Beranda Publikasi Kolom Gamelan, Warisan Berharga dari Indonesia

Gamelan, Warisan Berharga dari Indonesia

371
https://momentum.emory.edu/project/11709

Aris Setiawan (Etnomusikolog, Pengajar di ISI Surakarta)

Jauh sebelum gamelan secara aklamatif diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada sidang ke-16 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage, 15 Desember 2021 di Paris Perancis, polemik tentangnya sebagai sebuah alat musik berharga negeri ini sudah lama dipatik.

Sekembali dari pengasingannya di Belanda tahun 1919, Soewardi Soerjaningrat tidak lagi memiliki hasrat menggebu di dunia politik. Ia lebih tertarik berjuang dalam konteks pendidikan dan kebudayaan. Didirikannya Taman Siswa pada tahun 1922, dengan memadukan konsep pendidikan gaya Eropa dan Jawa, menjadikan awal mula gamelan dipandang penting sebagai medium perjuangan dan nasionalisme. Soewardi juga mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara (1928), yang kemudian melanggengkan nama itu untuk dikenang hingga kini.

Taman Siswa adalah institusi pendidikan formal yang memasukkan gamelan sebagai bagian dari kurikulumnya. Hal ini mematik dan menginisiasi pergerakan-pergerakan serupa di mana tahun-tahun berikutnya gamelan melembaga secara resmi dalam bentuk jurusan-jurusan (karawitan) di sekolah dan kampus seni.

Ki Hadjar mencetuskan ide yang terbilang frontal bahkan radikal. Ia mengusulkan agar gamelan tidak hanya sekadar dimainkan, namun juga dipelajari unsur-unsur filsafat yang ada di dalamnya. Ia mempercayai bahwa gamelan adalah serupa musik klasik di Eropa, dan oleh karena itu gamelan harus dibaca dalam kategori yang sama. Wacana-wacana itu diletupkan demi mengangkat harkat dan martabat bangsa dalam konteks kebudayaan, agar tak terus dipandang sebagai “yang tak beradab”.

Secara eksplisit ia menyatakan bahwa “gamelan Jawa adalah musik yang harus diangkat menjadi bagian dari musik nasional Indonesia“(Sumarsam, 2003). Puncaknya adalah upaya agar gamelan menjadi musik pengiring bagi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Terlepas dari sisi polematik usul itu, perbincangan tentang gamelan menyeruak hadir di tengah gelanggang politik perumusan identitas bangsa Indonesia.

Gending-gending gamelan mulai dipelajari, pencatatan dan dokumentasi karya-karya gamelan dilakukan. Dan lebih penting lagi adalah, pendirian institusi pendidikan yang secara spesifik mempelajari gamelan, diawali dari  Konservatori Karawitan (KOKAR) di Solo pada tahun 1950. Lewat lembaga pendidikan itu karya gamelan “dibongkar” dan “dianalisis” untuk diketahui kandungan-kandungan lain selain sekadar bunyi atau suara.

Hasilnya, dapat diketahui bahwa memainkan gamelan adalah ruang dialogis bagi tumbuhnya rasa untuk saling menghargai sesama manusia. Memainkan gamelan itu yang dibutuhkan adalah kebersamaan, untuk mendengar dan didengarkan. Karya gamelan tidak lahir secara spasial, namun berupa rajutan dimensi musikal antara satu instrumen dengan instrumen lainnya (disebut gending).

Di titik inilah perbedaan mencolok antara gamelan dan musik Klasik Eropa. Karya musik gamelan hadir dan eksis karena keutuhannya, sementara musik Klasik Eropa sebaliknya, dapat dinikmati secara parsial atau terpisah-pisah (baca konser solo). Gending itu adalah akumulasi produksi suara dari tiap-tiap instrumen gamelan, dengan mengandalkan kesetaraan bunyi, kepatuhan dalam mendengar, dan merespon setiap gejala musikal yang muncul.

Ada kehidupan dalam bermain gamelan. Musisi (disebut pengrawit) bukanlah mesin-mesin robot yang memainkan musik semata berdasar “buku panduan” dari apa yang dibacanya (notasi). Ada wilayah abu-abu di mana salah dan benar itu menjadi tipis bedanya.

Sementara musik Barat lebih menekankan presisi dan ketepatan, apa yang dibaca adalah apa yang dimainkan, keluar dari koridor itu dianggap salah atau keliru. Gamelan tidaklah sematematis itu. Bermain gamelan tidak menuntut kebenaran namun keindahan. Karena yang indah tidak harus benar, dan yang benar belum tentu indah.

Ada semacam “play” (dalam konsep performancenya Richard Schechner), yakni bermain-main dengan kegembiraan, bukan dalam kebenaran yang serius dan kaku. Ki Hadjar Dewantara salah dalam membawa gerbong gamelan menyerupai musik Klasik Eropa, dengan menempatkan pengrawit gamelan selayaknya musisi musik Barat, berjas dan berdasi. Bahwa setiap musik memiliki karakteristik keunikan yang berbeda namun tipikal, dan perbedaan itulah kekayaan yang tak harus diubah atau dipoles agar konon lebih mengkilat (kata lain bermartabat).

Namun gagasan Ki Hadjar tentang pentingnya belajar dan mengangkat derajat gamelan patut untuk diapresiasi secara puncak. Ada nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi di balik karya gamelan adalah betul adanya. Dan berpijak dari temuan itu, muncul lembaga-lembaga swadaya yang menjadikan gamelan sebagai ruang penyembuhan atau detoksinasi bagi orang-orang yang “sakit”.

Lahirlah Good Virations, sebuah institusi yang bergerak di bidang kemanusiaan di London, Inggris, menghadirkan instrumen musik gamelan di dalam penjara dan rumah sakit jiwa. Para tahanan itu bermain gamelan (dengan tangan terborgol), untuk dilihat seberapa jauh gamelan mampu memberi efek psikologis, dari pribadi yang soliter menjadi lebih humanis. Dan hasilnya, gamelan menyumbang sebagian besar perubahan perilaku tahanan menjadi lebih baik, memiliki empati. Lembaga itu telah berdiri lebih dari 15 tahun, dan terus berkembang hingga kini.

Rahayu Supanggah (2014) mencatat, terdapat 14 dari sekitar 100 penjara di Inggris antara lain Brixton, Cookham Wood, Hull, Nottingham, Peterborough, Wakefield, Wandsworth, Whatton, Wolds, Feltham, Glen Parva, Huntercombe yang telah memanfaatkan kehadiran lembaga Good Vibrations dengan menggunakan gamelan Jawa sebagai sarana terapis bagi para napi. Sementara dua rumah sakit di Rampton London dan State Scotland serta lebih dari 1000 orang telah ikut program Good Vibrations.

Gamelan terus tumbuh, menjadi alat musik tradisi dari Indonesia yang paling gaduh diperbincangkan di seantero dunia. Peneliti-peneliti musik dari banyak benua datang ke Jawa agar bisa bermain dan meneliti gamelan. Semua itu terjadi dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Gamelan memang berhasil mengangkat kebudayaan musik Indonesia untuk tampil secara percaya diri di kancah internasional.

Bahkan ada adagium, komponis musik dunia akan dipandang ketinggalan zaman jika tidak memasukkan unsur-unsur gamelan dalam karyanya. Berpijak dari fenomena dan peristiwa itu, diakuinya gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO di tahun 2021 ini boleh dikata telat, namun patut untuk dirayakan dengan penuh kebahagiaan. NI

Artikulli paraprakDunia Tradisi dalam Karya Seni Nasirun: Peleburan antara Yang Lampau dan Kini
Artikulli tjetërLontar Usada Bali: Kitab Obat-Obatan Nusantara
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini