Beranda Info & Event Event Acara Peluncuran Yayasan Nusantara Kita (Nusantara Kita Foundation)

Acara Peluncuran Yayasan Nusantara Kita (Nusantara Kita Foundation)

610

Acara peluncuran (launching) Yayasan Nusantara Kita (Nusantara Kita Foundation), “induk semang” dari Nusantara Institute, diadakan pada tanggal 18 Agustus 2018 di kantor pusat yayasan di Sidoarjo, Jawa Timur. Acara peluncuran ini ditandai dengan selametan (kenduri atau kenduren) dan pemotongan tumpeng. Pengadaan selametan dan pemotongan tumpeng ini merupakan bagian dari adat atau tradisi ritual masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, sebagai penanda adanya sebuah acara atau momen yang dianggap penting dan sakral.

Acara peluncuran yang dikemas dengan sederhana ini berlangsung cukup khidmat, diiringi dengan bacaan puisi bertajuk “Nusantara Kita” gubahan Ida Widyastuti yang juga Ketua Yayasan Nusantara Kita, serta alunan musik syahdu. Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dari berbagai kalangan, antara lain, Bey Subekti dari komunitas Maha Daya Agung, Jombang, dan Romo Otto Bambang Wahyudi, ketua umum komunitas penghayat Jawa Timur dan juga anggota presidium pusat aliran kepercayaan Sapto Darmo. Romo Otto bahkan ikut memberi sambutan dan sekaligus memimpin doa.

Foto: Peluncuran Nusantara Kita Foundation

Selain itu juga hadir perwakilan dari umat Hindu, Katolik, Konghucu, juga perwakilan dari komunitas Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Komunitas Indonesia Merayakan Perbedaan, komunitas arkeolog, dlsb.

Acara peluncuran ini diawali dengan sambutan singkat dari Ketua Pengawas Yayasan Nusantara Kita, Muhammad Haris Setiawan, yang mewakili ketua yayasan, Ida Widyastuti, yang kebetulan berhalangan hadir karena sedang ada acara di Singapura, yang mengucapkan terima kasih atas kehadiran peserta dan tamu undangan.

Acara sambutan berikutnya disampaikan oleh Sumanto Al Qurtuby, anggota dewan pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Nusantara Kita sekaligus Direktur Nusantara Institute, melalui teleconference dari Arab Saudi. Dalam sambutannya ia memaparkan tentang latar belakang lahirnya yayasan ini serta rencana program yang akan menjadi fokus yayasan. Ia menjelaskan bahwa yayasan ini lahir karena berangkat dari kegelisahan dan kekhawatiran atas punahnya aset-aset kultural, spiritual, dan intelektual warisan luhur para leluhur Nusantara di masa datang. Kekhawatiran itu dikarenakan munculnya berbagai kelompok sosial-agama di masyarakat yang tidak lagi memandang penting untuk mempraktikkan, mempertahankan, dan memelihara khazanah kebudayaan Nusantara dan nilai-nilai luhur para leluhur.

Selanjutnya ia memaparkan rencana ke depan yayasan yang akan fokus di berbagai bidang seperti riset dan kajian yang menjadi concern Nusantara Institute, pendidikan, publikasi, dialog antar/intraagama dan kepercayaan, pemberdayaan ekonomi, dan sebagainya. Semua program dan aktivitas ini bermuara untuk melestarikan sekaligus mengembangbiakkan khazanah kebudayaan, local wisdom, dan hal-ihwal yang berkaitan dengan Nusantara. Ia menjelaskan bahwa, ke depan, Yayasan Nusantara Kita ini ibarat “rumah besar” yang akan mewadahi atau menjadi wadah berbagai lembaga atau institusi yang dibentuknya. Saat ini, untuk sementara, menurutnya, baru Nusantara Institute yang dibentuknya.

Foto: Potong Tumpengan dalam Peluncuran Nusantara Institute

Setelah selesai memaparkan latar belakang dan visi misi Yayasan Nusantara Kita, Sumanto kemudian  mengatakan bahwa untuk mewujudkan cita-cita dan mimpi-mimpi tersebut, yayasan ini membutuhkan dukungan, jejaring, dan partnership dengan semua pihak dari berbagai lembaga dan kelompok dimanapun yang peduli dengan Nusantara.

Bukan hanya dari kalangan internal yayasan, sambutan juga diberikan oleh Romo Otto yang mengingatkan tentang fenomena masyarakat Indonesia dewasa ini yang cenderung lupa atau bahkan meninggalkan budaya leluhurnya sendiri.

Ungkapan “Wong Jowo ilang Jawane” (Orang Jawa yang kehilangan ke-Jawa-annya) sangat pas untuk merepresentasikan fenomena masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, yang kehilangan identitas kultural kejawaan. Dengan sedih Romo Otto bertanya: “Masih adakah orang Jawa sekarang ini?” Yang ia maksud tentu saja orang Jawa yang melestarikan kebudayaan Jawa, bukan orang Jawa yang memelihara “budaya asing”. Fenomena kehilangan identitas budaya lokal ini bukan hanya terjadi di Jawa saja tapi juga terjadi di kawasan lain di Indonesia.

Rotto Otto juga menyayangkan tentang munculnya berbagai kelompok intoleran agama di masyarakat. Padahal, menurutnya, di zaman Kerajaan Majapahit, masyarakat agama sangat toleran, dan kerajaan juga menjaga spirit toleransi agama di masyarakat.

Bukan hanya memberi sambutan dan paparan, Romo Otto juga memimpin doa untuk kebaikan masyarakat, kedamaian Nusantara, dan keberlangsungan Yayasan Nusantara Kita (admin).