
Tulus Sudarto (Guru Agama Katolik di SMAN 2 Magelang)
Secara diametral, gencarnya sholawat di sekitar Muntilan dapat dipastikan bukanlah fenomena lokal yang berdiri sendiri. Glokalisasi ke-Islam-an senantiasa memiliki sangkut-paut dengan globalisasi Islam (Hefner 2014; Qurtuby 2014).
Yang menjadi pertanyaan standar adalah sejauh mana hasrat besar dalam pendalaman dan/atau penyebaran keislaman dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah untuk mempercayakan komunitas religius dalam mengelola tambang batu bara.
Kapital ekonomi dalam perkembangan agama memang senantiasa pivotal, kalau tidak influensial. Sampai dengan Abad Pencerahan, Eropa sendiri tidak pernah membangun dirinya tanpa agama. Vatikan membonceng glorifikasi Pax Romana tidak saja menyangkut dominasi teritorial, tetapi juga berikut sumber daya ekonomi yang ikut di dalamnya.
Kisah Reformasi Protestan oleh Martin Luther juga dipengaruhi oleh praktik simoni oleh Vatikan, di mana seluruh uang dari ritus indulgensi harus dikirimkan ke Roma dalam balutan narasi kepatuhan (Sudarto 2009: 87).
Dalam uraiannya, Prof. Nader Hashemi dari Universitas Georgetown (Public Lecture, 9 Desember 2025 di Perpustakaan UKSW) menyebutkan bagaimana Islam akan mengalami kelonjakan jumlah yang sedemikian signifikan. Mengutip Pew Research, sekitar 73% dari 7 miliar penduduk dunia pada tahun 2050 adalah Islam.
Sementara Kristen (termasuk di dalamnya Katolik, Protestan dan semua denominasi lainnya) hanya separuhnya di angka 35%. Pertanyaan sosiologis yang paling standar untuk diajukan mengenai kualitas nilai-nilai islami dalam ranah publik dalam implementasi civilisasi sosial merupakan satu kajian tersendiri yang sangat menarik.
Secara emosional, narasi dahsyat tentang pertumbuhan Islam yang sedemikian pesat memang menggemaskan, kalau bukan membuat geregetan. Karakter individu yang melekat dalam penghayatan Islam (Zakaria 2010: 37) sangat kompatibel dengan semangat posmodernisme di mana hirarki kebenaran tidak lagi berpusat pada institusi.
Pada titik inilah, Katolik menjadi satu-satunya denominasi yang paling rentan untuk kehilangan pengikutnya secara drastis karena bawaan instituionalnya yang begitu masif. Penambahan jumlah pengikut Katolik di Afrika atau Asia tidaklah signifikan karena sejalan dengan pertumbuhan populasi dunia.
Dalam kuliahnya, Sumanto Al Qurtuby menyampaikan betapa kebangkitan politik Islam di negara-negara Asia seperti India, Thailand, dan Filipina dipengaruhi oleh internasionalitas Islam di negara lain seperti revolusi Iran atau Mesir.
Betapa tarik ulur antara negara sekuler dan negara agama yang mencirikan pergerakan Islam politik di kawasan Arab menginspirasi kelompok Islam minoritas di beberapa negara Asia untuk melakukan pergerakan terbuka. Pakistan adalah salah satu contoh mengapa sedemikian maju dalam pertumbuhan keislamannya, dengan banyak ilmuwan kaliber internasional.
Hibrid Seni Tradisi Lokal
Secara faktual, kisah seorang remaja yang khatam Qur’an dan diadakan tasyakuran besar-besaran oleh keluarga mulai menjadi narasi akar rumput. Sedikitnya saya temui di Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Nyaris tasyakuran atas kelulusan seorang remaja dalam menghafal 30 juz dari Qur’an identik dengan perayaan 2 hari berturut-turut. Pada hari pertama, suasana keislaman menjadi fokus. Grup musik Hadroh akan semalam-malaman melantunkan lagu-lagu berbahasa Arab dan Jawa dalam atmosfer sukacita monastik. Mendengar lantunan lagu dengan ketukan ritmis dari rebana tidak bisa tidak membuat saya ikut larut dalam kontemplasi.
Persoalan bahasa tidak menjadi masalah, karena saya menyukai musik dalam genre apa pun. Pemandangan umum dalam tasyakuran adalah pelbagai booth makanan khas akar rumput seperti cilok, sempol, bakso, okle-okle, bojot, sosis, gurita, kebab, cilor, dan beberapa makanan ‚kelas rakyat‘ lainnya.
Sementara pada perayaan hari kedua, puncak acara adalah pertunjukan seni tradisional. Di daerah Lereng Merapi bagian barat, seni tradisional jathilan, gedruk, soreng, cakalele, topeng ireng, warok, dan kobra menjadi magnet tersendiri yang memiliki pangsa penggemar lintas desa, bahkan lintas kecamatan.
Kelompok jathilan dari Srumbung, misalnya, akan tampil dengan fans berat mereka di sekitar Muntilan bawah. Sementara kelompok Kudho Panglaras dari dusun Batur, Desa Ngargomulyo, memiliki pangsa penggemar yang sudah terbakukan. Koordinator Kudho Panglaras sendiri adalah seorang Katolik.
Sementara pemain dan pemusik Katolik berjumlah kurang lebih 10 orang. Namun, tidak ada masalah apa pun ketika mereka harus memainkan lagu-lagu bernuansa Islam pada pembuka. Penerimaan yang ikhlas ini sangat aseli dan mendasar. Bahkan sesekali dalam traktat tertentu, ekstremisme suatu agama justru menjadi biang pemisah di antara masyarakat Lereng Merapi.
Islam kultural sangat mencirikan penghayatan religius di lereng Merapi. Pengaruh Hinduisme kuno memang tidak dapat digantikan oleh narasi eksklusif suatu agama keselamatan apa pun. Mereka mengatakan: “Jawa dulu, baru agama.”
Ketika ada isu dimunculkan oleh seorang katekis LDII bahwa jathilan adalah musyrik karena mempercayai roh-roh syaitan ketika mengalami trans (Jawa: ndadi, kesurupan), pewartaan tersebut justru memicu resistensi tidak hanya dari kelompok seni tradisional saja, melainkan dari mayoritas masyarakat setempat. Oleh karenanya, LDII hanya diizinkan untuk tinggal di daerah bawah nyaris dekat Muntilan dan tidak diperkenankan tinggal di daerah atas (Lereng Merapi).
Dengan topik “Politicization of Islam and Islamization of Politics in Indonesia: a sociological perspective” dalam International Seminar bertajuk Religion and Politics and Peacebuilding oleh CePASo Universitas Islam Negeri Salatiga (17 November 2025), saya menyampaikan presentasi secara singkat tentang bagaimana civilisasi merupakan ukuran paling objektif untuk suatu perkembangan agama.
Saya tidak begitu peduli kalau Islam akan menguasai dunia dengan jumlah fantastis mencapai 73%; sama halnya, saya tidak terlalu ambil pusing bagaimana harus mengantisipasi pertumbuhan umat Katolik dalam tren penurunan jumlah besar-besaran.
Penelitian disertasi saya tentang hierarki, yaitu governasi institusi gereja Katolik oleh hierarki, menelaah bagaimana status sebagai agama yang paling institusional dengan pergantian suksesi kepemimpinan mencapai 267 kali semenjak Petrus pada abad ke-1, sekadar menyediakan data pada titik mana gereja Katolik sangat kokoh dalam penampakan publik; sementara di pihak lain bagaimana gereja Katolik terlihat ‘rapuh’ oleh gempuran juggernaut mentalitas posmodernisme. Wallahu’allam.

















