Dewi Ayu Larasati (Akademisi & Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)
Motif batik pada dasarnya memiliki sejarah yang panjang. Ia bukan sekadar lukisan yang ditorehkan pada kain dengan mengunakan canting. Setiap guratan, corak dan warna memiliki makna. Oleh karenanya, batik bukan sekadar pakaian biasa. Batik sebagai sebuah kearifan lokal mengandung nilai filosofi dan historis yang mendalam.
Perjalanan batik sebagai karya anak bangsa ini juga tak luput dari peran Walisongo (sembilan wali) yang memiliki andil dalam penyebaran ajaran agama Islam di Indonesia. Beragam motif batik nan estetik diciptakan oleh tokoh Walisongo sebagai strategi dakwah yang halus dan tidak konfrontatif. Sebab, dengan pendekatan kultural ini, memungkinkan Islam diterima dan berkembang dengan baik di nusantara di saat mayoritas penduduk saat itu telah memeluk agama lain.
Oleh karena itu, batik sebagai sebuah karya seni tokoh Walisongo, tidak hanya menampilkan nilai estetis saja, namun juga sangat erat dengan nilai-nilai religiusitas, historis, serta nilai-nilai moral.
Surjan Lurik Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga memiliki jasa besar bagi perkembangan seni batik. Salah satu karyanya adalah surjan lurik.
Baju surjan memiliki makna dan filosofi spiritual yang begitu dalam yang berkaitan dengan hubungan manusia dan Sang Pencipta. Dikutip dari Musman (2015:21) kata “surjan” mengacu kepada kata Arab yang terdiri dari aksara sa-ra-ja yang membentuk kata-kata surojan, saraja, atau sarjan. Kata-kata ini terkait dengan assaraju (jamak surujan) muniru, yang artinya “pelita bercahaya penerang jalan” (suluk).
Motif lurik atau motif garis lurus yang sejajar pada batik surjan melambangkan kata furqan yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti pemisah atau pembeda (detik.com, 22/11/2023). Oleh karenanya, surjan juga dimaknai sebagai pakaian yang melambangkan batas atau pemisah antara kebaikan dan keburukan.
Bagian kerah leher baju surjan memiliki tiga pasang kancing atau 6 biji kancing yang jika dijumlahkan kesemuanya menggambarkan tentang rukun iman. Pada bagian lengan kiri dan kanan juga terdapat 5 buah kancing yang berkaitan dengan rukun Islam.
Selain itu, baju surjan juga memiliki dua buah kancing dibagian dada sebelah kiri dan kanan. Hal itu adalah simbol dua kalimat syahadat. Adapun tiga buah kancing di dalam (bagian dada dekat perut) yang letaknya tertutup atau tidak terlihat dari luar menggambarkan tiga macam nafsu manusia yang harus dikendalikan atau diredam, yaitu bahimah (nafsu hewani), lawwamah (nafsu makan dan minum), dan syaitoniyah (nafsu setan).
Sunan Kalijaga juga memberikan torehan motif burung pada batik. Dalam bahasa Kawi, burung disebut “kukila”, yang dalam bahasa Arab merupakan rangkaian kata quu dan qiilla yang berarti peliharalah ucapanmu (Maulidya, 2022:40)
Dengan demikian, pakaian surjan peninggalan Sunan Kalijaga sejatinya tidak hanya sekadar pakaian adat Jawa, melainkan “baju takwa” atau “busana religius” bagi yang mengenakannya. Lewat media batik, Sunan Kalijaga mewariskan pesan dakwahnya.
Batik Mega Mendung Sunan Gunung Jati
Motif batik Mega Mendung yang menjadi ciri khas batik daerah Cirebon, Jawa Barat, juga tak lepas dari peran Sunan Gunung Jati saat menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.
Pernikahan Sunan Gunung Jati sebagai Sultan Cirebon dengan wanita Tionghoa bernama Puteri Ong Tien melandasi sejarah lahirnya motif batik ini. Pernak-pernik Cina yang dibawa Putri Ong Tien sebagai persembahan kepada Sunan Gunung Jati menjadi inspirasi seniman, termasuk para pembatik. Perpaduan budaya dari keduanya membuat para seniman batik keraton saat itu menuangkan budaya dan tradisi Tiongkok ke dalam motif batik dan disesuaikan dengan cita rasa masyarakat Cirebon yang mayoritas beragama Islam.
Jika dilihat dari maknanya, ada keselarasan antara tradisi Tiongkok dengan konsep kaum Sufi mengenai simbol awan. Dalam paham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas (Syahrin, 2023:3). Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas, dan mempunyai makna transedental (kerohanian). Kaum Sufi dalam dunia seni rupa pada abad ke-16 juga mengartikan awan sebagai ungkapan dunia besar atau alam bebas.
Oleh karena itu, motif awan dalam batik Mega Mendung dimaknai sebagai motif transedental atau makna Ketuhanan. Sebuah ungkapan untuk menggambarkan kebesaran Ilahi.
Mendung diartikan sebagai kesejukan, ketenangan, dan kesabaran (Syahrin, 2023:2). Dan garis-garis awan merupakan simbol perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga, sampai mati. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang semuanya menyimbolkan kebesaran Ilahi.
Batik Motif Singo Mengkok Sunan Drajat
Sunan Drajat (1470-1522) adalah salah seorang Walisongo putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat alias Bong Swie Hoo). Sebagai tokoh penyebar agama Islam, Sunan Drajat dikenal mendorong seni sebagai media dakwah, di antaranya menggunakan gamelan hingga kain batik.
Salah satu motif batik yang terkenal peninggalan Sunan Drajat dan menjadi ikon kota Lamongan adalah batik Singo Mengkok. Karakter imajinasi “Singo Mengkok” (Kusrianto, 2021:24) merupakan karakter binatang mitologi yang memiliki bentuk badan mirip kijang (berkaki empat) dan berkepala naga serta badannya memiliki api ini memiliki kesamaan dengan karakter Killin atau Qillin (dianggap makhluk suci dalam legenda Tiongkok kuno).
Motif batik Singo Mengkok memiliki nilai filosofi yang tinggi. Empat elemen utama dari motif Singo Mengkok menunjukkan kedekatan nilai budaya dan religius yang diajarkan Sunan Drajat. Seperti halnya motif singa, dimaksudkan sebagai simbol sifat kebijaksanaan sebagai penangkal watak dan perilaku jahat.
Motif kubah masjid merupakan perlambang keyakinan, keimanan serta ke-Esa-an Tuhan. Motif mahkota mempunyai makna kekuasaan dunia dimana secara umum motif ini perlambang dari penguasa. Sementara itu, motif burung dalam ekspresi budaya Jawa merupakan bentuk penggambaran dari delapan sifat dari hasta brata yakni ajaran keutamaan yang bijaksana, lebih mementingkan negara di atas kepentingan pribadi.
Motif Mahkota Sunan Giri dan Sekar Pudak
Motif batik Mahkota Sunan Giri sangat dikenal masyarakat Gresik. Hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh besar Raden Paku atau Sunan Giri sebagai seorang mubaligh dan ulama besar yang menjadi panutan masyarakat.
Motif batik Mahkota Sunan Giri ini memiliki ciri khas berupa gambar mahkota, yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Sunan Giri yang berhasil menyelesaikan amanah memimpin Giri Kedaton (Kesultanan Islam yang menjadi cikal bakal Gresik).
Selain itu, nuansa keislaman juga terlihat jelas dengan adanya trap limo atau undak-undakan yang berjumlah lima tingkat pada batik tersebut yang melambangkan rukun Islam.
Motif lainnya yang juga bernafaskan Islam terdapat pada “Sekar Pudak” yang digambarkan dengan enam kelopak bunga pudak atau bunga pandan sebagai simbol dari enam rukun iman. Sedangkan sembilan serbuk sari melambangkan Walsongo yang berjasa dalam pengembangan agama Islam.
Motif Menjangan (Rusa) Sunan Kudus
Seperti halnya anggota Walisongo lainnya, Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq juga memanfaatkan batik sebagai salah satu pendekatan atau media dalam penyebaran agama Islam. Salah satu contoh motif batik yang menarik perhatian Sunan Kudus adalah “menjangan” (rusa). Motif ini sering dianggap masyarakat Hindu sebagai lambang kemakmuran dan keharmonisan (dikutip dari klikers.id, 26/2/2024).
Menjangan juga merupakan simbol sukses dalam karier yang panjang, dihormati masyarakat dan kemasyhuran selain umur panjang (Ishwara, dkk., 2011:45). Sunan Kudus memasukkan motif ini dalam batiknya, bukan sebagai bentuk pemujaan, melainkan sebagai media untuk berinteraksi dan berdialog dengan masyarakat Hindu tentang ajaran Islam.
Penutup
Dengan mengenal asal usul sejarah batik yang diwariskan tokoh Walisongo, tentu akan semakin menambah wawasan kita tentang makna filosofi batik khususnya yang berkenaan dengan nilai-nilai religiusitas dan nilai-nilai moral. Batik juga telah berfungsi sebagai mediator atau menjadi jembatan yang mempererat persaudaraan dan toleransi antar umat beragama saat itu.
Namun demikian, fungsi batik sejatinya tidak hanya sebagai ageman atau pakaian yang hanya sekedar memilik nilai filosofis. Sudah semestinya batik bisa diamplifikasikan ke publik luas agar tetap abadi dan bisa dikenal hingga seluruh dunia.
Daftar Pustaka
Ardanirizqi. 26 Februari 2024. Seni Pesona Dakwa: Jejak Batik Sunan Kudus dalam Menceritakan Kisah Islam. Diunduh dari https://www.klikers.id/read/klik-news/seni-pesona-dakwah-jejak-batik-sunan-kudus-dalam-menceritakan-kisah-islam/
Kusrianto, Adi. 2021. Menelusuri Asal Usul Batik. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Maulidya, Hanatul Ula. 2022. Sunan Kalijaga Sang Pelopor Akulturasi Budaya Jawa-Islam. Surabaya: CV Media Edukasi Creative
Musman, Asti. 2015. Lurik, Pesona, Ragam dan Filosofi. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Meisya, Elisabeth. 22 November 2023. Makna Filosofi Surjan, Baju Adat Laki-Laki Jogja Ciptaan Sunan Kalijaga. Diunduh dari https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7051041/makna-filosofi-surjan-baju-adat-laki-laki-jogja-ciptaan-sunan-kalijaga
Syahrin, Alfi. 2023. Sekilas Sejarah dan Perkembangan Batik Menjadi Komoditas Unggulan. Jawa Barat: CV Mega Press Nusantara


















