Beranda Info & Event Event Pagelaran “Dialog Budaya dan Nusantara Academic Writing Award  2025”

Pagelaran “Dialog Budaya dan Nusantara Academic Writing Award  2025”

304
0

Nusantara Institute kembali menggelar acara tahunan bertajuk “Dialog Budaya dan Nusantara Academic Writing Award.” Nusantara Academic Writing Award (NAWA) adalah penghargaan penulisan pascariset (post-research writing grant) untuk tesis dan disertasi bagi mahasiswa magister dan doktor di perguruan tinggi di Indonesia tentang topik-topik yang sesuai dengan visi, misi, dan platform lembaga Nusantara Institute, yaitu studi mengenai dunia pendidikan, kesenian, kebudayaan, dan keagamaan di Indonesia. Program ini diadakan oleh Nusantara Institute sejak 2019 bekerja sama dengan Bakti BCA, dan sejak 2024, Bakti Pendidikan Djarum Foundation turut bergabung mensponsori program NAWA.

Pagelaran “Dialog Budaya dan Nusantara Academic Writing Award” tahun 2025 ini digelar di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, pada hari Jumat, 26 September 2025. Tidak seperti pagelaran sebelumnya, acara NAWA 2025, untuk pertama kalinya, berkolaborasi dengan universitas, yaitu UKSW, khususnya Fakultas Bahasa dan Seni. Sejak 2019, tercatat ada 50 penerima penghargaan (awardee) NAWA dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka dipilih melalui kompetisi nasional yang sangat ketat dengan melibatkan lebih dari 18 dewan juri setiap tahunnya yang terdiri dari para akademisi, guru besar, dan praktisi berkompeten.

Anggota Dewan Juri NAWA 2025, selain Sumanto Al Qurtuby, PhD (founder & director, Nusantara Institute) selaku Ketua Dewan Juri, juga Dr. Tedi Kholiluddin (sekretaris Dwan Juri), Prof. Dr. M. Mukhsin Jamil (UIN Walisongo, Semarang), Prof. Dr. Mudjahirin Tohir (Universitas Diponegoro), Prof. Dr. Jaenal Effendi (IPB), Prof. Asfa Widiyanto, D.Phil (UIN Salatiga), Prof. M. Nur Ichwan, PhD (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), Prof. Dr. Islah Gusmian (UIN Surakarta), Dr. Zastrouw Al Ngatawi (Universitas Indonesia), Dr. Deta Maria (UKSW), dan lain-lain.

Selain dinyatakan lolos seleksi berkas-berkas lamaran, para awardee juga harus lolos seleksi saat wawancara (melalui Zoom) oleh para dewan juri. Setiap tahun, Nusantara Institute menerima antara 150-200 pelamar program ini.  

Selain mendapatkan dana bantuan penulisan tesis/disertasi, para penerima award juga mendapatkan sertifikat penghargaan. Selain itu mereka juga dilibatkan dalam proyek-proyek yang diinisiasi oleh Nusantara Institute seperti webinar, penulisan buku bunga rampai, dan penulisan kolom-kolom di portal lembaga https://www.nusantarainstitute.com/).    

Dalam sambutannya, Sumanto Al Qurtuby, PhD, founder dan direktur Nusantara Institute sekaligus Ketua Dewan Juri NAWA, mengatakan bahwa program ini dimaksudkan untuk memberi dorongan atau stimulan bagi para akademisi dan intelektual muda yang sedang menyelesaikan penulisan tesis magister atau disertasi doktor agar segera menyelesaikan studi magister/doktoral mereka. Selain itu, program ini juga dimaksudkan untuk mendorong para ilmuwan muda agar lebih mencintai bangsa dan budaya Indonesia.

Sementara itu, Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono, mengapresiasi program NAWA sebagai bagian dari upaya untuk melestarikan dan memajukan kearifan lokal dan budaya Nusantara yang kaya melalui karya akademik ilmiah. Program ini sangat penting karena Indonesia mempunyai banyak peninggalan tradisi dan budaya warisan para leluhur dan kerajaan tempo dulu yang perlu terus dipelajari, digali, dan dikaji melalui berbagai macam cara termasuk riset ilmiah dan penulisan tesis/disertasi.  

Felicia Hanitio, Deputy Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, juga sangat mengapresiasi program NAWA sebagai bagian upaya untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan Indonesia, khususnya di dunia akademik. Meskipun Hanitio adalah warga negara Singapura dan lama tinggal di Luar Negeri, ia memiliki leluhur dari Indonesia dan mempunyai komitmen kuat untuk memajukan kebudayaan Nusantara. Dalam sambutannya, ia berharap para awardees tidak menjadikan award sebagai akhir dari perjuangan tetapi awal dari kiprah akademik membangun bangsa yang berbudaya dan berbasis teknologi.

Setali tiga uang, Rektor UKSW, Prof. Dr. Intiyas Utami, dan Kepala LLDIKTI Wilayah VI, Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, juga sangat mengapresiasi kegiatan NAWA yang sangat positif bagi para akademisi, khususnya akademisi muda (baca, calon master dan doktor), agar lebih peduli dengan kesenian, kebudayaan, kerajaan, dan keagamaan Nusantara. Masyarakat pada umumnya juga mendapatkan manfaat dari kegiatan ini karena karya-karya para sarjana ini diharapkan bukan hanya sebatas “karya ilmiah” yang berhenti di ruang kelas dan/atau gedung perpustakaan tetapi diharapkan bisa berdampak positif bagi publik dalam bentuk implementasi kerja nyata di masyarakat dalam berbagai bentuk program sosial-kemasyarakatan.   

Tahun 2025 ini ada tujuh penerima NAWA dari berbagai kampus di Indonesia.

Mereka adalah:

  • Siti Rohwati (mahasiswa S2, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta). Judul tesis “Islam dan Budaya Lokal: Studi Tradisi Puasa Adat di Masyarakat Blora.”
  • Novi Diah Haryanti (mahasiswa S3, Universitas Indonesia). Judul disertasi “Di Antara Tradisi dan Modernitas: Strategi Negosiasi Tokoh Perempuan terhadap Habitus di Pesantren dalam Empat Novel Karya Karya Perempuan Penulis Pesantren.”
  • Suaidi (mahasiswa S3, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Judul disertasi “Transaksi Ekonomi dalam Pelaksanaan Tradisi Tompangan Masyarakat Sumenep, Madura.”
  • Fina Mazida Husna (mahasiswa S3, UIN Walisongo, Semarang). Judul disertasi: “Pembacaan Ulang Maulid Al-Dziba’i sebagai Karya Sastra Arab Populer di Indonesia.”
  • Kurnia (mahasiswa S2, Center for Religious and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada). Judul Tesis: “The Agency of Kaluppini Women in Indigenous Natural Resource Management in Sulawesi, Indonesia.”
  • Marthinus Ngabalin (mahasiswa S3, Universitas Kristen Satya Wacana). Judul disertasi: “Ritus Tombor Maghi: Liminalitas Hubungan Antaragama Islam-Kristen di Kabupaten Fakfak, Papua”
  • Rifqi Nurdiansyah (mahasiswa S3, Universitas Islam Internasional Indonesia). Judul disertasi: “Islamic Hybridity and Meaning-Making of Islam in Indonesia: Islam Langkah Lama of the Talang Mamak Tribe.”  

Acara ini dimeriahkan oleh penampilan dari grup Komunitas Diajeng Semarang pimpinan Maya Dewi serta tim kreatif seni dari UKSW, yaitu (1) Sastrian Troupe (grup drama Prodi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni), (2) Gruppo Ambrosio (grup musik Prodi Seni Musik, Fakultas Bahasa dan Seni), dan (3) PSM UKSW (Voice of Satya Wacana Christian University).

Acara ini dihadiri lebih dari 300 peserta undangan khusus dari berbagai kalangan seperti perguruan tinggi, ormas keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas seni-budaya di Salatiga dan sekitarnya seperti Persatuan Drumband Indonesia Cabang Kota Salatiga, Sanggar Bangun Budaya, Sanggar Seni Semut Geni, Sanggar Tari Sekar Rinonce, Salatiga Ethnic Festival, Saung Swara, Drumblek Gempar, dan Orkes Keroncong Wong Pitoe.

Di antara para tokoh masyarakat yang hadir adalah Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo dari Keraton Surakarta Hadiningrat, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi (Kepala LLDIKTI VI Jawa Tengah), Prof. Dr. Intiyas Utami (Rektor UKSW), Inge Setiawati (anggota Dewan Penasehat Nusantara Institute dan Komisaris BCA Syariah), Felicia Hanitio (Deputi Direktur Bakti Pendidikan Djarum Foundation), Prof. Asfa Widiyanto, D.Phil (Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Salatiga), Dr. Agastya Rama Listya (Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, UKSW), Pdt. Dr. Ferry Nahusona (Kepala Campus Ministry, UKSW), Tintien Koerniawati (Direktur Perpustakaan), serta dosen, mahasiswa, dan sejumlah pimpinan kampus UKSW.

Selain itu, para pimpinan lembaga dan komunitas kesenian di Salatiga juga ikut seperti Valentino Haribowo (Ketua PAPPRI dan Persatuan Drumband Indonesia Cab Kota Salatiga), Maria Budi Haningsih (DPC PAPPRI Kota Salatiga), Untung Pribadi (Pimpinan Sanggar Bangun Budaya), Candra Harjanto (Pimpinan Sanggar Seni Semut Geni), Amrih Gunarto (Pimpinan Sanggar Tari Sekar Rinonce), Atiek Widyati (Pimpinan Salatiga Ethnic Festival), Bambang Widiatmoko (Pimpinan Saung Swara), Datri Miarto (Drumblek Gempar), dan Asmara Saputra (Ketua Orkes Keroncong Wong Pitoe).

Acara ini ditutup dengan menyanyikan lagu Tabole Bale secara bersama-sama serta foto bersama dan ramah tamah dengan awardees.  

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini