Yesi (Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Agama, UKSW)
Globalisasi ekonomi dapat berdampak ganda bagi agama, apakah menjadi sebuah ancaman atau sarana perkembangan dan pertumbuhan.[1]
Dalam cakupan pengertian fundamental, keugaharian (kesahajaan) merupakan suatu arah pencapaian. Namun, di sisi lain, ekonomi adalah modal sosial keagamaan. Fundamentalisme agama menekankan pengajaran mengenai moral dan perjuangan spiritual.
Sementara itu, globalisasi menuntut agama untuk memiliki modal untuk bertahan dan berkembang. Para peneliti telah menemukan keterkaitan erat antara ekonomi dan agama. Bagaimana dampak kegiatan ekonomi dan nilai ekonomi terhadap agama? Demikian pula sebaliknya.
Kapitalisme, sebuah ide revolusioner yang terjadi pada abad ke 19.[2] Pada masa itu, Max Weber, salah satu tokoh penting dalam sosiologi klasik, mulai memikirkan apa pengaruh agama terhadap kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari?
Bukan hanya bidang ekonomi, tetapi juga bagaimana ide-ide religius menguasai kehidupan sehari-hari sekelompok masyarakat yang disebut kaum puritan?[3]
Weber menghubungkan ajaran predestinasi Calvin dengan fakta ekonomi. Jika seseorang bekerja dengan giat dan mendapatkan hasil yang baik, ia boleh dikatakan sukses. Dengan demikian, kesuksesannya menjadi penentu bahwa ia kelak dapat memperoleh predestinasinya apabila kemampuan ekonomi yang dimilikinya digunakan bukan semata-mata untuk dirinya maupun untuk kepentingan duniawi, melainkan digunakan sesuai dengan kehendak Tuhan.[4]
Dalam kehidupan duniawi, harus mampu memberikan kesejahteraan kepada orang lain dengan cara melipatgandakan modal.[5] Pada masa itu kapitalisme sudah menjadi sistem yang sangat kuat. Namun, ide Weber untuk mengubah kapitalisme yang mulanya adalah semata-mata sebuah sistem untuk mencari kepentingan pribadi (keserakahan), menjadi sarana pencari kekayaan demi kepentingan bersama.[6]
Mendahului itu, pada masa klasik Islam, banyak ilmuwan Islam yang mengembangkan kajian ekonomi empiris yang menjelaskan fenomena aktual aktivitas ekonomi secara riil di masyarakat dan negara.[7]
Tidak dapat tidak untuk merujuk pada pemikiran Ibnu Khaldun, sosiolog dan sejarawan yang memikirkan aspek-aspek ekonomi. Pemikirannya tentang ekonomi antara lain adalah teori produksi, teori nilai uang, dan harga, teori distribusi, dan teori siklus.[8]
Perkembangan ekonomi agama selanjutnya dapat diidentifikasi pada kemajuan perekonomian negara-negara Islam. Malaysia diakui sebagai negara yang sukses dalam membangun ekonomi di dunia Islam. Sebutan “keajaiban Asia” merupakan bentuk pengakuan yang diberikan oleh Bank Dunia terhadap laporan dan agenda reformasi Islam Malaysia.[9]
Selanjutnya, kita dapat melihat bahwa agama Hindu memiliki forum ekonomi dunia. World Hindu Economic Forum (WHEF) adalah forum bisnis berbasis agama transnasional yang beranggotakan kalangan nasionalis Hindu. Pada tahun 2014, retorika peradaban menjadi penanda politik India kontemporer dan diwariskan hingga India masa kini. Teks-teks Weda dan Upanishad, teks filsafat politik (Kautilya Arthashastra) mewarnai gagasan kebangkitan Hindu tersebut.[10]
Buddhisme di Taiwan melalui kelompok filantropis Fo Guang Shan, Tzu Chi Foundation, dan Dharma Drum Mountain mempraktikkan agama Buddha yang mengurus perkara duniawi, yakni modernisme, kapitalisme, altruisme, dan pembangunan ekonomi. Kendati Buddhisme merupakan agama pertapaan, namun tindakan sosial sudah dipraktikkan sejak zaman dahulu.
Taiwan, sebuah negara dengan persentase terbesar penduduknya beragama Buddha, mengalami pertumbuhan ekonomi sejak tahun 1980-an. Sebuah pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dengan pencapaian spektakuler dalam industri dan teknologi. Kekuatan ekonomi telah mengubah Taiwan, sebuah negara kepulauan kecil di timur Cina, dari masyarakat agraris yang miskin menjadi negara industri yang makmur. [11]
Invasi globalisme sudah terimplementasi pada berbagai agama dan memberi efek kemajuan, bahkan diyakini dan dihidupi sebagai aplikasi iman. Lantas, mungkinkah sekularitas ekonomi menjadi suatu ancaman?
Seorang reformis Inggris bernama George Jacob Holyoake menggunakan kata sekularisme untuk sikap duniawi dalam hubungannya dengan moral pribadi, filsafat, organisasi masyarakat, dan politik.[12]
Sekularisme berkaitan dengan kebebasan, bahwa setiap individu memiliki martabat untuk mengambil keputusannya sendiri, termasuk tentang agama. Dalam sejarah agama dan politik di Eropa, golongan Baptis mengembangkan konsep bahwa satu-satunya keyakinan yang sah adalah yang diperoleh dalam konteks kebebasan. Tuhan sendiri adalah seorang yang sekuler.[13]
Al-Qur’an mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Sementara itu, ajaran Hindu menganggap bahwa agama itu persoalan individu, sebagaimana Mahatma Gandhi mengatakan, “Aku bersumpah demi agamaku. Aku akan mati untuk itu. Tapi itu urusan pribadi saya. Negara akan menjaga kesejahteraan sekuler Anda, kesehatan, komunikasi, hubungan luar negeri, mata uang, dan sebagainya, tetapi bukan agama Anda atau saya.”[14]
Terdapat kontradiksi di antara 3 konsep kebebasan tersebut. Agama itu sekuler dan agama itu tidak sekuler. Sekularitas berbicara mengenai keadilan dan kebebasan, agama pun membicarakan itu. Jadi sesungguhnya, tradisi agama maupun non-agama pada prinsipnya dapat diakses dan dipersuasikan oleh tradisi mana pun, termasuk sekularitas.[15]
Dalam pandangan Nehru, sekularisme merupakan salah satu pilar modernitas.[16] Agama itu sendiri berada dalam pergerakan global yang mencirikan modernitas. Maka, dalam sudut pandang menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa agama dan sekularitas tidak terpisahkan.
Beranjak untuk melihat ekonomi secara spesifik, apakah ekonomi semata-mata merupakan hal yang sekuler? Sederhananya adalah dengan melihat pada apa yang telah dipaparkan di atas, bahwa agama sangat identik dengan ekonomi. Perekonomian dipandang sebagai suatu hal yang religius.
Pengaplikasian ajaran agama dalam konteks sosial, mewujudkan moralitas dan altruisme, sering terkait dengan hal ekonomi. Misalnya, pengajaran agama, salah satunya adalah memberi kepada yang tidak mampu. Pemberian tersebut merupakan praktik ekonomi, dan sasarannya adalah pemenuhan hubungan sosial.[17] Yang perlu diperhatikan ialah moralitas agama menuntut penerapan ekonomi secara hati-hati dan bijaksana.
Menjawab pertanyaan pada bagian awal tulisan refleksi ini, bahwa globalisasi ekonomi mendukung implementasi ajaran agama. Sekularitas yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab bukanlah sebuah ancaman bagi agama, akan tetapi agama dan sekularitas dalam hal ini, ekonomi, berada dalam hubungan yang tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan keadilan sosial.
[1] Lionel Obadia and Donald C Wood, Economics of Religion: Anthropological Approaches (Emerald Group Publishing, 2011).
[2] George Ritzer and Barry Smart, “Handbook Teori Sosial” (2011): 108.
[3] Ritzer and Smart, “Handbook Teori Sosial,” 109.
[4] Max Weber and Stephen Kalberg, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (Routledge, 2013), 32.
[5] Weber and Kalberg, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, 34.
[6] Weber and Kalberg, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, 36.
[7] Bahrul Ulum, “Kontribusi Ibnu Khaldun Terhadap Perkembangan Ekonomi Islam,” Iqtishodia: Jurnal Ekonomi Syariah 1, no. 2 (2016): 20.
[8] Ulum, “Kontribusi Ibnu Khaldun Terhadap Perkembangan Ekonomi Islam,” 23–30.
[9] Mohamed Aslam Haneef, “Islam and Economic Development in Malaysia—A Reappraisal,” Journal of Islamic Studies 12, no. 3 (2001): 270.
[10] Esra Elif Nartok, “‘Hindu Civilization’in Business: The World Hindu Economic Forum’s Intellectual Project,” International Affairs 99, no. 2 (2023): 495–496.
[11] Sumanto Al Qurtuby, “Buddhism and Worldliness in Modern Taiwan,” Journal of contemporary religion 35, no. 3 (2020): 543–564.
[12] Andrew Copson, Secularism: Politics, Religion, and Freedom (Oxford University Press, 2017).
[13] Copson, Secularism: Politics, Religion, and Freedom.
[14] Copson, Secularism: Politics, Religion, and Freedom.
[15] Copson, Secularism: Politics, Religion, and Freedom.
[16] Copson, Secularism: Politics, Religion, and Freedom.
[17] Obadia and Wood, Economics of Religion: Anthropological Approaches, 241.


















