Ramli Cibro (Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)
Singkil atau Singkel selalu berubah, dinamis dan bergerak. Setidaknya itu yang terjadi dari awal sejak tanah ini dikenal dengan komoditas dagang (damar, kayu dan kamfer) serta hasil hutan lainnya, lalu mereka menanam karet dan coklat.
Dalam literatur lama, penyebutan Singkel lebih dominan daripada Singkil. Akan tetapi dalam ruang administrasi baru, sebutan Singkil kemudian menjadi pakem, terlebih setelah wilayah tersebut ditetapkan menjadi satu kabupaten yakni Kabupaten Aceh Singkil berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 14 Tahun 1999.
Singkil pada mulanya memiliki sistem kebudayaan terbuka, mampu menyerap perbedaan dan menjinakkan para penakluk. Itu sebabnya walaupun para penakluk datang silih berganti, kita tidak pernah mendengar di Singkil ada perlawanan, perang heroik nan berdarah-darah, lama dan panjang. Kita mungkin pernah mendengar perang Aceh dan Batak tahun 1539, tapi tidak pernah ada perang skala besar antara Aceh dengan Singkil atau antara Batak dengan Singkil. Walaupun keduanya, pernah masuk dan merajam kekuasaan di tanah rawa tersebut, secara bersama-sama.
Hati masyarakat Singkil begitu dingin. Seperti sungai, ia dinamis dan mengalir. Segala hal mampu dinegosiasikan, dan segala hasrat dari penakluk, mampu didinginkan. Entah itu Aceh, Belanda, Jepang atau juga Jakarta. Hanya butuh satu selempang dan pepinangen, maka putaran spiral Tari Dampeng yang melebar dan mengerucut mampu melerai serta menjinakkan energi negatif yang datang dari musuh; menguatkan penerimaan bagi mereka yang datang karena terbuang.
Bahkan jika kamu seorang buronan, asalkan tidak buat ulah, akan tetap aman jika berada di sana. Sebagai tari penyambut tamu, hentakan Dampeng menjadi negosiasi kosmis pada jenis aura apa pun yang akan datang. Dilerai, dijinakkan dan menjadi sejuk.
Kemampuan ini tidak lepas dari sejarah panjang Negeri Singkil yang senantiasa menjadi subordinat dari berbagai kekuatan. Kemampuan yang diinspirasi oleh sungai, alur, genangan danau dan rawa yang menjalar-lebar; menghubungkan sanak dengan familinya; menghubungkan nelayan dengan hasil tangkapannya, atau petani dengan hasil kebunnya.
Pada mulanya Singkil dikuasai oleh Barus, lalu Aceh dan Batak, kemudian jadi jajahan Belanda dan Jepang serta berakhir dengan menjadi bagian kecil dari imagined communities bernama Indonesia.
Kenyataannya, orang-orang Singkil sangat unik. Secara bahasa dan marga, mereka dekat dengan Batak dan Pakpak, secara budaya akrab dengan tradisi Melayu dan Minang juga Barus. Tari dampeng, gendang dan canang; tari bakhat dan ambek-ambeken membuat orang yang pertama melihatnya langsung tahu, budaya daerah ini sangat kental dengan pengaruh Melayu dan Minang.
Dari sisi pengobatan, holtikultura, cara melihat kayu, sungai dan rawa, serta mistik-teologia, mereka dekat dengan Barus. Itu sebabnya orang sering salah menentukan sosok seperti Syekh Abdurrauf dan Syekh Hamzah Fansuri, apakah mereka orang Barus atau orang Singkil? Di Singkil terdapat makam yang ditenggarai sebagai milik Syekh Abdurrauf dan juga Syekh Hamzah Fansuri.
Singkil adalah ekosistem ekonomi dengan urat nadi membujur dan bercabang di antara sungai, rawa dan alur sebelum seluruh hasil hutan dilarung dan di lego di pelabuhan Kota Singkil Lama yang menghadap laut hingga ketika terjadi gempa dan tsunami tahun 1861, Kota Singkil dipindahkan. Pada masa transisi, permintaan pasar beralih dari damar, kamfer dan kayu ke lada dan pala; orang Singkil kemudian berbondong-bondong menanam lada dan pala, lalu coklat dan karet, dan terakhir sawit.
Singkil Lama tenggelam, lalu jejak terakhir yang tersisa hanyalah garam, belacan (terasi), udang baring (udang sabe) dan ikan asin dari kawasan satelit pinggir laut. Wilayah-wilayah satelit terbentuk setelah Singkil Lama tenggelam berikut narasi perdagangannya.
Seperti Barus yang berubah wajah dari kota perdagangan menjadi kampung nelayan yang sepi, kedigdayaan niaga Singkil Lama juga ikut tenggelam – berpindah ganti – menjadi pemukiman nelayan yang hanya menjual hasil laut semata. Penduduk yang menolak pindah ke Singkil Baru, membangun kampung-kampung nelayan seperti Kayu Menang dan Kuala Baru.
Nadi sungai yang terhenti
Lain di pesisir, lain pula di pedalaman. Oksigen dan darah kehidupan dialirkan dari sungai dan segala anak cabang serta genangannya. Ketika denyut nadi sungai terhenti, maka Singkil mungkin juga akan berhenti. Kampung-kampung berpindah dari pinggir sungai menuju kawasan berbukit (deleng); struktur sosial dan suasana budaya juga berbeda.
Dahulu orang-orang mendirikan jambukh (teras rumah yang diperluas) untuk keperluan pesta dengan menghadap sungai, hari ini mereka menghadap aspal atau jalan bebatuan. Dahulu orang-orang mendayung perahu untuk bertemu sanak saudara, tapi kini mereka tidak dapat leluasa untuk saling mengunjungi, dipisahkan oleh puluhan HGU (hak guna usaha), perusahaan perkebunan sawit yang luasnya tidak lagi masuk akal.
Dahulu hehiasan adat seperti gegunungan dan kajang dilarung di atas perahu, namun hari ini digantikan oleh mobil cold L-300 yang terkadang juga digunakan untuk mengangkut tandan buah segar (TBS).
Sungai dan rawa adalah nyawa kebudayaan. Ia adalah sumber ekonomi sekaligus sumber ikan, penanda alam sekaligus penghubung antara sanak saudara. Sungai adalah penanda kebudayaan. Seperti nadi tidak lagi dialiri darah dan oksigen secara normal, sungai yang tertidur membuat kebudayaan mengalami lumpuh, beberapa bagian terpaksa diamputasi, sebagian dimodifikasi, hingga di 100 tahun kemudian kebudayaan yang dihasilkan dari sungai dan alur, akan benar-benar lenyap.
Pada mulanya anak-anak diperkenalkan dengan bahasa Indonesia, lalu disuruh merantau dan diwanti-wanti supaya tidak memiliki banyak anak. Kemudian komunitas adat bernama Singkil yang sejak puluhan tahun lalu telah dirampas hak adat atas tanah, hutan dan makam leluhurnya, juga akan musnah binasa.
Dalam satu kesempatan pada tanggal 13 sampai 15 November 2025, penulis bersama tim Ekspedisi Sungai Singkil menyaksikan puluhan kampung telah pindah ke perbukitan. Sedangkan hutan, rawa dan batas tanah telah ditanami sawit.
Cerita legendaris tentang 16 kerajaan (kerajaan sinembelas) yang berdiri di sepanjang sungai terpanjang di Aceh itu nyaris tidak memiliki jejak, kecuali beberapa onggok makam kuno, juga seserpih koin, perhiasan, stempel raja dan pedang yang masih disimpan ahli waris. Mungkin karena belum laku, atau karena kondisinya sudah rusak sehingga kurang diminati oleh kolektor.
Dengan menggunakan dua kapal boat, tim yang berjumlah 70 orang mengurut nadi sungai, mencoba meraba-raba apakah masih ada detak di sana. Kini, sebagian besar kawasan sungai telah masuk dalam wilayah HGU perkebunan sawit. Konon, sekali kamu melintas di atas tanah adatmu yang telah jadi HGU itu, siap-siap saja diciduk satpam PT, dituduh mencuri sawit, berurusan dengan polisi dan tentu saja, bayar untuk bisa keluar.
Di sebelah kiri, atas nama hutan lindung, masyarakat dibuat was-was ketika hendak mengambil hasil alam yang sebenarnya telah dilakukan turun menurun bahkan sebelum Indonesia merdeka. Di sebelah kanan (bersentuhan langsung dengan batasan kampung) sebagian besar wilayah adalah HGU, terbentang lebar lahan sawit perusahaan yang ditunggu-tunggu habis masanya oleh politisi dan pejabat.
Bukan untuk dikembalikan menjadi hutan lagi sebagai persiapan menopang kehidupan anak cucu di kemudian hari, tapi diambil atau dibagi-bagi atas nama “politik kesejahteraan,” atau dikapling-kapling, untuk dijual atau ditanami sawit lagi.
Akhirnya, begitulah Singkil, sungai dan masa depannya. Hutan-hutan dibabat, tanah-tanah di HGU kan, pendidikan terpinggir, masyarakat tidak lagi bersatu. Dan beginilah Singkil, ruang sosial menjadi sempit, realitas dihadapi dengan tutup mata dan kemiskinan tetap menjadi prioritasnya, dimana takaran kekayaan diukur dari seberapa lebar lahan sawit yang engkau miliki.


















