Beranda Publikasi Kolom Grebeg Kupat Slamet di Lereng Selatan Gunung Slamet

Grebeg Kupat Slamet di Lereng Selatan Gunung Slamet

42
0

Mukhamad Hamid Samiaji (Pemerhari Budaya di Yayasan Kajian Nusantara Raya Purwokerto)

Di lereng selatan Gunung Slamet, Banyumas, terdapat sebuah desa yang setiap tahun ramai oleh aroma ketupat, tabuhan gamelan, dan tawa warga yang berduyun-duyun menuju lapangan. Desa itu bernama Binangun, yang sejak tahun ini memelihara sebuah tradisi khas berupa Grebeg Kupat Slamet.

Tradisi ini bukan hanya perayaan keagamaan, melainkan juga pesta budaya, ajang gotong royong, sekaligus bentuk rasa syukur atas karunia alam yang melimpah. Di tengah arus modernisasi dan derasnya budaya instan, Grebeg Kupat Slamet menjadi oase nilai-nilai tradisional yang meneguhkan identitas masyarakat Banyumas.

Dalam tradisi Jawa, “grebeg” berarti arak-arakan besar yang biasanya diadakan untuk memperingati peristiwa penting, seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, atau kegiatan adat desa. Grebeg juga mengandung makna spiritual: bentuk penghormatan kepada Yang Mahakuasa sekaligus ungkapan syukur atas kehidupan yang penuh berkah.

Sementara itu, kupat atau ketupat memiliki simbolisme yang dalam. Dalam filosofi Jawa, kata kupat berasal dari ungkapan “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat perilaku). Empat perilaku itu adalah lebaran (berbagi maaf), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa), dan laburan (pemutihan hati). Maka, ketupat bukan sekadar makanan, melainkan media simbolik untuk membersihkan diri dan mempererat hubungan sosial.

Desa Binangun menambahkan makna lokal: ketupat adalah bentuk slametan—doa dan sedekah bersama sebagai permohonan keselamatan. Itulah sebabnya acara ini dinamai Grebeg Kupat Slamet, yakni sebuah prosesi arak-arakan ketupat dalam rangkaian slametan besar desa. Tradisi ini dilaksanakan menjelang atau sesudah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, menggabungkan dimensi religius dan kultural dengan kuat.

Sepekan sebelum hari pelaksanaan, suasana Desa Binangun sudah berubah. Ibu-ibu mulai menyiapkan janur kuning, daun kelapa muda yang akan dianyam menjadi selongsong ketupat. Di teras rumah, anak-anak membantu memotong janur, sementara para bapak menyiapkan tungku besar untuk merebus ribuan ketupat.

Setiap rumah membuat sedikitnya sepuluh ketupat, dan karena desa ini terdiri atas empat dusun besar, jumlah ketupat yang terkumpul bisa mencapai lebih dari dua belas ribu buah. Menurut Kepala Desa Binangun, bahan beras yang digunakan mencapai sekitar 250 kilogram, semua berasal dari sumbangan warga. Yang menarik, proses ini tidak diatur secara formal. Tidak ada panitia yang memaksa atau mendata, tetapi semua warga secara sukarela berpartisipasi. Bagi mereka, ini bukan kewajiban, melainkan bentuk cinta kepada desa. Di sinilah nilai gotong royong (jiwa utama masyarakat Banyumas) menemukan bentuknya.

Gunungan ketupat sebagai simbol kelimpahan dan persatuan

Dari ribuan ketupat yang terkumpul, warga menyusun lima gunungan ketupat raksasa setinggi sekitar tiga meter. Empat gunungan mewakili masing-masing dusun di Desa Binangun, sedangkan satu gunungan disebut “Gunungan Lurah”, melambangkan kesatuan seluruh warga di bawah kepemimpinan desa.

Gunungan-gunungan ini dihiasi dengan janur, sayuran, buah-buahan, serta lauk pauk sederhana yang dibuat warga. Bentuknya megah, menjulang di tengah lapangan, seolah menjadi gunung kecil yang menandai rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta.

Selain itu, terdapat simbol lima gunungan yang melambangkan kemakmuran dengan hasil produksi lokal, mulai dari makanan olahan, gula kristal, peternakan, hingga kopi dan batik. Gunungan ketupat bukan sekadar hiasan. Ia simbol kelimpahan rezeki dan keseimbangan hidup.

Dalam filosofi Jawa, gunung dianggap pusat energi kehidupan. Maka, gunungan menjadi perlambang kesejahteraan dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan (manunggaling kawula Gusti). Di sinilah terlihat perpaduan antara Islam dan kearifan lokal Banyumasan: ibadah yang bersifat sosial, bukan individual; doa yang diucapkan bersama, bukan sendiri-sendiri.

Prosesi kirab dan puncak grebeg

Pagi hari menjelang acara, suasana Binangun menjadi semarak. Dari setiap sudut dusun, warga berbondong-bondong membawa ketupat tambahan, nasi tumpeng, dan lauk pauk. Prosesi kirab gunungan dimulai dari halaman SD Negeri 1 Binangun dan berakhir di lapangan desa. Di sepanjang jalan, anak-anak berpakaian adat, remaja menabuh kentongan dan gamelan, sementara para sesepuh desa memimpin doa.

Kirab ini tak hanya menjadi tontonan warga setempat, tetapi juga menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Di kiri kanan jalan, UMKM desa membuka lapak menjual jajanan tradisional, kerajinan janur, hingga produk unggulan lokal. Dengan begitu, Grebeg Kupat Slamet juga menggerakkan ekonomi warga.

Sesampainya di lapangan, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama. Para tokoh agama membacakan selawat dan tahlil, mendoakan keselamatan, hasil panen yang baik, serta ketenteraman warga. Setelah doa, tiba saat yang paling ditunggu: rebutan gunungan.
Warga berlomba mengambil ketupat dari gunungan. Mereka percaya, siapa pun yang mendapatkan ketupat itu akan memperoleh berkah dan keselamatan. Empat gunungan lain kemudian dibuka untuk disantap bersama. Setiap orang mendapat bagian ketupat, sayur santan, ayam suwir, dan sambal. Semua makan di tempat, duduk bersila, menggunakan daun pisang sebagai alas. Sederhana, hangat, dan egaliter.

Bagi warga Binangun, Grebeg Kupat Slamet adalah ruang belajar yang hidup. Anak-anak belajar menghormati orang tua dan leluhur, remaja belajar bekerja sama, dan orang tua belajar menurunkan nilai-nilai luhur tanpa harus melalui ceramah panjang. Tradisi ini adalah bentuk pendidikan sosial yang berlangsung secara alami.

Nilai moral seperti kerja sama, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam disampaikan lewat tindakan nyata. Ketika warga bersama-sama menyiapkan ketupat atau membersihkan lapangan, mereka sedang mempraktikkan prinsip solidaritas yang menjadi inti dari kehidupan desa.

Sosiolog Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java menyebut fenomena seperti ini sebagai agama dalam praktik sosial, yakni bagaimana masyarakat Jawa mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam sistem sosial dan budaya mereka sendiri. Grebeg Kupat Slamet adalah contoh nyata bagaimana tradisi lokal mampu menyesuaikan ajaran agama dengan konteks budaya tanpa kehilangan makna spiritualnya.

Simbol identitas dan ketahanan budaya

Dalam konteks modern, tradisi seperti Grebeg Kupat Slamet menjadi penting sebagai penanda identitas kultural. Di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital, masyarakat sering kehilangan akar tradisi. Namun, Binangun justru menjadikan tradisi ini sebagai “tanda pengenal” bahwa mereka adalah masyarakat Banyumas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Ahmad Aji Jauhari, Pemuda Penggerak Desa Binangun juga mengatakan, “Tradisi ini bukan sekadar warisan, tapi tali pengikat kami sebagai warga. Selama masih ada Grebeg Kupat Slamet, warga Binangun tidak akan tercerai-berai.”

Pernyataan ini menggambarkan fungsi sosial tradisi, ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara yang tua dan muda, antara nilai spiritual dan kebutuhan sosial. Tidak mengherankan jika setiap tahun, generasi muda desa turut berpartisipasi aktif, baik dalam persiapan gunungan, dokumentasi digital, hingga promosi lewat media sosial. Dengan cara itu, tradisi tidak hanya lestari secara fisik, tetapi juga beradaptasi dengan zaman.

Selain nilai sosial dan religius, Grebeg Kupat Slamet juga mulai dikenal sebagai potensi wisata budaya. Pemerintah Kabupaten Banyumas melihat tradisi ini sebagai aset budaya yang bisa menarik wisatawan. Lokasi Binangun yang berada di jalur selatan Gunung Slamet menjadikannya mudah diakses dari Purwokerto maupun Cilacap.

Dengan promosi yang tepat, Grebeg Kupat Slamet bisa menjadi agenda tahunan yang menggabungkan ritual, kuliner, dan pariwisata lokal. Namun, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara nilai budaya dan komersialisasi.

Tradisi ini tidak boleh kehilangan esensi spiritualnya hanya karena ingin menarik wisatawan. Kekuatan Grebeg Kupat justru terletak pada kesederhanaan dan ketulusan warganya. Oleh karena itu, perlu strategi pelestarian yang sensitif terhadap nilai lokal, misalnya mendokumentasikan prosesnya, melibatkan sekolah-sekolah dalam kegiatan, dan memberikan ruang bagi seniman lokal untuk terlibat tanpa mengubah substansi ritual.

Tidak bisa dipungkiri, modernisasi menghadirkan tantangan tersendiri. Urbanisasi membuat sebagian warga muda merantau ke kota, sementara pola hidup serba cepat membuat waktu untuk bergotong royong semakin berkurang.

Namun, Grebeg Kupat Slamet masih bertahan karena memiliki fungsi ganda: sebagai acara religius dan sosial. Tradisi ini menyatukan warga lintas usia dan profesi—petani, pedagang, guru, hingga pegawai—semua duduk bersama dalam suasana egaliter.

Jika tidak ada regenerasi, tradisi bisa perlahan kehilangan makna. Karena itu, sejumlah tokoh muda di Binangun kini mulai mendigitalisasi arsip foto dan video Grebeg Kupat, mengunggahnya ke media sosial, dan membuat dokumenter pendek. Tujuannya bukan sekadar eksistensi, tetapi agar generasi berikutnya tahu bahwa identitas mereka lahir dari tradisi yang kaya makna.

Merayakan keberkahan dalam kebersamaan

Grebeg Kupat Slamet adalah contoh nyata bagaimana masyarakat pedesaan memaknai keberkahan. Ketika ribuan ketupat tersusun menjadi gunungan, warga tidak sedang memamerkan kemewahan, melainkan menegaskan prinsip: kebahagiaan tidak lahir dari kemegahan, melainkan dari kebersamaan.

Di tengah dunia yang serba kompetitif, tradisi ini menjadi pengingat bahwa rezeki sejati adalah rasa cukup dan saling peduli. Bahwa slamet (selamat) tidak bisa dibeli, tetapi diraih melalui doa, kerja bersama, dan hati yang bersih.

Grebeg Kupat Slamet juga memperlihatkan bagaimana budaya Banyumasan tetap hidup dan dinamis. Dalam dialek ngapak yang khas, warga menyebut acara ini dengan bangga: “Iki dudu mung mangan kupat, nanging mangan bareng kanggo slametan!” (“Ini bukan sekadar makan ketupat, tapi makan bersama demi keselamatan!”) Ungkapan itu memuat nilai universal: makan bersama berarti berbagi kehidupan. Dan itulah inti dari kebudayaan yang membuat manusia lebih manusiawi lewat kebersamaan.

Ketika sore tiba dan acara usai, lapangan Binangun kembali sepi. Namun, aroma santan, janur, dan tanah basah masih tertinggal di udara. Di setiap rumah, masih tersisa potongan ketupat yang dibawa pulang dari lapangan sebagai simbol berkah yang dibagi rata.
Di mata orang luar, mungkin Grebeg Kupat Slamet hanya pesta rakyat biasa. Tetapi bagi warga Binangun, tradisi ini adalah napas kehidupan. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan tidak lahir dari panggung megah, melainkan dari dapur, dari tangan yang menganyam janur, dari hati yang rela berbagi.

Selama ketupat masih teranyam di janur muda, selama warga masih duduk bersila menikmati hasil gotong royong, Grebeg Kupat Slamet akan terus menjadi cahaya kecil di kaki Gunung Slamet. Sebuah cahaya yang mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati terletak dalam rasa syukur, solidaritas, dan kesetiaan pada akar budaya sendiri.

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini