Iwan Firman Widiyanto (Mahasiswa Doktor Sosiologi Agama UKSW)
“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”
Kutipan ini merupakan pidato Sukarno di Surabaya pada 24 September 1955 sebagai respons atas meningkatnya suhu politik akibat persaingan antarpartai yang berbasis pada ideologi dan agama. Sukarno mengingatkan bahwa siapa pun yang menang, negara tetap milik bersama. Seruan ini tetap relevan di tengah konflik diskriminasi terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Memang tidak mudah mengelola kekayaan dan keragaman Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 286 juta jiwa yang tersebar di 17.380 pulau, 1.340 suku, 718 bahasa, 6 agama resmi, serta 187 organisasi aliran kepercayaan (Badan Pusat Statistik).
Namun, keniscayaan keberagaman ini tetap harus dikelola untuk mewujudkan cita-cita Pancasila dan UUD 1945 bahwa kewarganegaraan didasarkan pada kebangsaan Indonesia, bukan pada identitas primordial seperti suku, agama, atau ras.
Jalan Strategis
Bangsa Indonesia perlu mencari jalan strategis untuk membangun fondasi generasi Pancasila melalui pendidikan. Generasi yang dimaksud adalah generasi yang memiliki kesadaran dan mendasarkan diri pada nilai-nilai kegotongroyongan. Suatu sikap kerja sama, saling mendukung demi terwujudnya cita-cita yang membawa masyarakat menjadi sejahtera, adil, dan makmur sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda, tetap satu jua.
Jalan strategis memasukkan pendidikan tentang pembangunan relasi antaragama yang harmonis sejak dini dengan beberapa tujuan sebagai berikut:
Pertama, membuka kesadaran dan wawasan tentang narasi-narasi warisan teks keagamaan maupun narasi-narasi secara sosiohistoris yang memperlihatkan bahwa perjumpaan dan kerja antaragama yang berbeda pernah terjadi dan sangat dimungkinkan untuk terus dilakukan demi kemajuan hidup bersama.
Tulisan Talib Ali Awan dan Abdul Rahman dalam jurnal berjudul “Interfaith Integration Relations: Academic Connections Between Muslims and Non-Muslims” (2026) memberikan contoh kerja Islam-Kristen dalam penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan di Perpustakaan Bayt al-Hikmah di Baghdad.
Dinasti Abbasiyah (813-833 M) meminta para cendekiawan Kristen dan Yahudi untuk menerjemahkan karya-karya ilmiah dan filosofis dari peradaban Yunani, Persia, dan India. Cendekiawan Kristen yang terkenal pada waktu itu bernama Hunayn ibn Ishaq, yang menerjemahkan teks medis Yunani karya Hipokrates dan Galen ke dalam bahasa Arab.
Penerjemahan berdampak pada pelestarian pengetahuan klasik dan pengembangan intelektual baru dalam peradaban Islam di bidang matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat.
Pada abad ke-12 hingga ke-13 Masehi, selanjutnya terjadi proses transmisi dan penerjemahan besar-besaran di Eropa. Cendekiawan Eropa mempelajari berbagai bidang yang telah maju di dunia Arab, seperti karya-karya kedokteran Ibnu Sina (Avicenna) dan Al-Razi, matematika dengan pengenalan angka Arab dan konsep aljabar, serta astronomi dan filsafat, terutama komentar Ibnu Rusyd terhadap karya Aristoteles yang kemudian menjadi dasar kebangkitan universitas-universitas awal di Eropa.
Kedua, memberikan keterampilan dan pengalaman dialog dengan pihak yang berbeda untuk mempertajam saling pengertian atau empati, yang juga berguna untuk memperkaya wawasan dan praktik keagamaan, baik bagi diri sendiri maupun pihak lain.
Program Pondok Damai yang dinaungi oleh Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) di Semarang menjadi contoh yang cukup mengesankan. Program tersebut mengumpulkan anak-anak muda lintas agama untuk berinteraksi secara intens dan berbagi pengalaman spiritualitas pribadi terkait penghayatan agama masing-masing.
Perjumpaan tersebut membuka kesadaran bahwa agama lain juga memiliki pengalaman rohani yang otentik dan mendalam.
Ketiga, memfasilitasi dialog karya kemanusiaan lintas agama untuk mengatasi isu-isu nasional bahkan global tentang kemiskinan, ketidakadilan, penderitaan akibat bencana, dan kerusakan lingkungan.
Dalam buku The Radical Muslim and Mennonite: A Muslim-Christian Encounter for Peace in Indonesia karya Agus Suyanto dan Paulus Hartono (2015) menggambarkan perjumpaan Komunitas Islam, Hizbullah dengan Komunitas Kristen Mennonite di Surakarta.
Dimulai dari perjumpaan dua pimpinan Islam-Kristen, antara Komandan Hizbullah Yani Rusmanto dan pendeta Kristen Mennonite Paulus Hartono, yang pada awalnya tidak mudah untuk menjadi persahabatan. Hingga menghasilkan kolaborasi kemanusiaan dalam menangani korban bencana tsunami di Aceh 2004 dan gempa bumi di Yogyakarta 2006.
Perjumpaan-perjumpaan dalam karya yang mereka lakukan membawa transformasi bagi kedua komunitas, meruntuhkan prasangka negatif dalam memandang perbedaan.
Keempat, membekali generasi Pancasila dengan pemikiran kritis terhadap sikap dan pandangan eksklusif yang mendorong aktivitas intoleransi dan kekerasan.
Dalam buku The Oxford Handbook of Religion, Conflict, and Peacebuilding, Appleby (2015) memberikan kerangka kritis untuk melihat tindakan intoleransi yang disertai kekerasan yang dilakukan oleh agama.
Pertama, teori ‘agama kuat’ (strong religion) mengatakan bahwa kekerasan agama dipengaruhi oleh teks keagamaan yang menganjurkan kekerasan. Kedua, teori ‘agama lemah’ yang melihat kekerasan agama merupakan hasil manipulasi kaum elite demi kepentingan ekonomi dan politik. Ketiga, teori ‘agama patologi’ melihat kekerasan agama sebagai akibat trauma sejarah masa lalu yang belum tersembuhkan.
Teori-teori tersebut mendorong untuk melihat teks keagamaan yang eksklusif dalam konteks sosiohistoris tertentu dan membutuhkan reinterpretasi yang bertujuan meminimalkan tindakan kekerasan atas nama agama. Selanjutnya, menolong untuk tidak tergesa-gesa menyalahkan agama sebagai pelaku kekerasan, namun justru lebih lanjut melihat aktor ekonomi politik di balik rentetan konflik agama yang sedang terjadi. Dan akhirnya meniscayakan empati yang mendalam untuk melakukan transformasi pada komunitas keagamaan yang telah terluka oleh berbagai peristiwa sejarah sosial-kultural.
Investasi Masa Depan
Pendidikan relasi antaragama adalah investasi jangka panjang bagi generasi Pancasila yang mampu mempertahankan kedaulatan bangsa. Tidak mudah diperdaya oleh politik adu domba, baik karena kepentingan ekonomi politik elit maupun karena situasi geopolitik global.
Sehingga pemikiran mereka dapat berkonsentrasi pada pembangunan dan kemajuan bangsa tanpa disibukkan oleh konflik yang terjadi akibat perbedaan agama.
Bahkan wawasan relasi antaragama yang dimiliki akan mampu mendorong terbentuknya sifat ambivalensi agama (Appleby 2015) yang positif, yaitu sebagai pendukung kehidupan yang lebih adil, makmur, sekaligus di pihak lain mampu mengurangi ambivalensi agama negatif yang menjadi pendorong sikap intoleransi dan kekerasan.
Daftar Pustaka
Awan, T. A.& Rahman, A.. 2026. “Interfaith Integration Relations : Academic Connections Between Muslims and Non-Muslims,” Journal of Applied Linguistics and TESOL Vol. 9, No.1.
Suyanto, A. & Hartono P. 2015. The Radical Muslim and Mennonite: A Muslim-Christian Encounter for Peace in Indonesia. Semarang: Pustaka Muria.
Omer, A., Appleby, R.S. & Little, D. 2015. The Oxford Handbook of Religion, Conflict, and Peacebuilding. New York : Oxford University Press.


















