Beranda Publikasi Kolom Kontinuitas Musik Ma’marakka dalam Ritus Kematian Masyarakat Toraja

Kontinuitas Musik Ma’marakka dalam Ritus Kematian Masyarakat Toraja

1575
Sumber foto: Regar

Oleh: Regar (Akademisi Musik dan Peneliti Seni Budaya Toraja)

Suatu kawasan yang terletak di pulau Sulawesi bagian Selatan tepatnya di Toraja yang kini telah terdiri dari dua kabupaten kota yaitu Tana Toraja dan Toraja Utara. Terkenal karena ritus-ritusnya yang megah dan keunikan-keunikan yang menarik perhatian penikmat budaya bahkan para peneliti baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Salah satu keunikan itu memicu hasrat untuk berangkat pada sebuah kajian tentang musik ma’marakka, satu diantara beberapa kesenian yang terkenal dari Toraja. Fakta empiris sampai saat ini membuktikan bahwa ma’marakka memiliki peran penting dalam upacara rambu solo’ (ritus kematian) masyarakat Toraja. Untuk itu, pertanyaannya ialah bagaimana manusia kemudian menaruh pemikiran pada “eksistensi dan konsistensi budaya?”, sedangkan dalam perjalanan panjang keberlangsungannya niscaya memiliki keberbedaan pada era dahulu dengan masa sekarang.

Secara kualitatif, tradisi membawa musik ma’marakka menjadi kesenian yang tetap menyatakan eksistensi dalam kemapanan dan originalitasnya sebagai kesenian yang tetap berkembang sampai saat ini. Kehidupan berbudaya yang membentuknya menghadirkan kognisi terkait adanya faktor kontinuitas dan perubahan bahkan perkembangan baik dalam suatu wilayah maupun dalam penyebaran budaya.

Entitas kehidupan bermasyarakat mempertahankan kebudayaan dalam mewujudkankan kesatuan antar masyarakat secara dinamis mengalami kesinambungan dari berbagai aktivitas budaya. Tidak dapat dielakkan bahwa musik yang berkembang di tengah masyarakat dibuat dan digunakan sebagai sarana ekspresi terhadap sesuatu yang dituju (objek) yakni Tuhan, Manusia, dan Alam. Kendatipun karya musik tersebut beroleh pemikiran-pemikiran untuk sedikit mengalami perubahan, baik dari segi variasi-variasi tertentu, bahkan bentuk pertunjukannya, hal itu tidak terlepas dari kebutuhan berbudaya bagi setiap generasi pemeluknya.

Apakah jawaban terhadap kajian kontinuitas selalu berbicara tentang perubahan dan perkembangan? Beberapa pendapat mengatakan tidak harus demikian. Namun beberapa kajian kontinuitas menguraikan penemuannya tidak hanya melihat keberlangsungan dari objek kajiannya, melainkan hal-hal tentang perubahan bahkan perkembangan juga menjadi pembahasan yang substantif.

Koentjaraningrat (2009) sebagai antropolog terkenal di Indonesia menguraikan konsep kontinuitas di tengah masyarakat dapat dilihat melalui: interaksi antar warga masyarakat, adat-istiadat, kontinuitas waktu, dan rasa identitas yang kuat oleh setiap individu maupun kelompok masyarakat. Jika hal ini dikaitkan dengan kesenian tradisional dalam hal ini musik ma’marakka, eksistensinya sebagai nyanyian tradisional ikut mengalami kontinuitas sebagai bagian dalam keberlangsungan kehidupan masyarakat Toraja secara khusus dalam upacara rambu solo’.

Dengan demikian, kontinuitas dalam konteks kebudayaan berarti menggambarkan mengenai keberlangsungan suatu peristiwa baik dari segi perkembangan maupun perubahan. Perubahan pemikiran untuk mengembangkan dan memperkenalkan kesenian secara luas masih merupakan pengaruh dari Eropa. Dalam perjalanan historiografi, kesenian tradisional bahkan seni pertunjukan di Asia dibangkitkan kembali melalui pengaruh modernisasi. Ia berkembang beriringan dengan modernisasi yang lebih luas.

Dalam hal ini, proses keberlangsungan kesenian tradisional yang mengalami perkembangan mulai dari bentuk yang sederhana, sampai pada bentuk evolusi kebudayaan atau budaya yang lebih kompleks. Tidak hanya itu, bahwa ada proses penyebaran kebudayaan secara geografi, bahkan kebudayaan dapat berpindah oleh pengaruh baik melalui masyarakat di dalam maupun di luar kebudayaan tersebut. Proses lain adalah proses belajar unsur-unsur kebudayaan asing oleh warga masyarakat, yaitu proses akulturasi dan asimilasi.

Betapapun musik ma’marakka penting dalam sebuah pembahasan kontinuitas, bahwa sejak pertengahan abad ke-20 hingga saat ini, ia hadir sebagai kesenian yang berkembang dan berevolusi dalam budaya seiring peradaban ruang dan waktu. Kajian tentang keberlanjutan kesenian tradisi ini merupakan sebuah konsep penyelidikan, mengamati tindakan yang mengalir dalam suatu masa sebagai kebaharuan keilmuan, secara serius masuk ke dalam tantangan kerja budaya pada perjalanan yang terus bergerak dinamis dan tak menentu.

Mari melihat betapa penting implikasi dari sebuah kesenian yang tidak hanya berfokus pada kajian musik secara matematis atau bahkan gaya musik semata, melainkan praktik dan konteks musik juga penting sebagai jawaban terhadap fakta ilmiah.

Dalam konteks ini, baik budaya Toraja, ma’marakka sebagai objek seninya, maupun kontinuitas merupakan pembahasan yang menyatu. Kendatipun ketiga bagian tersebut masing-masing dapat menjadi pokok pembahasan yang independent, namun menyatukan mereka niscaya memberi sumbangsi pada esensi yang membangun sebuah pembahasan sentral yaitu “kontinuitas musik ma’marakka dalam sebauh kebudayaan”.

Jika kajian ini disederhanakan ke dalam sebuah rumusan masalah, yaitu: “bagaimana kontinuitas musik ma’marakka yang upacara rambu solo’ masyarakat Toraja?”, hal ini tidak terlepas daripada pertimbangan sejarah, geografis, dan psikologis, yang dihasilkan oleh pemikiran dan alat intelektual yang terus berkembang.

Tentang kebudayaan Toraja, telah benyak mendapat perhatian para peneliti bahkan sarjana-sarjana sampai saat ini. Namun nampaknya secara khusus musik ma’marakka, masih kurang diberi berhatian untuk kajian mendalam. Mangopo (2019) menganalisis tentang “The denotational power of speech in marakka ritual” yang secara substansi membahas syair tertentu dalam lagu ma’marakka sebagai menguraikan makna denotasi dalam ritual ma’marakka.

Regar (et al., 2022) dalam artikelnya “Structure Analysis of Ma’marakka Musical Form on Pa’pakandian song” mengalisis bentuk musikal pada lagu-lagu tertentu pada musik ma’marakka. Setelah mengamati beberapa penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa pembahasan ini menawarkan kebaharuan sebagai sebuah kajian.

Tidak dapat dipungkiri bahwa akan ada pertanyaan tentang apa kesamaan dan keterkaitan antara “kontinuitas musik budaya” dan “pelestarian musik budaya”. Tentu hal ini berbeda tetapi memiliki keterkaitan yang signifikan. Bahwa salah satu faktor pendukung kebudayaan dapat disebut berkesinambungan adalah terjadinya pelestarian budaya.

Melihat kembali pada masa awal-mula musik ma’marakka diperkenalkan oleh seorang yang bernama Indo’ Rero’, ia berasal dari salah satu dusun di Toraja bagian utara ± tahun 1940. Karena syairnya yang berisi tentang ratapan, duka keluarga yang ditinggalkan, bahkan sanjungan kepada mendiang, nyanyian tersebut mulai bereksistensi dalam situs kematian yang bagi masyarakat Toraja menyebutnya upacara rambu solo’.

Semasa hidupnya, indo’ Rero’ banyak mengajarkan kepada generasinya (keluarga dan orang-orang disekitarnya) tentang musik ma’marakka. Sampai pada generasi ke-II, bentuk ritual ma’marakka masih dilakukan dengan cara duduk sambil menyanyikan lagu-lagu marakka, dilakukan oleh 1-3 orang (tidak menentu). Bernyanyi sepanjang malam disamping mendiang, orang Toraja menyebutnya “ma’kampa to mate”. Betapapun nyanyian ini membangun hubungan intens dengan mendiang diwaktu-waktu terakhir sebelum tiba pada hari dimana ia disemayamkan.

Benar bahwa setiap generasi masyarakat mamiliki nilai dan ciri khas masing-masing, hal ini ditandai ketika ia mampu memaknai konteks ruang dan waktu. Dalam waktu yang terus berjalan, generasi ke-III mulai memikirkan sesuatu yang baru dalam ritual ma’marakka. Salah satu tokoh yang banyak berperan penting dalam masa ini adalah indo’ Berta Senga’. Bersama dengan musisi-musisi dan tokoh adat pada masanya, mulai memikirkan tentang keterkaitan antar musik dan budaya yang melahirkan musik tersebut.

Pertama, bahwa ma’marakka kemudian diiringi alat musik tradisional Toraja yakni suling lembang. Pemikiran ini muncul dengan adanya keserasian antara ma’marakka dengan alat musik suling lembang. Ada pendapat yang menguraikan bahwa lagu dan suling dalam konteks upacara rambu solo’ sifatnya mengenang, mengandung doa, serta sanjungan kepada mendiang. suara instrument suling lembang cenderung menyatu dengan suara dengan gaya menyanyikan ma’marakka.

Mungkin sebagian besar musisi, penikmat musik, bahkan secara umum akan sepakat bahwa jika sebuah alat musik instrument terdengar serasi bahkan cenderung menyerupai suara manusia, mungkin instrument semacam ini lebih mampu menyampaikan musik yang sangat menarik dan lebih komunikatif dalam mempengaruhi emosional. Diluar daripada itu, tentu ada hal lain yang menjadi alasan ma’marakka kemudian membentuk sebuah definisi yang merupakan perpaduan antara musik vokal dan suling lembang.

Beberapa pendapat terkait musik ma’marakka (sejak generasi ke-III sampai generasi ke-V/saat ini) sepakat bahwa berbicara tentang musik ma’marakka tidak terlepas dari pembahasan akan ma’marakka sebagai musik vokal yang diiringi intstrumen suling lembang, menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam kesinambungan yang terjadi, perubahan kedua pada musik ma’marakka bahwa bentuk ritualnya beralih sebagai musik yang mengantar to ma’papangngan (keluarga yang membawa suguhan berupa sirih dan lain sebagainya kepada tamu yang datang dalam upacara rambu solo’).

Tidak hanya sebagai nyanyian pertunjukan seremonial semata, nyanyian ratapan tersebut dijadikan sebagai penyambutan kapada keluarga dan/ tamu yang datang berbagi duka dalam upacara rambu solo’. Mungkin ini agaknya menimbulkan pertanyaan, namun penting dipahami bahwa nyanyian ini disebut juga “batingna to biung” (ratapan anak yatim) menyampaikan kepada setiap tamu, kerabat, handaitolan bahwa keluarga yang ditinggalkan sedang dalam kungkungan duka mendalam.

Demikianlah adanya musik ma’marakka yang bereksistensi sampai saat ini. kendatipun keberadaannya dalam evolusi yang terjadi mengalami perubahan baik dalam mengekspresikannya sebagai musik yang lebih lengkap oleh alat musik suling lembang maupun dalam bentuk ritualnya, hal ini tidak mengurangi originalitas ma’marakka sebagai warisan leluhur. Perubahan yang terjadi tidak terlepas dari pengaruh emosional, gaya hidup setiap generasi yang berbeda-beda, serta kesadaran akan system nilai yang lebih baik dalam kehidupan berbudaya.

Vidio Ma’marakka dalam upacara rambu solo’ dapat diakses pada link google drive sebagai berikut ini: https://drive.google.com/drive/folders/1wpBk2QJWoQjUuGV2qWbHMPpe1sjQwvcB?usp=sharing (Sumber: Regar, 2022)

Referensi

Fibiona, D. H. dan I. (2021). Kontinuitas dan Perkembangan Kesenian Tradisional Yogyakarta Awal Abad XX. Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropology. Rineka Cipta.

Mangopo, S. (2019). The Denotational Power of Speech in Ma’marakka Ritual. 424(Icollite 2019), 141–144. https://doi.org/10.2991/assehr.k.200325.070

Mason, M. A., & Turner, R. (2020). Cultural sustainability: A framework for relationships, understanding, and action. Journal of American Folklore, 133(527), 81–99. https://doi.org/10.5406/jamerfolk.133.527.0081

Regar, R., Sunarto, S., & Sinaga, S. S. (2022). Catharsis : Journal of Arts Education Structure Analysis of Ma ’ marakka Musical Form on Pa ’ pakandian song. Catharsis, 11(1), 60–68.

Regar. (2023). Musik Ma’marakka dalam Upacara Rambu Solo’ di Toraja Utara: Kontinuitas dalam Ritus Kematian. Universitas Negeri Semarang.

Schubert, E. (2019). Which Nonvocal Musical Instrument Sounds Like the Human Voice? An Empirical Investigation. Empirical Studies of the Arts, 37(1), 92–103. https://doi.org/10.1177/0276237418763657

Watulea, I. (2018). Musik Dalam Upacara Adat Posuo. DESKOVI : Art and Design Journal, 1(1), 23. https://doi.org/10.51804/deskovi.v1i1.282

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini