Beranda Publikasi Kolom Ramadan dan Tradisi Massuro Baca Masyarakat Bugis

Ramadan dan Tradisi Massuro Baca Masyarakat Bugis

29
0

Nurfadillah (Dosen Universitas Sawerigading, Makassar)

Pendahuluan: Nostalgia dan hangatnya Tradisi Mudik

Suasana penuh antusiasme selalu menyelimuti rumah-rumah masyarakat Bugis setiap kali menyambut bulan suci Ramadan. Sehari sebelum puasa, biasanya para perempuan Bugis sibuk menghabiskan waktu di dapur. Mereka memasak berbagai makanan, meracik perpaduan rempah untuk nasu likku’ (ayam lengkuas) dan kari ayam yang kental.

Aroma gurih tersebut berpadu sempurna dengan kepulan asap dari pembakaran bale tapa (ikan bandeng asap), serta wangi khas buras yang sedang direbus, menciptakan harmoni visual dan aroma yang membangkitkan memori kolektif akan kehangatan rumah.

Momen ini bukan sekadar nostalgia akan masakan ibu, melainkan wadah mempererat silaturahmi keluarga. Kerinduan akan suasana rumah dan kampung halaman menjadi magnet bagi para perantau untuk kembali, menjadikan puasa pertama sebagai ajang penguatan ikatan kekeluargaan.

Di balik kemeriahan tersebut, terdapat kebiasaan turun-temurun yang mengekspresikan religiusitas masyarakat Bugis melalui ritual yang dikenal sebagai Massuro Baca. Fenomena ini selaras dengan pandangan Christian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis (2006), yang menyatakan bahwa masyarakat Bugis memiliki keterikatan kuat terhadap tradisi yang menghubungkan dimensi keduniawian dengan dimensi spiritual.

Mengenal Massuro Baca: Ritual Doa dan Kesyukuran

Secara etimologis, istilah Massuro Baca berasal dari dua kata: “massuro” yang berarti menyuruh atau meminta bantuan, dan “baca” yang berarti mendoakan dengan menyajikan berbagai jenis makanan. Dalam konteks ini, Massuro Baca dapat didefinisikan sebagai pembacaan doa yang dilakukan dalam rangka melaksanakan suatu hajatan sebagai wujud kesyukuran kepada Allah SWT. Ritual ini menjadi jembatan antara harapan manusia dengan takdir Tuhan, yang dilakukan secara kolektif menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Dalam pelaksanaannya, pemilik hajat akan mengundang seorang Pabbaca. Sosok Pabbaca biasanya adalah imam kampung atau pemuka agama yang dianggap memiliki otoritas spiritual untuk memimpin doa. Kehadiran Pabbaca mencerminkan struktur sosial masyarakat Bugis yang sangat menghargai kepemimpinan agama dalam setiap aspek kehidupan. Melalui Pabbaca, doa-doa yang dipanjatkan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi bagian dari doa komunitas yang mengharapkan keberkahan bagi seluruh penghuni rumah.

Filosofi Simbolisme Makanan dan Ruang

Setiap elemen dalam Massuro Baca memiliki makna filosofis yang dalam. Ahmad Sultra Rustan (2018) dalam teorinya mengenai pola komunikasi orang Bugis menjelaskan bahwa komunikasi harapan tidak selalu disampaikan secara verbal, melainkan melalui simbol-simbol yang terdapat dalam upacara, benda, dan makanan.

Hidangan yang disajikan di atas baki, seperti nasu likku’ kari ayam, ikan bakar, ayam goreng, udang, acar, dan lain-lain, bukan sekadar pemuas rasa lapar sebelum berpuasa. Makanan tersebut adalah simbol kesiapan fisik dan mental dalam menyambut tantangan bulan Ramadan.

Penyusunan baki-baki tersebut mengikuti logika kosmologi tertentu menurut Ahar (imam kampung):

  • Baki Pertama: Berfungsi sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang telah diberikan Allah SWT selama satu tahun terakhir.
  • Baki Kedua: Diniatkan untuk mengirimkan doa (salawat) kepada Nabi Muhammad SAW sebagai panutan spiritual.
  • Baki Ketiga: Ditujukan untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
  • Baki khusus Posi Bola: Baki khusus yang diletakkan di Posi Bola (pusat rumah) untuk mendoakan malaikat penjaga rumah, yang mencerminkan kepercayaan akan perlindungan metafisik terhadap hunian.

Selain makanan, penggunaan dupa yang dibakar memberikan aroma khas yang memenuhi ruangan menjadi tanda dimulainya ritual dan menciptakan suasana sakral. Penggunaan wadah seperti kapparak (baki besar) juga menunjukkan nilai mappakalebbi, yaitu sikap memuliakan atau menghormati tamu serta entitas spiritual yang didoakan. Semua ini dilakukan semata-mata  sebagai bentuk kesyukuran tuan rumah dan keluarganya agar diluaskan rezeki dan kesehatan, serta sebagai sedekah makanan yang pahalanya untuk orang yang sudah wafat.

Metafisika Persembahan: “Kita Makan Kasarnya dan Mereka Makan Halusnya”

Salah satu aspek yang paling unik dari tradisi ini adalah konsep interaksi antara dunia nyata dan dunia gaib. Christian Pelras mencatat bahwa dalam pandangan masyarakat Bugis, sajian makanan diperuntukkan bagi makhluk halus (to-alusu) atau arwah leluhur yang telah lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Kepercayaan ini melahirkan istilah: “Kita makan kasarnya, mereka makan halusnya.”

Menurut keyakinan ini, makhluk tak kasatmata (to-tenrita) akan menyantap esensi atau unsur-unsur halus dari hidangan tersebut melalui doa-doa yang dibacakan. Sementara itu, manusia yang masih hidup menyantap bagian “kasar” atau substansi fisik dari hidangan tersebut. Hal ini bukan berarti praktik syirik (menyekutukan Tuhan), melainkan bentuk penghormatan dan pemeliharaan hubungan emosional dengan leluhur, yang dalam Islam dikenal sebagai konsep birrul walidain (berbakti kepada orang tua) meskipun mereka telah tiada.

Akulturasi: Living Quran dan Kompromi Islam-Adat

Massuro Baca adalah contoh nyata dari apa yang disebut sebagai Living Quran, yang mana ayat-ayat suci Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi dipraktikkan dalam konteks sosial budaya tertentu untuk tujuan-tujuan fungsional seperti memohon keselamatan atau keberkahan. Tradisi ini menunjukkan bahwa pertemuan Islam dengan budaya lokal Bugis tidak bersifat konfliktual secara absolut, melainkan terjadi akulturasi timbal balik.

Ahmad Sultra Rustan menyebut fenomena ini sebagai “Kompromi antara Islam dan Budaya”. Meskipun sering mendapat kritik dari kelompok puritan yang menganggap tradisi ini berada dalam “frame hitam-putih” atau bid’ah, masyarakat Bugis tetap melestarikannya sebagai bagian dari Pangngadereng (adat) yang tidak terpisahkan dari syariat. Dalam filosofi Bugis, agama dan adat digambarkan sebagai dua temmassarang (dua hal yang tak terpisahkan). Hukum-hukum Islam telah menginovasi sistem adat menjadi lebih Islami, di mana orientasi utama ritual ini tetaplah berporos pada Tauhid dan kesyukuran kepada Allah SWT.

Dimensi Sosiologis: Solidaritas dan Kelenturan Budaya

Secara sosiologis, Massuro Baca berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga soliditas sosial. Melalui tradisi tudang sipulung (duduk bersama), kerabat dan tetangga berkumpul untuk bersantap secara berjamaah. Hal ini menciptakan ruang dialog dan integrasi sosial yang kuat di tengah masyarakat. Ritual ini memperkuat social capital (modal sosial) yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan komunitas.

Selain itu, tradisi ini menunjukkan sifat yang “lentur” atau adaptif. Pelaksanaan Massuro Baca sangat bergantung pada kemampuan finansial dan tenaga pemilik rumah. Jika sebuah keluarga tidak mampu melaksanakannya karena keterbatasan ekonomi, hal itu tidak menjadi masalah moral atau sosial yang berat. Kelenturan ini membuktikan bahwa tradisi ini adalah ekspresi cinta dan syukur, bukan beban syariat yang memberatkan.

Kesimpulan: Momentum Kesyukuran yang Transenden

Sebagai penutup, Massuro Baca adalah sebuah budaya yang lahir dari rahim spiritualitas Bugis yang religius. Ia merupakan momentum untuk mengingat kembali kebesaran Allah SWT dan menghargai jasa-jasa leluhur. Melalui hidangan yang disajikan dan doa yang dilangitkan, masyarakat Bugis merayakan transisi menuju bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh rasa syukur.

Tradisi ini membuktikan bahwa Islam sebagai ajaran yang dibawa para ulama mampu bersikap moderat dan bersahabat dengan budaya setempat. Hasil adaptasi ini menghasilkan inovasi kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai islami, sekaligus menjaga warisan luhur nenek moyang. yang mengekspresikan religiusitas masyarakat Bugis, baik dalam dimensi ibadah mahdhah maupun muamalah.

Daftar Pustaka

Arafah, C. A., & Rahman, A. (2023). Keterkaitan Budaya Ma’baca-baca dengan Bulan Ramadhan dalam Masyarakat Lanrisang. Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama.

Fitri, L. (2021). Makna Tradisi Massuro Baca di Desa Labuhan Aji Kabupaten Sumbawa: Kajian Semiotika Charles Sanders Peirce. Mataram: Universitas Mataram.

Noercholish. (2023). Akulturasi Islam Terhadap Tradisi Ma’baca Baca Suku Bugis. Al Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama.

Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Forum Jakarta-Paris.

Rustan, Ahmad Sultra. (2018). Pola Komunikasi Orang Bugis: Kompromi Antara Islam dan Adat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Syamsiah. (2021). Ritual Massuro Baca Pada Masyarakat Bugis Tinco Bone Perspektif Maqashid al-Syari’ah. Al-Mizan.

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini