Beranda Publikasi Kolom Kirab Budaya Babad Dalan Desa Sodo, Gunung Kidul

Kirab Budaya Babad Dalan Desa Sodo, Gunung Kidul

822
0
Kirab Budaya Babad Dalan di Desa Sodo

Ilham Hidayatullah Al Ghifari  (komposer musik tradisi alumi STKW Surabaya) 

Mendengar kata babat hutan, babat tegal, babat sawah mungkin sudah biasa. Jika mendengar kata babat biasanya kita mengartikan sebuah kegiatan seperti membersihkan rumput, pohon, atau ilalang. Namun, kali ini istilah tersebut agak berbeda dengan penulisan yang khas yaitu dari babat menjadi “babad”.

Istilah “Babad” memiliki makna tidak jauh berbeda dengan “Babat” walaupun kita masih asing dengan penggalan kata tersebut, apalagi kita korelasikan dengan kebudayaan tentu sangat aneh. Tapi jangan salah, istilah “Babad Dalan” ini muncul di Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.

Kata babad dapat di artikan pula membersihkan, memulai sesuatu baru atau pembukaan suatu wilayah, sedangkan “Dalan” artinya jalan. Dapat disimpulkan istilah “Babad Dalan” bermakna sebuah sejarah berdirinya Desa Sodo. Dengan hal ini menarik untuk kita bahas mengenai Babad Dalan di Desa Sodo, Paliyan, Gunung Kidul.

Berdasarkan perbincangan saya dengan beberapa informan seperti tokoh masyarakat, warga dan panitia penyelenggara, sejarah awal mula berdirinya Desa Sodo diawali dengan cerita adanya sekelompok burung yang mengitari suatu wilayah.

Namun anehnya ketika sekelompok burung melintas di atas wilayah tersebut terjatuh lalu mati. Tidak hanya burung tetapi berbagai hewan darat yang melintasi wilayah tersebut berakhir naas. Singkat cerita, dengan kejadian yang tidak lazim itu, beberapa warga mengidentifikasi hal tersebut untuk mencari tahu sebab kejanggalan yang telah terjadi.

Ternyata usut punya usut wilayah tersebut diyakini memiliki suatu energi magis guna menyampaikan kode atau pesan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat pesarean (makam) Ki Ageng Giring III.

Tokoh Ki Ageng Giring III merupakan keturunan Raja Brawijaya ke IV dari Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Giring adalah murid sunan kalijaga yang menyebarkan agama Islam di selatan Jawa.

Dari penelusuran masyarakat akhirnya menemukan makam Ki Ageng Giring dan warga berbondong-bondong menuju makam untuk melakukan “babad dalan” atau membuat jalan menuju ke makam. Sehingga timbul lah fenomena baru yang sampai saat ini menjadi tradisi, fenomena itu desebut “Babad Dalan Desa Sodo”.

Dulu, perayaan Babad Dalan hanya dilakukan dengan mengadakaan kenduri atau orang Jawa biasa menyebutnya dengan istilah slametan. Nasi ingkung, gudangan atau urap dan pisang menjadi menu pokok utama untuk kenduri.

Warga berbondong-bondong membawa makanan yang telah disiapkan menggunakan tenggok menuju ke tempat pengumpulan, yaitu Balai Desa Sodo untuk didoakan sesepuh desa dan tokoh agama.

Namun, seiring berkembangnya seni dan budaya yang ada di Desa Sodo, ditambah dengan teknologi digital yang semakin canggih, konteks Babad Dalan dikemas lebih kreatif dan inovatif sehingga rangkaian kegiatan terlihat lebih variatif.

Salah satu bentuk pembaruan dari kegiatan Babad Dalan adalah adanya Kirab Budaya. Penambahan struktur kirab budaya ini baru berjalan dalam kurun waktu sekitar kurang lebih sepuluh tahun. Babad Dalan dilaksanakan satu tahun sekali tetapi setelah adanya pandemi Covid-19 kegiatan tersebut mengalami perubahan waktu menjadi dua tahun sekali bertepatan setelah panen padi.

Pada tanggal 18 April 2025 hari Jumat Kliwon saya berkunjung ke Desa Sodo untuk menyaksikan Kirab Budaya, suatu kehormatan bagi saya bisa menyaksikan dan berinteraksi secara langsung bersama masyarakat, baik peserta kirab, panitia penyelenggara, penonton dan tokoh masyarakat.

Informasi yang saya dapatkan menurut Agung selaku warga setempat, Kirab Budaya Babad Dalan ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat diantaranya: anak-anak, remaja, ibu dan bapak, tokoh masyarakat (RT/RW, Dukuh), pemuka agama setempat, serta lansia pun ikut berpartisipasi dan merayakan kegiatn Babad Dalan.

Agung juga menjelaskan bahwa Kirab Budaya Babad Dalan wajib mengajukan perwakilan satu orang dalam satu KK untuk mengikuti kegiatan ini. Jika salah satu KK tidak mengajukan minimal satu orang, maka akan dikenakan denda yang telah disepakati masyarakat Desa Sodo.

Kirab Budaya Babad Dalan ini diikuti lima padukuhan, yaitu Dusun Jamburejo, Tambakrejo, Selorejo, Sidorejo, dan Pelemgede. Selain Agung, saya juga mendapatkan informasi dari Margito salah satu warga Dusun Pelemgede yang kebetulan hari itu beliau menjadi panitia. Sepengetahuan Margito, Kirab Budaya Babad Dalan tahun ini diikuti sekitar 2000 orang.

Setiap padukuhan menampilkan potensi kesenian yang ada di setiap dusun antara lain Bregadha, Sendratari, Toklik, Doger, Jathilan, Barongan, Gejug Lesung, Sholawat Banjari, Permainan Tradisional dan masih banyak lagi.

Tidak hanya kesenian, Margito juga menyampaikan bawasanya desa ini dikenal sebagai sentra ekonomi kreatif eduwisata kerajinan. Tidak heran UMKM yang ada di Desa Sodo sangat beraneka ragam seperti kerajinan bambu, kerajinan perak, tembaga dan kuningan, serta kerajinan kulit.

Di sisi lain, beberapa hasil panen yang dibentuk gunungan menjadi simbol wujud syukur atau sedekah bumi atas keberhasilan panen tahun ini.  Isi dari gunungan yang wajib ada ialah padi, jagung, palawija, sayur dan buah-buahan.

Saat pelaksanaan kegiatan tersebut ada beberapa armada yang digunakan untuk sarana transportasi yang berfungsi sebagai tempat instrumen alat musik, gunungan, gamelan, instrumen perkusi, dan juga pengeras suara.

Dalam pelaksanaan Kirab Budaya Babad Dalan masyarakat Desa Sodo mempersiapkan sajian atau rangkaian tampilan sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan dimulai.

Kirab Budaya Babad Dalan ini memiliki rute yang paten diawali dari lapangan Dusun Jamburejo melewati Tambakrejo, Selorejo, Sidorejo,  dan Pelemgede sekaligus melewati depan pesarean Ki Ageng Giring III dan berakhir di Balai Desa Sodo.

Para peserta kirab mulai berjalan setelah upacara kirab dilaksanakan, diawali secara simbolik mengibarkan bendera sebagai tanda peserta kirab mulai berjalan ke rute yang telah ditentukan. Sebagai peserta kirab diwajibkan untuk unjuk kebolehan disetiap sudut jalan yang sekiranya ramai penonton. Durasi unjuk kebolehan maksimal dua menit untuk mengefisien waktu.

Selain itu para peserta kirab wajib mengikuti rute hingga finis dan tidak boleh memotong jalan, karena puncak kirab budaya babad dalan ini peserta harus menampilkan sajian display dengan kreativitas masing-masing didepan Balai Desa Sodo.

Di saat display setiap dusun menampilkan karya seni seperti tari kolosal dan tari kerakyatan yang berdurasi maksimal tiga sampai lima menit. Setelah menampilkan karya seni perserta boleh membubarkan barisan atau bisa dikatakan sudah sah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Sebagian warga percaya jika sudah sah mengikuti rangkaian kegitan tersebut mereka percaya bahwa keberuntungan, keberkahan dan sehat jasmani rohani akan selalu datang dikemudian hari (dijauhkan dari malapetaka).

Acara Kirab Budaya Babad Dalan dihadiri oleh beberapa jajaran petinggi yang ada di Kabupaten Gunungkidul diantaranya Bupati Gunungkidul, yaitu Ibu Endah Subekti Kuntariningsih, Kepala Dinas Kebudayaan atau yang mewakili, dan Camat Paliyan beserta jajarannya.

Selain tamu undangan yang hadir kelancaran acara ini tidak luput dari pentingnya aparat keamanan yang ikut terlibat guna menciptakan suasana yang kondusif, aman, dan nyaman diantaranya jajaran Polsek Kecamatan Paliyan, Koramil, dan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah atau sering disebut KOKAM.

Kesimpulan yang saya dapatkan dari Kirab Budaya Babad Dalan Desa Sodo  adalah pentingnya rasa bersyukur terhadap nikmat Allah SWT yang telah memberikan karunia kesehatan serta kelancaran dalam mengarungi kehidupan sehingga diberi umur yang panjang untuk tetap bernafas hingga saat ini.

Di sisi lain banyak nilai moral yang didapatkan seperti gotong royong, guyup rukun, dan toleransi. Hal itu diwujudkan dengan adanya sajian kirab budaya yang telah saya amati. Adanya kegiatan Kirab Budaya juga berfungsi untuk mengenang sejarah berdirinya Desa Sodo dan wujud syukur masyarakat Desa Sodo kepada Allah SWT atas keberhasilan panen.

Melestarikan, merawat, dan menjaga adalah titik terpenting kita sebagai generasi muda agar tidak terkikis dan hilang ditengah alkulturasi budaya asing yang mulai merambah masuk kurang lebih satu dekade belakangan ini. [NI]

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini