Beranda Publikasi Kolom Bahasa Daerah dan Tren yang Dapat Mengikisnya

Bahasa Daerah dan Tren yang Dapat Mengikisnya

593
Suku Osing (Using) Banyuwangi (sumber: merdeka.com)

Oleh: Moch. Anil Syidqi (Pelaku seni)

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat sebanyak 718 bahasa daerah di Indonesia, sebagian besar kondisinya terancam punah dan kritis. Sejumlah bahasa daerah itu, terancam punah lantaran semua penuturnya berusia 20 tahun ke atas dan jumlahnya sangat sedikit. Generasi tua pun sudah tak lagi berbicara dan mewariskan bahasa daerah itu kepada anak-anak, atau hanya berbicara dengan usia sebayanya (baca Revitalisasi Bahasa Daerah). Hal itu mulai terjadi juga di sejumlah daerah di Banyuwangi.

Kebanyakan kasus yang saya temui, bahasa daerah setempat hanya dituturkan antarsesama orang dewasa atau antarteman tongkrongan. Sementara, mayoritas orang tua menuturkan bahasa Indonesia guna berinteraksi dengan anak mereka yang berusia 7 tahun ke bawah setiap harinya.

Penuturannya bahkan berada dalam tingkatan terdepan, di atas bahasa daerah setempat. Hal seperti ini, kiwari lazim dijumpai, baik di pelosok desa maupun tengah kota Banyuwangi, yang lumrahnya berbahasa Using.

Padahal semasa saya SD, sekira 2010-an, penuturan bahasa Indonesia dalam lingkup keluarga di Banyuwangi hanya dituturkan oleh orang-orang tertentu saja -tidak semasif sekarang- dan itu pun masih mereka padukan dengan logat serta istilah-istilah kedaerahan, atau disebut medok (mungkin di beberapa daerah masih demikian?).

Berbahasa Indonesia sedari dini

Hampir setiap orang tua di Banyuwangi kiwari, entah itu di desa ataupun di kota, berinteraksi dan membiasakan anak-anak mereka berbahasa Indonesia. Tindakan tersebut tengah menjadi tren beberapa tahun ke belakang.

Eko Budi Setianto, jurnalis, penulis, sekaligus pemerhati budaya Using, mengaku pernah mendebat orang tua yang menerapkan tren tersebut. Tindakan itu, kata Budi, akan membuat anak merasa asing dengan bahasa tempat ia lahir dan dibesarkan. “Jika terus dibiarkan, ada prediksi bahwa 20-25 tahun mendatang bahasa Using akan punah dan hanya menyisakan catatan sejarah.”

Sementara, Maskur (27 tahun), salah satu orang tua yang menerapkan tren ini, mengatakan bahwa sebagai orang tua, ia harus pandai memilih pola didik yang sesuai dengan zamannya. “Selagi lingkungannya kuat (mendukung), pertumbuhan anak akan menyesuaikan itu, termasuk perihal bahasa.”

Dengan berbahasa Indonesia sedari dini, memang penutur bahasa Indonesia ke depan bisa mengalami peningkatan yang signifikan. Sekaligus sebagai upaya pengenalan bahasa Indonesia kepada anak pra-sekolah. Namun, minusnya (setidaknya yang paling saya khawatirkan), bisa mengikis kuantitas penutur bahasa daerah di Banyuwangi.

Code Switching

Seseorang yang kental berbahasa daerah justru akan memperkaya dialek dalam bahasa Indonesia. Dari perkara itu, kemudian muncul beragam varian bahasa Indonesia, seperti dialek Balinya, Papuanya, Melayunya, Bataknya, Sundanya, dan masih banyak lagi. Kerap terdengar pula perpaduan dua bahasa. Sebutlah misalnya Indonesia dan Using. “Wis mandi?” “Kesinio!” “Makanen lagi!” “Maaf yo” dan lain sebagainya itu adalah sedikit kalimat yang sering terucap.

Lingkup nasional, kita bisa saksikan pada pentas-pentas Stand Up Comedy. Para komika membawakan materi berbahasa Indonesia dengan dialek daerah, diselipi istilah-istilah lokal, dan itu gerr, sangat lucu. Hal semacam itu bahkan lumrah dan sudah menjadi identitas Stand Up Comedy di Indonesia.

Tak jarang, film televisi dan layar lebar juga memakai bahasa Indonesia dengan beragam dialek dan kata berbahasa daerah. Umumnya terlihat pada adegan bertokoh orang pedesaan, film-film bertemakan local genius, dan sejenisnya.

Penggunaan dialek kedaerahan ala para komika dan dunia perfilman itu disebut alih kode atau code switching. Sederhananya, alih kode atau code switching ini adalah tindakan berbicara dengan mencampur-campurkan kata atau istilah dari minimal dua bahasa berbeda. Bukan hanya bahasa Indonesia dengan bahasa daerah saja namun bisa juga sesama bahasa daerah, ataupun terhadap bahasa asing.

Sadar atau tidak, zaman sekarang banyak orang menerapkan code switching ini. Melansir sebuah penelitian, alih kode atau campur kode ini terjadi lantaran beberapa hal, seperti kebiasaan menuturkan dua bahasa berbeda, tidak adanya padanan kata, dan dialek bahasa tertentu dipakai untuk menuturkan bahasa yang berbeda.

Meskipun ada pakar bahasa menganggap fenomena ini tidak membahayakan bahasa tertentu yang dituturkan, tetap saja, bagi saya, kualitas bahasa itu akan menurun. Coba amati syair lagu yang dinyanyikan oleh Denny Caknan. Pada lagu Tak ‘Kan Berpisah, misalnya, pemilihan katanya campur aduk; antara bahasa Jawa dan Indonesia. Itulah gambaran masa kini, kosakata bahasa Jawa yang dituturkan sehari-sehari banyak teralih dan tercampur dengan bahasa lain, utamanya Indonesia.

Bagaimana solusinya?

Ni Wayan Sartini, salah satu pakar bahasa di UNAIR (Universitas Airlangga), pernah mengatakan bahwa perkembangan bahasa akan mengikuti perkembangan budaya (baca “Muncul Fenomena Bahasa ‘Jaksel’, Begini Tanggapan Pakar UNAIR”). Jika budaya atau tren kiwari adalah percampuran atau alih kode, barangkali bahasa daerah –khususnya Banyuwangi- di tahun-tahun mendatang akan menjadi bahasa yang berbeda, mencakup kata, istilah, dan juga logatnya.

Misalnya, bahasa Indonesia pada zaman kemerdekaan dengan bahasa Indonesia saat ini pun banyak mengalami perbedaan, mulai dari ejaan, penambahan kata-kata baru, dan sebagainya.

Hanya saja, Ivan Lanin, penulis buku Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris? dalam BBC Indonesia (13/9/2018), menghimbau agar orang Indonesia yang rata-rata bisa bicara setidaknya tiga bahasa harus mampu menyeimbangkannya, guna menjaga batasan-batasan antarbahasa -supaya tidak campur aduk-.

Sedangkan, untuk tren berbahasa Indonesia sedari dini, Budi berpesan, “bahasa Indonesia akan mudah diterima anak-anak ketika mereka mulai memasuki pendidikan formal. Bila diterapkan semenjak dini, itu sama halnya ‘memutus’ bahasa ibu.”

Lingkungan, untuk sementara ini memang masih mendukung anak mempelajari bahasa daerah. Pertanyaannya, apakah seterusnya akan demikian? Jika penuturan bahasa daerah saja tidak dibiasakan sedari dini, lantas lingkungan mana yang kelak membentuk anak-cucu kita bertutur bahasa ibunya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini