Mukhamad Hamid Samiaji (Pemerhati Budaya di Lembaga Kajian Nusantara Raya Purwokerto)
Di era ketika aroma lemon sintetis dan cairan pembersih serba antibakteri menjadi tolok ukur kebersihan, Desa Sade di Pulau Lombok mempertahankan tradisi yang membuat banyak orang luar terheran-heran: membersihkan lantai rumah dengan kotoran sapi. Praktik ini tampak bertolak belakang dengan citra kebersihan modern yang diiklankan di media massa. Namun, bagi masyarakat Sade, metode ini bukan sekadar teknis membersihkan lantai, melainkan sebuah warisan budaya yang memuat makna mendalam. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menghubungkan manusia, hewan, dan tanah sebagai satu kesatuan ekosistem kehidupan (Sahira et al. 2023). Dalam perspektif antropologi, praktik ini adalah bentuk pengetahuan lokal yang mengandung nilai ekologis, sosial, dan spiritual.
Bagi orang luar, terutama yang terbiasa dengan standar kebersihan perkotaan, kotoran sapi identik dengan bau tak sedap dan kotoran yang harus dibuang. Namun, di Sade, bahan ini justru dihargai sebagai sumber daya yang dapat memperbaiki kualitas lantai rumah adat. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar, masyarakat Sade menghindari ketergantungan pada bahan kimia pembersih. Hal ini menunjukkan keberlanjutan dalam pemanfaatan alam yang sesuai dengan prinsip zero waste tanpa mereka sadari. Tradisi ini menjadi bentuk perlawanan halus terhadap homogenisasi budaya yang menyingkirkan praktik tradisional.
Lebih jauh, praktik membersihkan lantai dengan kotoran sapi juga menjadi pernyataan identitas budaya. Masyarakat Sade mempertahankannya sebagai ciri khas yang membedakan mereka dari komunitas lain. Bagi warga, aroma khas lantai yang baru dibersihkan bukanlah tanda kekotoran, melainkan aroma rumah yang hidup. Setiap kali lantai di-belulut, mereka sedang memperkuat ikatan dengan leluhur melalui pengulangan ritus yang diwariskan. Hal ini sesuai dengan pandangan Geertz bahwa tindakan keseharian dapat memuat simbolisme yang melampaui fungsi praktisnya.
Kebersihan Menurut Leluhur
Rumah adat di Desa Sade sebagian besar dibangun dari bahan alami seperti bambu, alang-alang, dan tanah liat. Lantai tanah liat ini memerlukan perawatan berkala untuk menjaga kualitas dan ketahanannya. Proses ngelempoh atau belulut dilakukan dengan mengoleskan campuran kotoran sapi dan air secara merata ke permukaan lantai (Sahira et al. 2023). Lapisan ini membantu menutup pori-pori tanah, mencegah retakan, dan mengurangi debu. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh perempuan desa, terutama ibu rumah tangga, sebagai bagian dari rutinitas kebersihan rumah.
Tradisi ini tidak hanya menjaga fisik bangunan, tetapi juga memuat nilai simbolis. Bagi masyarakat Sade, lantai yang dibersihkan dengan kotoran sapi melambangkan penyegaran energi rumah. Istilah ngelempoh yang berarti “menghidupkan kembali” mencerminkan pemahaman bahwa rumah adalah entitas yang perlu dirawat secara spiritual dan fisik. Setiap olesan dianggap sebagai tindakan menjaga keharmonisan antara penghuni rumah dan alam sekitarnya. Dengan demikian, lantai menjadi bagian penting dari narasi budaya yang menyatukan manusia, tanah, dan ternak.
Selain itu, praktik ini merepresentasikan pengetahuan arsitektur tradisional yang peka terhadap lingkungan. Masyarakat memanfaatkan bahan yang tersedia tanpa harus membeli atau mengimpor dari luar. Pendekatan ini sejalan dengan konsep keberlanjutan yang menekankan pemanfaatan sumber daya lokal. Dalam hal ini, belulut bukan sekadar teknik perawatan, tetapi juga manifestasi filosofi hidup yang menghargai keseimbangan alam. Nilai-nilai tersebut menjadikan kebersihan menurut leluhur Sade sebagai bagian integral dari warisan budaya mereka (Puspa dan Kusuma 2022).
Nilai dan Makna di Balik Kotoran Sapi
Penelitian Sahira et al. (2023) menemukan bahwa belulut memuat nilai-nilai yang kaya, mulai dari religi hingga keindahan. Secara religi, lantai yang baru dibersihkan dianggap lebih suci dan layak untuk menerima tamu atau melaksanakan upacara adat. Secara budaya, ia menjadi identitas kolektif yang membedakan Sade dari desa-desa lain di Lombok. Nilai gotong royong terlihat ketika warga bekerja bersama, saling membantu dalam proses pembersihan. Bahkan, aspek estetika hadir dalam tampilan lantai yang lebih rata, halus, dan rapi.
Kotoran sapi di sini tidak dipandang sebagai kotoran dalam pengertian negatif. Ia adalah medium yang menghubungkan masyarakat dengan siklus hidup alam. Dengan memanfaatkannya, masyarakat menunjukkan adaptasi terhadap lingkungan yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Dalam logika mereka, bahan ini mengandung kekuatan untuk menjaga rumah dari serangga, kelembapan berlebih, dan energi negatif. Pandangan ini sejalan dengan konsep ekologi tradisional yang menempatkan limbah organik sebagai bagian dari siklus produktif.
Selain itu, nilai-nilai ini berfungsi sebagai alat pendidikan budaya bagi generasi muda. Anak-anak yang terlibat dalam proses belulut belajar menghargai kerja kolektif dan keterhubungan dengan alam. Mereka tidak hanya melihat kebersihan dari sudut pandang visual, tetapi juga dari harmoni antara manusia dan lingkungannya. Dengan demikian, tradisi ini membentuk kesadaran ekologis sekaligus identitas kultural. Nilai-nilai tersebut menjadikan belulut lebih dari sekadar kebiasaan, melainkan manifestasi dari filosofi hidup masyarakat Sade.
Logika Ekologis yang Tersembunyi
Metode belulut menyimpan logika ekologis yang dalam dan sering kali terabaikan oleh masyarakat modern. Kotoran sapi mengandung serat dan enzim alami yang mampu mengusir serangga kecil dan mencegah masuknya kelembapan berlebih ke lantai (Zahra dan Syaiful 2021). Dengan sifat perekatnya, ia membantu memperpanjang umur lantai tanah liat tanpa memerlukan bahan kimia tambahan. Bahan ini sepenuhnya tersedia dari lingkungan sekitar tanpa harus membeli produk pembersih industri. Hal ini menunjukkan bentuk kemandirian ekonomi sekaligus keberlanjutan ekologis.
Pendekatan ini secara tidak langsung mengajarkan prinsip zero waste. Semua bahan yang digunakan bersumber dari lingkungan lokal, sehingga tidak menimbulkan limbah plastik maupun polutan kimia. Prinsip ini telah dipraktikkan masyarakat Sade jauh sebelum istilah keberlanjutan menjadi tren global. Vandana Shiva (2005) menegaskan bahwa pengetahuan lokal sering kali menyimpan solusi ekologis yang lebih ramah lingkungan dibanding teknologi modern. Belulut menjadi bukti nyata bahwa kebiasaan tradisional dapat selaras dengan prinsip ekologi kontemporer.
Lebih dari sekadar efisiensi bahan, metode ini juga menjaga siklus kehidupan alami. Kotoran sapi yang di tempat lain dianggap limbah, di sini menjadi sumber daya yang bermanfaat. Proses pengambilannya tidak merusak ekosistem dan bahkan mendukung pemeliharaan ternak. Hal ini menciptakan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang saling menguntungkan. Dengan cara ini, belulut memadukan kearifan ekologis dan praktik keberlanjutan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Sade.
Perspektif Kesehatan dan Higienitas
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah penggunaan kotoran sapi aman bagi kesehatan penghuni rumah. WHO (2019) menegaskan bahwa kebersihan harus dinilai dari kemampuannya mencegah penyakit, bukan hanya dari penampilan visual. Proses belulut melibatkan pencampuran kotoran sapi dengan air dan paparan sinar matahari, yang membantu mengurangi populasi bakteri patogen (WHO 2020). Selain itu, lantai tanah yang telah dilapisi kotoran sapi jarang digunakan untuk makan langsung, sehingga risiko kontaminasi makanan dapat diminimalkan. Kebiasaan menyapu lantai setiap hari juga menjaga higienitas.
Penelitian Sahira et al. (2023) menunjukkan bahwa masyarakat Sade memiliki strategi lokal untuk meminimalkan risiko kesehatan. Misalnya, mereka memilih kotoran dari sapi yang sehat dan segar, lalu menggunakannya segera agar kualitasnya terjaga. Proses ini dilakukan pada pagi hari saat sinar matahari cukup terik, sehingga membantu proses sterilisasi alami. Masyarakat juga memahami bahwa belulut sebaiknya dilakukan pada periode tertentu, bukan setiap hari, untuk menjaga kualitas udara dalam rumah. Dengan pengetahuan ini, praktik belulut tetap aman dalam konteks lokalnya.
Definisi kebersihan sendiri bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh budaya. Standar higienitas di perkotaan yang mengandalkan desinfektan kimia tidak selalu relevan di lingkungan pedesaan dengan sumber daya terbatas. Dalam konteks Sade, kebersihan diukur dari kenyamanan, keamanan, dan kesesuaian dengan lingkungan alam sekitar. Dengan pemahaman ini, belulut menjadi bentuk kebersihan yang fungsional sekaligus berkelanjutan. Praktik ini memperlihatkan bahwa konsep bersih tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai dan kebiasaan setempat.
Ritual Kebersamaan
Belulut bukan sekadar pekerjaan rumah tangga, tetapi juga momen sosial yang memperkuat ikatan antarwarga. Proses ini sering melibatkan anggota keluarga besar atau tetangga yang datang membantu. Saat bekerja bersama, percakapan mengalir tentang berita desa, rencana panen, atau cerita masa lalu (Sahira et al. 2023). Gotong royong ini menegaskan bahwa kebersihan di Sade adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekadar urusan individu. Kehadiran anak-anak dalam kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran budaya sejak dini.
Aktivitas bersama ini juga mengandung nilai ekonomi dan emosional. Tidak ada upah formal yang dibayarkan, tetapi setiap orang merasa memperoleh manfaat melalui hubungan sosial yang terjalin. Kegiatan ini menguatkan solidaritas dan rasa saling memiliki antaranggota masyarakat. Dalam perspektif Bourdieu, hal ini membentuk habitus yang mewariskan nilai-nilai kebersamaan lintas generasi. Dengan demikian, belulut tidak hanya membersihkan lantai, tetapi juga membersihkan jarak sosial.
Selain itu, belulut menjadi bagian dari kalender sosial desa. Warga mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan ini, biasanya sebelum perayaan adat atau kunjungan penting. Kesadaran kolektif ini menjaga kesinambungan tradisi dari generasi ke generasi. Momen ini menjadi ruang untuk memperkuat identitas budaya sekaligus membangun ketahanan sosial. Dengan cara ini, belulut tidak hanya menjaga rumah tetap layak huni, tetapi juga memelihara jalinan sosial yang kuat.
Makna Simbolik dalam Arsitektur Bale Tani
Lantai yang dibersihkan dengan kotoran sapi merupakan bagian dari keseluruhan filosofi arsitektur bale tani. Atap yang rendah memaksa tamu menunduk sebagai tanda hormat kepada pemilik rumah dan Tuhan (Sahira et al. 2023). Tangga yang awalnya berjumlah tiga mencerminkan filosofi wetu telu: lahir, hidup, mati, dan kini sering dimodifikasi menjadi lima untuk mengingatkan rukun Islam. Ruang sesangkok yang tanpa sekat melambangkan kesetaraan sosial di antara anggota keluarga. Semua elemen ini terhubung dengan lantai yang menjadi dasar fisik sekaligus simbolis rumah.
Simbolisme lantai juga mencerminkan relasi manusia dengan alam. Kotoran sapi menjadi penghubung antara penghuni rumah dan tanah yang menopang kehidupan mereka. Setiap lapisan yang diaplikasikan mengandung doa dan harapan untuk keselamatan keluarga. Pandangan ini selaras dengan pemahaman ekospiritual bahwa kebersihan adalah bagian dari kesucian. Dengan demikian, belulut memiliki dimensi religius, ekologis, dan estetis yang saling terkait.
Dalam arsitektur bale tani, lantai bukan sekadar tempat berpijak, tetapi juga ruang simbolik yang mengatur interaksi sosial. Posisi dan fungsi setiap bagian rumah mencerminkan nilai-nilai adat yang dipegang teguh. Lantai yang diperbarui secara berkala menunjukkan komitmen terhadap pembaruan moral dan sosial. Dengan memahami filosofi ini, kita melihat bahwa belulut adalah bagian dari sistem nilai yang lebih luas. Praktik ini tidak bisa dipisahkan dari identitas arsitektur dan budaya Sade.
Penutup
Di tengah arus homogenisasi budaya, Desa Sade tetap setia pada jalur leluhurnya. Tradisi belulut menjadi simbol perlawanan halus terhadap standar kebersihan global yang mengabaikan keberagaman budaya (Puspa dan Kusuma 2022). Praktik ini menjaga hubungan harmonis antara manusia, ternak, dan lingkungan. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, masyarakat menunjukkan kemandirian dan keberlanjutan. Tradisi ini membuktikan bahwa kebersihan bisa bersumber dari kearifan lokal yang sederhana namun efektif.
Lebih dari sekadar teknik membersihkan lantai, belulut adalah warisan yang memuat nilai ekologis, sosial, dan spiritual. Ia mempererat ikatan sosial melalui gotong royong, memperkuat identitas budaya, dan menjaga keseimbangan lingkungan. Bagi masyarakat Sade, lantai yang baru dibersihkan bukan hanya tampak rapi, tetapi juga memancarkan energi positif bagi seluruh penghuni rumah. Dalam konteks ini, kebersihan dipandang sebagai proses yang melibatkan hati, tangan, dan komunitas.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebersihan sejati tidak selalu terukur dari kilap permukaan, melainkan dari harmoni yang tercipta antara manusia dan alam. Dunia modern dapat belajar dari Sade bahwa keberlanjutan dimulai dari praktik sederhana yang dijalankan dengan penuh kesadaran. Belulut mengajarkan bahwa nilai-nilai luhur sering tersembunyi di balik hal-hal yang tampak biasa, bahkan yang dianggap kotor. Dengan memeliharanya, masyarakat Sade menjaga warisan yang menghidupkan secara fisik, sosial, dan spiritual.
Referensi
Puspa, Dian Ayu, dan M. Hendra Kusuma. 2022. “Perspektif Ekologis pada Arsitektur Vernakular Lombok: Studi Kasus Desa Adat Sade.” Jurnal Arsitektur dan Lingkungan 20(1):55–68.
Sahira, Naufal, Lalu Muhammad Syaiful, Baiq Rani Handayani, dan Baiq Lilis Eka Nilawati. 2023. “Makna Simbolis Arsitektur Vernakular Bale Tani Suku Sasak di Desa Sade Kabupaten Lombok Tengah.” Jurnal Mahasiswa Arsitektur Universitas Mataram 1(2):20–31.
Shiva, Vandana. 2005. Earth Democracy: Justice, Sustainability, and Peace. Cambridge, MA: South End Press.
World Health Organization. 2019. Water, Sanitation and Hygiene Standards for Schools in Low-cost Settings. Geneva: WHO Press.
World Health Organization. 2020. “Hygiene: Definitions and Key Considerations.” Geneva: WHO Press.
Zahra, Nur, dan Lalu Muhammad Syaiful. 2021. “Kearifan Lokal dalam Pemanfaatan Kotoran Sapi sebagai Bahan Perawatan Rumah Adat Suku Sasak di Desa Sade.” Jurnal Kebudayaan Nusantara 13(2):145–157.


















