Beranda Publikasi Kolom Nyadran Perdamaian: Inovasi Tradisi Lokal dan Penyemaian Makna Baru

Nyadran Perdamaian: Inovasi Tradisi Lokal dan Penyemaian Makna Baru

36
0

Ni’am Khurotul Asna (Alumni Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulunganggung & Awardee Nusantara Academic Writing Award 2024)

Nyadran merupakan tradisi lokal serupa kenduri yang digelar tiap tahun oleh masyarakat Jawa. Tradisi Nyadran secara umum bertujuan sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan nikmat masyarakat lokal kepada Tuhan dan alam sekaligus mendoakan para leluhur yang sudah mendahului sebagai pepeling kematian yang pasti datang. Di banyak daerah, Nyadran juga digelar sebagai tradisi slametan menyambut datangnya bulan Ramadan. Dilaksanakan menjelang bulan Ruwah atau Sya’ban, Nyadran menjadi penanda siklus kehidupan sekaligus berevolusi dengan keterbaruan yang menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.

Nyadran menjadi ruang sosial-spiritual yang menyatukan doa, gotong royong, rasa berbagi, dan kebersamaan menjadi kesatuan yang terhubung. Ruang sosial-spiritual tersebut masuk dalam agenda bersih makam, tabur bunga, sesaji, doa, dan makan bersama yang mencerminkan cara komunitas memaknai siklus hidup secara utuh.

Di Dusun Gletuk dan Krecek, Desa Getas, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, tradisi ini berevolusi dengan nama Nyadran Perdamaian. Di dua dusun ini, Nyadran hidup sebagai identitas budaya yang adaptif terhadap serapan nilai lama dan peleburan nilai baru yang relevan dengan praktik keagamaan dan kehidupan kontemporer. Tradisi Nyadran mendapat inovasi gaung “perdamaian” yang berasal dari inisiatif AMAN Indonesia dalam rangka menyebarkan nilai-nilai perdamaian di ranah kearifan lokal yang didorong oleh semangat generasi muda dengan melibatkan partisipasi utuh perempuan.

Nyadran Perdamaian menjadi manifestasi tradisi spiritual berbasis ekologis dan kearifan lokal yang hadir dalam ragam latar belakang yang berbeda. Salah satu ragam multikultural yang menghidupi Nyadran Perdamaian selain ziarah makam dan kenduri adalah pelaksanaan ritual yang diikuti masyarakat lintas iman dari Islam dan Buddha.

Inovasi Tradisi dan Transformasi Nilai

Nyadran Perdamaian membawa manifestasi spiritual ekologis dengan nilai-nilai kearifan lokal yang menggerakkan lintas generasi dan seluruh masyarakat dalam bingkai keberagaman. Sebagaimana Edward B. Taylor yang mengungkapkan bahwa kebudayaan begitu eksotis melingkupi kompleksitas kehidupan yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai bagian dari masyarakat.

Inovasi tradisi yang hadir lantas menyuguhkan beragam nilai filosofi kehidupan yang mengarah pada nilai-nilai perdamaian, keadilan dan kesetaraan gender, merawat ruang-ruang perjumpaan masyarakat yang beragam, serta pemeliharaan harmoni antara manusia, Tuhan, alam, hewan, dan leluhur. Masyarakat memahami tradisi sebagai dinamisasi kultur sosial-budaya melalui proses Nyadran Perdamaian yang berlangsung secara partisipatif, tradisional, dan melibatkan beragam entitas dari para pengunjung. Sementara para pengunjung atau tamu dari luar akan mendapatkan pengalaman yang ditemui dari keterlibatan dalam praktik perawatan lokal kampung yang dibagikan kepada tamu sebagai inspirasi nilai-nilai tradisi.

Nyadran Perdamaian yang diadakan di pedesaan membawa ruang eksplorasi besar yang indah dan damai bagi para pengunjung yang kebanyakan datang dari perkotaan besar. Selain para tamu diajak untuk menjelajahi praktik tradisi dan kesenian lokal, mereka juga diajak oleh komunitas dusun dengan AMAN Indonesia untuk memaknai nilai-nilai perdamaian dari cara hidup masyarakat dusun, relasi sosial mereka, hingga subkultur-ekologis dusun yang latarnya wilayah pegunungan dan perkebunan yang subur.

Kebanyakan para tamu dan jejaring luar terkesima dengan daya hidup masyarakat di dua dusun ini. Nilai-nilai edukasi dari rangkaian kegiatan Nyadran Perdamaian berdampak positif kepada masyarakat. Mereka menyebarkan praktik santun kepada sesama serta menghargai dan menerima modernitas yang hadir dalam kehidupan mereka. Begitu juga dengan geografi pedesaan, norma, dan kultur masyarakat yang murni tak membuat mereka hanyut terpengaruh modernitas yang menjauhkan mereka dari lokalitas. Mereka meyakini bahwa desa adalah sumber, asal muasal, dan akar. Justru, mereka memiliki kesadaran kolektif untuk merawat nilai-nilai lokalitas sebagai modal utama untuk tidak rentan menjadi masyarakat rapuh.

Keeksotisan lainnya yang datang dari masyarakat dusun adalah mereka terbiasa dengan perbedaan yang hadir. Mereka menyadari bahwa latar belakang agama dan suku itu beragam. Mereka menjaga rasa  kebersamaan, bebas, dan terbuka terhadap pilihan yang diyakini individu. Keterbukaan terhadap individu dan sesama juga menempatkan relasi setara dan adil antara laki-laki dan perempuan. Pekerjaan sehari-hari yang terjadi di dalam dan di luar rumah dilakukan bersama-sama dengan pembagian kerja masing-masing.

Perempuan: Pionir Keberlangsungan Tradisi

Dalam upacara adat dan ritual tradisional, seyogianya semua kalangan masyarakat bersama-sama menggerakkan pelaksanaan tradisi agar berjalan dengan baik dan saksama. Dari pelaksanaan ini, perempuan  menjadi pemeran penting dalam memastikan tradisi berjalan dengan lancar.

Kita pun bisa meyakini bahwa penekanan terhadap perempuan memainkan peran penting itu terjadi karena mereka menyediakan berbagai kebutuhan ritual seperti sesaji, makanan, sekaligus tempat yang hampir semuanya membutuhkan pelibatan perempuan. Sehingga saat menjelang Nyadran, dari dapur rumah-rumah para perempuan menjalankan perannya untuk saling mengupayakan tradisi masih tetap berjalan.

Selain makanan yang disiapkan untuk kenduri, perempuan juga menyiapkan sesaji untuk Nyadran Kali (mata air dan sungai). Masyarakat lokal melaksanakan Nyadran Kali sebagai bentuk Nyadran Pepunden (leluhur yang dihormati) kepada para danyang dan arca yang dipercaya menjaga tempat dan sumber-sumber mata air. Sesajen ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sebagai sumber penghidupan masyarakat lokal. Sesajen tersebut berupa bunga dan makanan diletakkan dengan penuh rasa hormat serta didoakan oleh tokoh dan masyarakat sebagai ungkapan syukur atas nikmat serta pengharapan atas perlindungan dan penjagaan.

Begitu juga saat Nyadran Makam, para perempuan bersama-sama membersihkan makam sebagai bentuk rasa menghormati terhadap leluhur dan mereka yang telah lama meninggal. Saat membersihkan makam, para perempuan menciptakan kebersamaan antarsesama, saling sapa, dan rembuk. Sehingga, dari serangkaian tradisi yang mengarah pada basis sosial masyarakat, wadah bagi perempuan dibentuk untuk secara nyata memberi kebermanfaatan bagi sekitar.

Kearifan lokal dalam tradisi, kesenian, maupun kultur yang membentuk entitas masyarakat akan terbentuk secara optimal nilai dan maknanya jika kebersamaan, kesetaraan, dan pelibatan seluruh kalangan terwujud. Berjalannya tradisi harus terbuka untuk semua kalangan; antara laki-laki, perempuan, maupun anak muda.

Lebih jauh, pengetahuan perempuan tentang makna dan tata cara ritual sangat penting untuk kelancaran dan kesakralan ritual. Ketika perempuan menjadi pemeran utama yang menjamin terlaksananya tradisi, baiknya untuk saling memahami pengetahuan akan tradisi itu sendiri. Sebab pengetahuan tersebut akan diajarkan kepada generasi selanjutnya. Sebagai kritik, agaknya sayang jika perempuan hanya menjadi pemeran yang sekadar menyediakan kebutuhan ritual—tanpa memahami hakikat tradisi dengan terlibat dan hadir saat pelaksanaan. Meskipun mereka meyakini bahwa tradisi itu keberadaannya sangat krusial dan akan tetap relevan.

Oleh karena itu, penting kiranya jika penyebaran edukasi mengenai Nyadran Perdamaian juga disebarkan kepada masyarakat dusun. Dari edukasi tersebut diharapkan akan terjadi dialog yang lebih mendalam mengenai refleksi pengalaman ber-Nyadran kepada peserta kegiatan atau para tamu dan juga masyarakat lokal. Sehingga peningkatan kapasitas terhadap penjagaan dan perawatan kearifan lokal serta pemahaman mengenai makna dan sikap yang tercermin bersama-sama dapat tercurah secara mendalam.

Akan tetapi, nilai krusial yang telah ada dan ini menjadi hal yang tak kalah penting ditemukan adalah kehadiran dan partisipasi perempuan dalam menjaga hubungan baik di kehidupan sosial maupun lingkungan sekitarnya menjadi kultur sosial yang perlu dijaga. Misalnya, rasa menghormati dan menjaga hubungan baik dengan tetangga, saling sapa saat bertemu, dan saling bantu antartetangga. Kebiasaan yang terjaga ini menjadi penting mengingat hubungan bermasyarakat merupakan kunci usaha mempertahankan kearifan lokal.

Praktik tersebut terjadi dengan melihat dan mengamati masyarakat saling memberlakukan rasa ‘Tepa Slira’ (empati dan tenggang rasa terhadap sesama dan tetangga), ‘guyub rukun’ dengan tidak melakukan tindakan diskriminatif tetapi menerapkan toleransi terhadap perbedaan. Kultur dan budaya masyarakat terhubung dengan relasi kesalingan antarmanusia, hewan, alam, dan Tuhan. Maka, bisa dipahami bahwa inovasi tradisi dari Nyadran Perdamaian dan kohesi sosial masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk di Temanggung dapat menjadi manifestasi baik berjalannya tradisi lokal di Indonesia dengan nilai-nilai perdamaiannya.

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini