Beranda Publikasi Kolom Ketan Pencok: Simbol Keramahan dan Kebersamaan Masyarakat Bumiayu

Ketan Pencok: Simbol Keramahan dan Kebersamaan Masyarakat Bumiayu

92
0

Muhammad Noval Rofif (Pegiat Literasi Rumah Kreatif Wadas Kelir Banyumas)

Bumiayu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Brebes yang merupakan pusat aktivitas masyarakat di bagian selatan Kabupaten Brebes seperti Tonjong, Sirampog, Bantarkawung, Salem, dan Paguyangan. Kecamatan Bumiayu yang mayoritas penduduknya adalah petani adalah satu dari 17 kecamatan di Kabupaten Brebes.

Bumiayu juga merupakan kota kecil yang dikelilingi pegunungan dan bukit yang indah. Ketinggian rata-rata wilayahnya adalah 690 meter di atas permukaan laut. Keseluruhan kecamatan Bumiayu memiliki luas 8.209,09 Ha. Sebagian besar wilayah tersebut dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, baik berupa sawah ataupun yang lainnya. Kecamatan Bumiayu memiliki 15 desa, antara lain, Bumiayu, Adisana Dukuhturi, Jatisawit, Kalierang, Kalilangkap, Kalinusu, Kalisumur, Kaliwadas, Langkap, Laren, Negaradaha, Pamijen, Pruwatan dan Penggarutan.

Bumiayu merupakan daerah tujuan dari sebagian penduduk wilayah Brebes Selatan maupun mayarakat luar Kabupaten Brebes untuk berbelanja. Hal ini karena Bumiayu memiliki lima pasar tradisional yang didalamnya terdapat beberapa pusat perbelanjaan baik toko maupun pusat perbelanjaan besar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. 

Ada pula yang hanya sekedar jalan-jalan menikmati kedamaian Bumiayu yang terkenal dengan masyarakatnya yang ramah, baik hati, dan penuh kehangatan. Bumiayu juga memiliki keindahan alam yang cukup terkenal diantaranya adalah waduk penjalin, kaligua, telaga ranjeng dan masih banyak lagi.

***

Di samping dikenal sebagai pusat pembelanjaan dan keindahan alamnya, Bumiayu juga dikenal karena keanekaragaman kulinernya. Salah satunya adalah Ketan Pencok, makanan tradisional khas Bumiayu yang terbuat dari beras ketan yang ditaburi dengan serundeng kelapa bercita rasa manis.

Ketan Pencok memiliki tekstur padat dan lembut serta memiliki aroma harum yang khas yang tidak dimiliki daerah lainnya serta disajikan di atas daun pisang. Makananini dibuat dari ketan yang dihaluskan dan disajikan dengan taburan kelapa parut sangrai. Kombinasi ini menciptakan tekstur yang lembut serta aroma harum yang khas kue ketan pencok Bumiayu.

Sejarah ketan pencok bermula pada tahun 1960-an, ketika Ibu Bariyah memperkenalkannya di Bumiayu, dan sejak saat itu, hidangan ini semakin dikenal dan dicintai masyarakat (Indriani, 2024)

Ketan Pencok bukan hanya sekedar makanan, akan tetapi juga memiliki makna tersendiri yang sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan kesederhanaan yang masih dijunjung tinggi. Hal ini dikarenakan ketan pencok sering dinikmati dalam suasana berkumpul dalam kehidupan sosial masyarakat di wilayah Bumiayu.

Saat masyarakat Bumiayu mengadakan acara, Ketan Pencok menjadi hidangan yang wajib ada karena menjadi lambang rasa syukur dan persatuan. Proses pembuatan Ketan Pencok sering dilakukan secara bersama-sama, di mana anggota keluarga atau tetangga berkumpul untuk memasak dan menyiapkan makanan ini.

Aktivitas ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang interaksi sosial yang mempererat hubungan baik masyarakat Bumiayu. Ketan sendiri memiliki tekstur lengket, yang dalam budaya Jawa sering dimaknai sebagai simbol persatuan dan kekompakan. Masyarakat Bumiayu menggunakan ketan sebagai pengingat bahwa hubungan antarsesama harus lengket atau saling melekat erat, penuh solidaritas dan gotong royong.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Bumiayu dikenal dengan semangat guyub, rukun, dan saling membantu satu sama lain, terutama saat hajatan, syukuran, pernikahan, panen raya, atau perayaan tradisional lainnya.

Pencok (semacam bumbu untuk mencocol ketan) yang berbahan dasar dari kelapa parut ini melambangkan bahwa hidup itu memiliki banyak rasa, ada manis, gurih, bertekstur padat, seperti dinamika hidup yang harus dinikmati dengan ikhlas. Masyarakat Bumiayu terkenal sabar dan menerima kehidupan apa adanya. Masyarakat Bumiayu juga tidak mengejar kemewahan, tapi lebih pada rasa syukur atas rezeki dan kebersamaan.

Dilihat dari kombinasi ketan dan pencok yang bersatu, kombinasi itu mencerminkan harmoni dalam perbedaan. Meski ketan dan pencok berasal dari bahan yang berbeda, ketika disatukan justru menciptakan rasa yang khas dan nikmat. Ini mencerminkan harmoni dalam keberagaman yang menjadi kekuatan masyarakat Bumiayu.

Dalam kehidupan masyarakat Bumiayu, perbedaan latar belakang suku, bahasa, budaya dan pandangan bukanlah pemecah, melainkan penguat. Masyarakat Bumiayu hidup berdampingan dengan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati.

Dalam penyajiannya, ketan pencok sering dihidangkan dalam acara tahlilan, syukuran, dan hajatan. Ini menunjukkan perannya sebagai simbol ikatan sosial yang mempererat tali silaturahmi. Maknasosialsetiap sajian ketan pencok dalam acara adat  menjadi momen berkumpulnya masyarakat Bumiayu, memperkuat jaringan sosial, dan menjaga tradisi lokal agar tetap hidup di tengah modernisasi.

Ketan pencok lebih dari sekadar hidangan khas Bumiayu. Ia adalah representasi dari kebersamaan dan pelestarian tradisi dalam masyarakat. Melalui makanan ini, masyarakat Bumiayu mengekspresikan nilai-nilai yang telah mereka jaga dan wariskan kepada generasi selanjutnya. Pula, Ketan Pencok tidak hanya sekedar mengisi perut saat lapar, tetapi juga menghangatkan hati, menciptakan momen-momen berharga yang memperkuat ikatan antarwarga. Dengan demikian, Ketan Pencok menjadi bagian  dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bumiayu yang patut untuk dilestarikan.

Daftar pustaka

Ahmad,  N.  A.  H.  (2022).  Mengenal  Jajanan  Tradisional  Ikon  Kota  Bumiayu,  Kabupaten  Brebes. https://kumparan.com/nadya-abil-husna-ahmad/mengenal-jajanan-tradisional-ikon-kota-bumiayu-kabupaten-brebes-1zOwv0BYAOM

Indriani, et al. 2024. Penyuluhan Digital Marketing Pada Umkm Ketan Pencok WijiyatiDesa Dukuhturi Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes. JCOS: Journal of Community Service.Vol. 2(3): pp. 75-79, doi: https://doi.org/10.56855/jcos.v2i3.1129

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini