Beranda Publikasi Sisi Lain Arab Pegon: Bukan Identik dengan Teks Islam

Sisi Lain Arab Pegon: Bukan Identik dengan Teks Islam

121
0
Arab Pegon non-Islam

Oleh: Siti Mariatul Kiptiyah (Alumni UIN Sunan Kalijaga, Dosen STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta)

Banyak peneliti berargumen bahwa huruf Arab yang dibaca dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Melayu, dan bahasa-bahasa lokal Nusantara lainnya, atau yang dikenal dengan huruf Pegon/Jawi merupakan medium literasi kalangan santri pesantren untuk menuliskan teks-teks keagamaan. Semua pesantren, nggon ngaji orang Muslim mengenalkan huruf pegon kepada para santrinya dalam tradisi pengajaran Islam. Kitab-kitab yang dibaca dan dipelajari di pesantren-pesantren tradisional selalu menggunakan Pegon, jika bukan kitab induk yang berbahasa Arab. Saking populernya, huruf  Pegon aktif digunakan dalam tradisi tulis menulis kitab-kitab para kiai dan santri dalam berbagai bidang keilmuan, seperti fikih, tauhid, akhlak, tasawuf, ilmu bahasa, tafsir Al-Qur’an, maupun karya sastra (syi’ir).

Pegon, yang berasal dari kata Jawa “pego” bermakna ora lumrah anggone ngucapake, merupakan tatanan huruf Arab yang dibaca dengan pelafalan menurut sistem huruf Jawa, carakan (Kromowapiro 1867; Pigeaud 1967; Pudjiastuti 1994). Jumlahnya sendiri juga 20, sama dengan jumlah alfabet Jawa: ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga. Karena itu, Arab pegon meskipun bentuknya hijaiyah sesungguhnya bukan tulisan Arab, melainkan hanya meminjam huruf Arab. Di Jawa, huruf Arab Pegon populer digunakan di pesantren dalam tradisi maknani/ngapsahi kitab kuning yang biasa dilakukan di sela-sela baris. Penggunaan huruf Arab dalam tradisi penulisan teks-teks keislaman bahkan disebut-sebut sebagai identitas yang melekat pada Muslim pesantren atau tradisionalis yang membedakannya dengan kalangan modernis (Bruinessen 2012).

Arab pegon meskipun bentuknya hijaiyah sesungguhnya bukan tulisan Arab, melainkan hanya meminjam huruf Arab

Meskipun demikian, nyatanya Arab Pegon tidak selalu digunakan menuliskan teks-teks keagamaan, terutama teks-teks keislaman, meskipun ada juga al-Kitab (Bible) beraksara pegon. Aksara yang identik dengan literasi pesantren tersebut juga digunakan dalam penulisan primbon, rajah, wafaq, azimat, hizib, berbagai mantra; termasuk mantra pengasihan, pelet, serta penulisan pawukon (ilmu astrologi), dan lain sebagainya yang sama sekali bukan teks Islam. Kenyataan ini pada dasarnya bukan sesuatu yang mengagetkan karena sama halnya aksara Jawa, pegon telah banyak dikenal masyarakat secara luas.

Di dalam tulisan ini, penulis ingin menunjukkan bagaimana huruf pegon digunakan dalam penulisan teks pawukon yang sampai saat ini dikenal luas oleh masyarakat. Pawukon adalah perhitungan dalam kalender Jawa dan Bali berdasarkan mitologi Hindu tentang waktu dan hubungannya dengan prediksi kehidupan manusia berdasarkan wuku mereka (karakteristik waktu). Adapun wuku yang dikenal masyarakat berjumlah 30 wuku.

Uniknya, setiap wuku menyandang nama karakter yang ditampilkan dalam mitos naiknya Dewi Sinta dan Prabu Watu Gunung beserta putra-putranya ke surga. Menurut Kumar (2018), mitos Dewi Sinta dan Prabu Watu Gunung dalam pawukon sengaja dimunculkan setelah siklus wuku mulai digunakan. Ini berarti bahwa mitos tersebut dibuat sebagai legitimasi atas wuku-wuku yang ada. Argumen Kumar tersebut disambut baik oleh Meij (2019) di mana dia menegaskan bahwa barangkali benar karena melihat susunan urutan nama wuku yang dimulai dari Sinta, Landep (selir Prabu Watu Gunung yang merupakan adik kandung Dewi Sinta), sang Prabu, barulah putra-putranya.

Arab Pegon tidak selalu digunakan menuliskan teks-teks keagamaan, terutama teks-teks keislaman, meskipun ada juga al-Kitab (Bible) beraksara pegon.

Adapun putra-putranya Prabu Watu Gunung yang dijadikan nama wuku adalah Wukir; Kurantil; Tolu; Gumbreg; Warigalit; Wariagung; Julung Wangi; Sungsang; Galungan; Kuningan; Langkir; Mandasiya; Julungpujut; Pahang; Kuruwelut; Marakeh; Tambir; Mandangkungan; Maktal; Puye; Menahil; Prangbakat; Baal; Wugu; Wayang; Kulawu; dan Dukut. Masing-masing wuku siklusnya tujuh hari dan akan berganti setiap minggu yang diikuti dengan pasaran: pon, wage, kliwon, legi, dan pahing.

Bagi masyarakat Jawa, pawukon sangat penting sebagai sarana menentukan hari baik untuk melakukan sesuatu dan menjadi patokan menerawang kejadian-kejadian dalam perjalanan hidup seseorang berdasarkan weton lahirnya. Untuk itu, bukan suatu yang mengherankan jika banyak para pujangga yang menuliskan pawukon ke dalam sejumlah kitab dan menjadi pegangan masyarakat secara luas. Umumnya, teks pawukon ditulis menggunakan aksara Jawa atau Bali dengan gambar ilustrasi berupa simbol-simbol dan warna-warna, sebagaimana gambar di bawah ini.[]