januari 2017. Semarang: FBS Unnes. Hlm. 19-28.

Jordaan, Roy (ed.). 1996. In Praise of Prambanan. Leiden: KITLV Press.

Moertjipto dan Bambang P. 1991. Mengenal Candi Ciwa Prambanan dari Dekat. Yogyakarta: Kanisius.

Ratnawati, L. D. 1989. “Variasi Relief Kalpataru pada Candi Prambanan”. Dalam Prosiding Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, 4-7 Juli 1989. Yogyakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 334-349.

Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2. Yogyakarta: Kanisus.

Van Roojen, P. 1998. Indonesian Ornamenal Design. A Pepin Press Design Book.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here