Roberto Devananda Putra (Mahasiswa Fakultas Teologi, UKSW)
Gua Maria Pereng Getasan terletak di Gunung Merbabu yang ada di Getasan Semarang Jawa Tengah arti Pereng sendiri adalah lereng gunung, lokasinya sekitar 10-11 km dari Salatiga menuju Kopeng, dan Pembangunan bermula dari tanah hibah seluas 4.637 m2 pada tahun 20 Februari 2009 oleh seorang Bapak Soeryono yang merupakan umat Katolik di Yogyakarta. Beliau bercita-cita agar tanah yang di berikan ke Gereja Katolik Stasi Santo Yusuf Getasan (Paroki Paulus Miki Salatiga) untuk dijadikan tempat ziarah iman[1] umat Katolik dan menjadi tempat yang cocok untuk berdoa, berdevosi, jalan salib, misa perayaan besar maupun misa minggu biasa.
Mereka gotong-royong membersihkan lahan dan kemudian mulai membeli lahan di sekitarnya. Luas area pun berkembang hingga 7.411 m², termasuk pembukaan akses jalan dari gereja, selain itu keberadaan Air Sendang ini juga menjadi titik tolak kesadaran iman. Fenomena belik yang tak pernah asat ini menggambarkan Yesus Sang Air Hidup yang tak pernah kering, yang selalu ditimba manusia melalui perantaraan Bunda-Nya. Saat ini Gua Maria disana memiliki lahan sekitar 12.048 m2 dari hasil para donatur gereja yang mendukung dalam membangun Gua Maria tersebut.
Selain itu ada juga fasilitas pendukung seperti toilet, parkir dan warung UMKM. Gua Maria di Pereng Getasan sangat bagus yang dimana ada sebuah patung Tuhan Yesus di salib dan Patung Bunda Maria Nazareth Ratu Surga, yang mendukung suasana spiritual tersebut. Gua Maria juga saat ini menjadi bagian dari warisan budaya dengan segala keindahan yang ada dan juga merupakan pengembangan spiritualitas umat Katolik di Semarang.
Fenomena Keagamaan juga seperti ritual Doa Rosario dan Doa Novena di Gua Maria di setiap malam Jumat dan Hari Sabtu pada Bulan Maria dengan menggunakan lilin sebagai terang yang menyinari kehidupan , doa yang berulang untuk menghayati penderitaan Yesus, persembahan bunga kepada Patung Bunda Maria yang menurut Peter Berger adalah bentuk dari eksternalisasi iman dimana manusia mengekspresikan devosinya melalui tindakan yang simbolik yang menciptakan realitas religius.
Peziarah Ketika pada Bulan Maria setiap (Mei dan Oktober), Hari Paskah, Hari pribadi yaitu dengan segala permintaan kesembuhan, mohon jodoh, pekerjaan,bernazar dan Syukur. Peter Berger menyebut ini sebagai tempat menjadi “kanopi suci” (sacred canopy), dimana Gua Maria yang awalnya tempat biasa, lewat interaksi religius dan menjadi ruang yang diilhami dan penuh makna bagi banyak orang. Kehidupan Religius di sekitar yang menciptakan budaya baru: Rosario, lilin dan air suci serta komunitas OMK. Konstruksi sosial kolektif dimana tindakan religius tidak hanya membentuk makna spiritual, tetapi juga membentuk gaya hidup dan kebiasaan sosial. Bisa dikatakan Gua Maria sebagai kanopi umat Katolik yang sebagai simbol Bunda Maria sebagai sosok yang dihormati dan sebagai perantara doa.
Tidak Sekedar Ritual Formal
Dalam suasana religius Gua Maria Pereng Getasan, para peziarah tidak hanya sekadar melakukan praktik keagaman formal, melainkan membangun makna spiritual yang bersifat personal sekaligus komunal. Keheningan alam, Patung Bunda Maria, serta struktur liturgis doa Rosario dan Novena menjadi ruang dimana para peziarah mengalami perjumpaan dengan realitas Ilahi yang eksistensial. Hal ini mencerminkan gejala desekularisasi menurut Peter Berger, di mana agama semula diperkirakan meredup di dunia modern justru mengalami kebangkitan bentuk spiritual yang lebih mendalam.
Di tengah konteks modernitas yang ditandai oleh rasionalitas dan keberagaman nilai, menurut Berger, terdapat kecenderungan balik di mana individu justru terdorong mencari pengalaman spiritual yang bersifat pribadi dan transenden. Gua Maria, sebagai ruang yang dianggap sakral, menjadi salah satu tempat yang merepresentasikan upaya manusia modern dalam merespons kehampaan spiritual yang ditimbulkan oleh proses sekularisasi.
Dengan demikian, situs seperti Gua Maria tidak sekadar menjadi lambang keimanan Katolik, melainkan juga menjadi bentuk perlawanan terhadap pengikisan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat yang makin sekuler. Melalui ziarah, devosi, dan pengalaman religius yang mendalam, para peziarah membangun kembali makna kehidupan religius mereka sebagai bentuk pencarian terhadap Yang Ilahi di tengah kehidupan sehari-hari yang sering kali membingungkan dan menantang secara spiritual.
Praktik Devosi yang menguatkan secara personal dan komunal para peziarah mengikuti doa rosario, Novena, dan Jalan Salib secara rutin. Devosi ini juga sebagai “ruang bertemu dengan Tuhan” yang tidak bisa didapatkan dalam kesibukan di kota. Alam yang tenang, suasana sejuk dan suara hening membuat Gua Maria menjadi tempat terpisah dari dunia sehari-hari, sehingga orang lebih berfokus untuk merenung, berdoa dan merasakan kehadiran Ilahi.
Kegiatan kelompok juga seperti retret atau ziarah paroki, ditemukan bahwa doa dan pengalaman spiritual bersama yang menumbuhkan semangat kelompok. Serta memperkuat identitas religius Katolik. Peter Berger menyatakan bahwa modernitas tidak sepenuhnya menghapus agama, justru dalam dunia yang semakin rasional dan pluralistik agama muncul kembali dalam bentuk pengalaman personal dan komunitas spiritual mendalam. Gua Maria Pereng menjadi ruang “resacralization” tempat dimana manusia modern menata kembali makna spiritual melalui simbol, ritus dan perjumpaan yang transenden. Ini membuktikan bahwa kanopi sakral yang masih berfungsi dalam masyarakat kontemporer dalam bentuk privat dan reflektif.
Bukan Hanya Peziarah Katolik
Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang saya lakukan di Gua Maria Pereng Getasan, saya menemukan bahwa tempat ini tidak hanya menjadi lokasi peziarahan bagi umat Katolik, tetapi juga menjadi ruang spiritual alternatif bagi individu dari berbagai latar belakang. Fenomena ini bisa dianalisis dengan menggunakan kerangka teori Peter Berger, terutama konsep tentang sacred canopy dan resakralisasi dalam masyarakat modern.[2]
Peter Berger, dalam The Sacred Canopy (1967), menyatakan bahwa masyarakat modern mengalami proses sekularisasi, yakni pelepasan kehidupan sosial dari struktur-struktur religius yang dulu dominan.² Namun, di tengah dunia yang semakin plural dan rasional, Berger juga melihat adanya gerakan balik (counter-movement), di mana manusia modern justru kembali mencari makna dan pengalaman transenden secara personal. Inilah yang disebutnya sebagai resakralisasi.[3]
Doa dan devosi pribadi di tengah alam terbuka: Banyak peziarah datang bukan hanya untuk mengikuti misa, tetapi lebih banyak untuk berdoa pribadi, menyendiri, atau menyalakan lilin sebagai bentuk komunikasi langsung dengan Tuhan melalui perantaraan Maria. Ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang serba cepat dan rasional, individu masih mendambakan pengalaman yang sakral dan intim, di luar struktur institusi gereja.[4]
Berdasarkan pengamatan di lokasi, terlihat bahwa pengunjung Gua Maria tidak seluruhnya berasal dari kalangan Katolik yang aktif. Sebagian di antaranya mengidentifikasi diri sebagai penganut agama lain, namun tetap memilih untuk datang dan berdoa karena merasakan kedamaian dan ketenangan batin di tempat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Gua Maria telah bertransformasi menjadi ruang spiritual lintas denominasi, di mana pengalaman religius bersifat lebih personal dan tidak selalu terkait dengan ajaran formal suatu institusi agama. Fenomena ini selaras dengan gagasan Peter Berger bahwa dalam masyarakat yang plural, muncul ruang bagi berkembangnya bentuk-bentuk spiritualitas yang lebih individual dan subjektif.[5]
Dalam wawancara dengan seorang peziarah perempuan, terungkap bahwa motivasinya datang ke Gua Maria dilatarbelakangi oleh kejenuhan terhadap tekanan hidup dan rutinitas harian yang dirasakannya hampa. Pengakuan ini mendukung pandangan Peter Berger bahwa ruang-ruang religius seperti Gua Maria berfungsi sebagai benteng pencarian makna, yakni bentuk perlawanan terhadap kekosongan spiritual yang ditimbulkan oleh kehidupan modern dan proses sekularisasi.[6]
Di lain pihak, pengelola Gua Maria secara aktif menjaga suasana kesucian lokasi melalui penerapan berbagai ketentuan, penggunaan simbol-simbol keagamaan, serta pelaksanaan liturgi yang terstruktur. Praktik ini mencerminkan adanya ketegangan sekaligus keterhubungan antara ekspresi spiritual yang bersifat individual dan spontan dengan upaya institusional dalam membingkai pengalaman religius ke dalam sistem makna yang mapan. Hal ini sejalan dengan konsep Peter Berger mengenai peran agama dalam melegitimasi dan mempertahankan konstruksi sosial atas realitas.[7]
Desekularisasi dan Pluralisme
Kebangkitan kembali minat terhadap agama di tengah kehidupan modern telah menjadi perhatian penting dalam kajian sosiologi agama. Salah satu tokoh yang menyoroti fenomena ini adalah Peter Berger, yang kemudian merevisi teori sekularisasinya terdahulu. Dalam bukunya, The Desecularization of the World, Berger menegaskan bahwa alih-alih mengalami pelemahan, agama justru menunjukkan kemunculan kembali dalam ruang publik maupun ranah privat.[8] Proses desekularisasi ini tidak hanya tampak dari meningkatnya pengaruh lembaga keagamaan, tetapi juga dari tumbuhnya ruang-ruang spiritual nonformal yang dimanfaatkan oleh manusia modern sebagai sarana untuk mengatasi kekosongan batin.
Salah satu contoh nyata dari gejala tersebut dapat diamati di Gua Maria Pereng Getasan, yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Awalnya dirancang sebagai tempat ziarah bagi umat Katolik, Gua Maria kini telah berkembang menjadi ruang religius yang melampaui sekat denominasi. Berdasarkan observasi lapangan dan wawancara dengan sejumlah peziarah, ditemukan bahwa sebagian besar pengunjung datang tidak semata-mata untuk mengikuti liturgi resmi, melainkan juga untuk melakukan doa pribadi, meditasi, atau mencari ketenangan batin.[9] Ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual di Gua Maria tidak sepenuhnya ditentukan oleh struktur kelembagaan gereja, melainkan dibentuk oleh kehendak dan kebutuhan rohani individu yang mendambakan relasi transenden secara langsung.
Menariknya, sebagian dari para peziarah bukan berasal dari latar belakang Katolik, bahkan ada yang menganut agama lain, namun tetap merasa diterima dan damai saat berada di tempat ini. Fenomena ini memperlihatkan praktik spiritual yang inklusif dan lintas agamasuatu bentuk pluralisme religius di mana batas-batas institusional dilampaui demi pencarian makna yang lebih personal.
Dalam kerangka pemikiran Berger, pluralisme semacam ini justru memberikan ruang bagi berkembangnya spiritualitas yang lebih reflektif dan otonom, di mana individu memiliki kebebasan dalam membentuk makna religius sesuai pengalaman dan kesadaran pribadinya.[10] Dengan demikian, Gua Maria dapat dipahami sebagai salah satu tempat sakral yang menawarkan “kanopi makna” bagi pencari spiritual di era modern yang sering kali dipenuhi oleh kecemasan dan kehampaan makna.
Di sisi lain, pengelola Gua Maria tetap menjalankan peran penting dalam menjaga suasana kesucian tempat tersebut. Mereka melakukannya dengan menetapkan aturan, menyediakan simbol-simbol religius, serta mengatur jadwal liturgi secara berkala.[11] Tindakan ini memperlihatkan adanya keseimbangan antara praktik religius yang bersifat spontan dan personal dengan kebutuhan akan pengelolaan institusional yang bertujuan menjaga stabilitas makna sakral. Berger menjelaskan dinamika ini sebagai bagian dari proses legitimasi sosial, yaitu mekanisme di mana agama memelihara dan mengkomunikasikan realitas spiritual melalui sistem simbol dan struktur sosial yang mapan.[12]
Kerinduan Spiritual Di Tengah Sekularisasi
Pencarian makna spiritual di Gua Maria Pereng Getasan memperlihatkan bahwa meskipun masyarakat modern dikelilingi oleh nalar rasional dan sekularisasi, kerinduan manusia akan hal-hal transenden tetap kuat. Gua Maria menjadi contoh nyata bahwa ruang-ruang masih relevan dan memiliki daya tarik penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui devosi seperti rosario, Novena, dan jalan salib, umat tidak hanya memperkuat iman pribadi, tetapi juga menjalin kebersamaan dan komunitas. Menurut Peter Berger, fenomena ini menandakan terjadinya desekularisasi kembalinya peran agama dalam wujud yang lebih pribadi dan eksistensial. Gua Maria juga berfungsi sebagai kanopi sakral yang memberikan perlindungan makna dan arah hidup di tengah dunia modern yang kerap kosong secara spiritual. Maka , ziarah Gua Maria bukan sekedar ritual keagaaman tetapi melainkan ekspresi religius yang mencerminkan ketahanan agama.
Daftar Pustaka
Berger, Peter L. The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. New York: Anchor Books,1967.
Berger, Peter L. “Desecularization of the World: A Global Overview. “ In The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics, edited by Peter L. Berger. Grand Rapids, MI: Eerdmans,1999.
Susanto, M.A .”Sakralitas Ruang dalam Ziarah Katolik : Studi Kasus Gua Maria Sendangsono,” Jurnal Teologi dan Masyarakat, vol.9, no.2 (2020): 102-118
Suryadinata, S. “Ruang Religius dan Resistensi terhadap Sekularisasi di Indonesia.” Jurnal Sosiologi Reflektif, vol.16, no.1 (2022):45 – 63
Shindung Haryanto, Sosiologi Agama: Dari Klasik hingga Postmodern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2018.
https://ziarekkatholik.blogspot.com/2018/01/Ziarah-Rohani-Gua-Maria-Pereng-Kopeng-Salatiga.html
Wawancara dengan penjaga Gua Maria Pereng Getasan
Observasi pengamatan di Gua Maria Pereng Getasan
[1] https://ziarekkatholik.blogspot.com/2018/01/Ziarah-Rohani-Gua-Maria-Pereng-Kopeng-Salatiga.html
[2] Peter L. Berger, The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (New York: Anchor Books, 1967), 3–5
[3] Berger, “The Sacred Canopy,” 105 -107
[4] Peter L. Berger, A Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural (New York: Anchor Books, 1969), 13–15.
[5] Berger, The Sacred Canopy, 149- 151
[6] Berger, A Rumor of Angels, 74–76.
[7] Berger, The Sacred Canopy, 30–32.
[8] Peter L. Berger, The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans, 1999), ix–x.
[9] Wawancara pribadi dengan peziarah di Gua Maria Pereng Getasan,12 Juni 2025
[10] Peter L. Berger, “The Sacred Canopy,” 127–130.
[11] Observasi langsung terhadap pengelolaan Gua Maria Pereng Getasan, 12 juni 2025
[12] Berger, The Sacred Canopy, 31–35.


















