Beranda Publikasi Kolom Mencari Well-being di dalam Rumah

Mencari Well-being di dalam Rumah

83
0

Stanley Khu (Dosen Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Semarang)

Belakangan, istilah well-being [kesejahteraan] semakin marak diperbincangkan, tidak hanya di kalangan psikolog dan terapis namun juga beredar luas di antara masyarakat awam. Misalnya, tidaklah jarang kita mendengar istilah ini disebut-sebut oleh mahasiswa, atau bahkan pelajar sekolah, yang merasakan tekanan maupun ekspektasi besar di dunia akademik dan takut kalau-kalau kesehatannya terganggu.

Pertanyaannya kemudian adalah: di manakah kiranya individu bisa mengakses well-being, atau, di manakah well-being berlokasi? Jawaban atas pertanyaan ini beragam. Ada yang menemukannya dalam doa dan ibadah, dan tidak sedikit pula yang mengalaminya saat terlibat dalam praktik spiritual non-religius semisal meditasi.

Apabila pertanyaan ini ditanyakan kepada orang Toraja, mereka akan menawarkan jawaban yang sepertinya akan terdengar klise, tapi masuk akal jika dipikir masak-masak: well-being tidak perlu dicari jauh-jauh karena ia berlokasi di rumah.

Bagi mereka, unit rumah tangga menyediakan hampir semua kebaikan dalam hidup: pertumbuhan, keamanan, keintiman, dan yang barangkali terpenting, suaka dari tuntutan dan ketidakpastian kehidupan sosial di luar sana. Faktanya, rumah leluhur tradisional Toraja, yang disebut tongkonan, dibangun sedemikian rupa agar menyerupai bentuk rahim. Dan kita tahu bahwa secara simbolik, rahim adalah sumber dari kesuburan dan kemakmuran.

Di sisi lain, aktivitas di luar rumah senantiasa dibarengi dengan aneka macam risiko, sehingga lebih condong mengandung ambiguitas alih-alih kepastian. Misalnya, studi Hollan & Wellenkamp menunjukkan bahwa meskipun orang Toraja adalah petani yang sukses dan menggantungkan hidup dari aktivitas pertanian, bertani tidaklah dianggap baik secara absolut karena diyakini berisiko menimbulkan cedera permanen atau penuaan dini.

Belum lagi kepercayaan tentang ilmu hitam yang sewaktu-waktu dapat menyerang individu apabila ia secara kebetulan berpapasan di jalanan dengan seseorang yang, karena tidak menyukainya, memutuskan untuk menyantetnya.

Tapi, yang bahkan lebih krusial lagi terkait isu ambiguitas ini adalah dunia di luar rumah yang diorganisir berdasarkan hierarki. Sebagaimana umumnya didapati di banyak masyarakat Indonesia lainnya, peringkat sosial di Toraja diperoleh melalui beberapa cara: silsilah keluarga, kecakapan dalam menduduki jabatan penting, atau kemampuan dalam mendanai ritual pengorbanan hewan di pesta-pesta komunitas.

Terdapat perbedaan yang jelas antara kaum bangsawan tradisional, orang kaya baru, dan masyarakat biasa, serta etiket yang rumit untuk memastikan bahwa tiap-tiap kelompok memperoleh penghargaan dan penghormatan yang layak diterimanya.

Apabila individu gagal memahami dunia sosial ini, misalnya dalam kasus ketika ia secara tak sengaja memberi porsi daging yang lebih sedikit kepada mereka yang seharusnya menerima lebih banyak atau ketika ia meminta bantuan kepada mereka yang seharusnya tidak tepat dimintai bantuan, maka individu berisiko menimbulkan aib atau amarah pada diri orang lain. Dan konsekuensinya, ia juga berisiko dibuat malu, atau lebih buruk lagi, menjadi sasaran ilmu hitam.

Di sisi lain, rumah selalu bisa diandalkan untuk melindungi individu dari beragam ancaman potensial (fisik atau metafisik) di luar sana, atau bahkan memulihkan kembali well-being yang telah telanjur diusik oleh dunia luar. Untuk menjelaskan poin ini lebih jauh, berikut akan dipaparkan secuplik etnografi dari Hollan, dengan tokoh utama bernama (samaran) Nene’na Tandi.

Nene’na Tandi adalah seorang pria uzur berusia 60-an yang tidak juga dikaruniai anak meski telah mengarungi bahtera pernikahan sebanyak tiga kali. Dalam sebuah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi keturunan, hal ini tentu saja berdampak buruk bagi citranya sebagai sosok yang dituakan dalam masyarakat.

Meski tidak pernah mendengar langsung, ia tahu orang-orang menganggapnya mandul, tidak jantan, dan oleh karenanya, bukan pria sejati. Pengetahuan ini diperparah lagi oleh dugaan Nene’na Tandi bahwa kegagalannya memperoleh anak disebabkan oleh sikapnya semasa muda yang gemar sekali melawan orangtuanya dan membuat mereka bersedih hati.

Kini ia merasakan penyesalan mendalam, tapi tidak lagi sempat meminta maaf karena keduanya telah berpulang. Apakah jalan keluar dari problema ganda Nene’na Tandi – persepsi bahwa ia bukan pria sejati serta bahwa ia anak durhaka – ini?

Jalan keluarnya ditawarkan oleh rumah, atau secara spesifik, aktivitas tidur dan bermimpi di dalam rumah. Sebagai catatan, orang Toraja tidak membedakan secara tajam antara kesadaran di alam nyata versus kesadaran di alam mimpi; dengan kata lain, budaya Toraja meyakini kesadaran sebagai satu kesinambungan tak terputus yang bisa menempati alam-alam berbeda, tergantung aktivitas yang sedang dilakukan si pemilik kesadaran. Dalam kasus Nene’na Tandi, rumah adalah suaka dan sumber kebaikan karena memberinya peluang untuk berdamai di alam mimpi dengan apa yang tak terdamaikan di dunia nyata.

Sebagai pemimpi yang lumayan produktif, Nene’na Tandi acapkali bermimpi bahwa kedua orangtuanya mendatanginya ke rumah dan memberinya nasihat-nasihat. Dan di dalam mimpi-mimpi ini, dia dengan penuh syukur menerima semua nasihat mereka alih-alih membangkang. Efek dari mimpi dengan tema kunjungan orangtua ini jelas: Nene’na Tandi bisa merekonstruksi episode lampau dalam hidupnya dengan sebuah akhir yang lebih ideal; selain itu, kunjungan rutin orangtuanya di alam mimpi juga membuktikan bahwa mereka memaafkan Nene’na Tandi dan tidak ambil pusing dengan sikap berontaknya di masa muda.

Tema mimpi lain yang juga sering dialami Nene’na Tandi berkaitan dengan isu penting kedua: dugaan tentang kemandulannya. Meskipun tidak punya anak kandung, dia sebenarnya memiliki anak angkat, yang merupakan putra dari tetangganya. Status anak ini sebagai anak angkat tidak muncul begitu saja tanpa alasan apapun, tapi juga terinspirasi oleh mimpi.

Di alam mimpi, Nene’na Tandi sering bermimpi bahwa ibu si anak adalah istrinya; dengan kata lain, meskipun di dalam realitas fisik keduanya sekadar bertetangga, di dalam realitas metafisik roh keduanya terikat sebagai pasangan suami-istri. Mimpi ini, berhubung kontennya yang amat sensitif, tidak diketahui oleh siapapun kecuali Nene’na Tandi sendiri. Namun, ia tetap memperoleh kepuasan spiritual dari fakta bahwa meskipun ia secara fisiologis boleh jadi mandul, rohnya adalah lelaki yang secara reproduktif sehat dan mampu menghasilkan keturunan. Singkat kata, bagi Nene’na Tandi, anak si tetangga tidak hanya sekadar anak angkat, tapi juga anak spiritualnya.

Sebagai kesimpulan, pembahasan singkat ini telah berupaya untuk memahami bagaimana isu well-being dipahami, diakses, dan diaktualisasikan berdasarkan konteks kultural tertentu, dalam hal ini, budaya Toraja. Barangkali ada sebagian pihak yang, setelah membaca paparan di atas, akan menyimpulkan bahwa mencari dan menemukan well-being di alam mimpi, seperti kasus Nene’na Tandi, adalah sesuatu yang mengada-ada. Untuk merespons keberatan ini, akan bermanfaat untuk mengingat kembali petuah Ruth Benedict bahwa apa yang dianggap abnormal selalu bersifat relatif dari apa yang dianggap normal.

Maksudnya jelas. Beberapa komunitas mungkin saja menghadapi isu well-being dengan cara-cara yang, katakanlah, lebih objektif (atau: terukur). Misalnya, di zaman modern ini taraf well-being bisa diamati oleh ilmuwan di laboratorium dengan mencermati perubahan aktivitas neuron di otak.

Tapi, pesan moral dari Benedict adalah bahwa satu cara tidaklah secara absolut lebih baik dari cara lainnya. Perbedaan dalam cara meraih well-being adalah perbedaan dalam soal epistemologis. Pada akhirnya, sebagaimana argumen Hollan, well-being adalah sesuatu yang subjektif. Hanya individu sendiri, seperti misalnya Nene’na Tandi, yang tahu apakah ia merasa sejahtera atau tidak. Dan dari etnografi Hollan, pembaca sungguh mendapat kesan bahwa Nene’na Tandi sejahtera.

Referensi

Benedict, Ruth. 1934. Patterns of Culture. Boston, MA: Houghton Mifflin.

Hollan, Douglas. 2000. “Constructivist Models of Mind, Contemporary Psychoanalysis, and the Development of Culture Theory.” American Anthropologist 102: 538–50.

Hollan, Douglas W. and Jane C. Wellenkamp. 1994. Contentment and Suffering: Culture and Experience in Toraja. New York: Columbia University Press.

———. 1996. The Thread of Life: Toraja Reflections on the Life Cycle. Honolulu: University of Hawaii Press.

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini