Nurfadillah (Dosen Universitas Sawerigading Makassar)
Pengantar: Menelusuri Jejak Peradaban di Bumi Lamaddukelleng
Desa Tosora, yang merupakan cikal bakal dan pusat peradaban Kerajaan Wajo, ditandai sebagai kawasan historis krusial yang kaya akan situs cagar budaya, mencakup makam para raja, struktur perbankan, hingga lokasi peletakan dasar demokrasi pada abad ke-14.
Dalam konteks historis ini, Masjid Tua Tosora yang terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, muncul sebagai struktur cagar budaya Islam Nusantara yang paling sentral dan menjadi saksi kunci perubahan sosio-kultural. Masjid ini tidak sekadar melambangkan sebuah bangunan ibadah yang berusia ratusan tahun. Ia adalah monumen hidup yang merekam proses panjang syiar Islam di tanah Bugis.
Masjid ini merepresentasikan dialog mendalam antara ajaran tauhid dengan warisan budaya lokal yang telah mengakar dalam masyarakat Wajo. Nilai peradaban masjid ini semakin diperkuat oleh keberadaannya yang tak terpisahkan dari Makam Syekh Jamaluddin al-Akbar al-Husaini (Asseyick Jumadil Kubro atau Syekhta Tosora) sosok suci yang dicatat sebagai keturunan Rasulullah SAW ke-20, salah satu penyebar Islam pertama di Nusantara, dan Datuk Para Wali yang jejaknya tercatat sejak abad ke-13.
Babak Awal Syiar: Kontribusi Ulama dan Kebijakan Kerajaan
Secara historis, pembangunan Masjid Tua Tosora memiliki kaitan erat dengan periode awal Islamisasi Wajo. Meskipun Islam diakui secara resmi sebagai agama kerajaan pada tahun 1610 M di bawah pemerintahan Arung Matowa La Sangkuru Patau Mulajaji Sultan Abdurrahman, sebuah peristiwa yang terjadi setelah Kerajaan Gowa-Tallo, Luwu, dan Soppeng lebih dahulu memeluk Islam (A.Z. Abidin Farid, 1983), jejak penyebaran di Tosora diyakini bermula jauh lebih awal.
Beberapa peneliti dan tradisi lisan mengemukakan bahwa benih Islam pertama kali ditanamkan di Wajo, khususnya Tosora, oleh Syekh Jamaluddin al-Akbar al-Husaini atau yang dikenal sebagai Syekhta Tosora. Syekh Jamaluddin diperkirakan telah menyebarkan dakwah pada abad ke-14, menempatkan Islam telah hadir di Wajo sebelum kedatangan para ulama Minangkabau yang dikenal sebagai Datuk Tallue (Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Patimang) pada abad ke-16 (Rustan & Mulyadi, 2002; Hafid, 2018). Masjid Tua Tosora sendiri diperkirakan didirikan sekitar tahun 1621 M.
Penetapan Tosora sebagai lokasi masjid menunjukkan nilai strategis yang tinggi, mengingat wilayah ini adalah pusat kekuasaan dan perdagangan utama Kerajaan Wajo. Masjid ini berfungsi sebagai markas utama ulama, pusat pendidikan keagamaan, dan balai musyawarah politik-keagamaan. Peranannya melampaui fungsi ritual, menegaskan bahwa ia adalah lembaga sentral bagi setiap kebijakan keagamaan yang diterapkan di Wajo (A. Duli, 2010).
Proses Islamisasi Wajo berjalan secara inklusif. Dokumentasi lokal seperti Lontarak Sukukna Wajo mencatat bagaimana raja-raja Wajo menerima ajaran baru ini dengan mengkompromikan struktur kekuasaan dan budaya lama dengan nilai-nilai keislaman. Masjid Tua Tosora, dengan demikian, bukan sekadar tempat salat, tetapi simbol keberhasilan asimilasi budaya dan agama, yang memungkinkan Islam diterima secara damai dan massif oleh masyarakat Bugis.
Sintesis Dua Dunia: Menjelajahi Arsitektur Bugis-Islam Masjid Tua Tosora
Masjid Tua Tosora juga menyajikan kekayaan nilai melalui kacamata arkeologi dan arsitektur, menawarkan petunjuk berharga mengenai gaya, material, dan evolusi bangunan dari masa ke masa. Struktur yang masih tegak membawa ciri khas perpaduan gaya arsitektur tradisional Bugis dengan adaptasi Islam yang khas di Nusantara (Studi Kelayakan Bekas Ibukota Wajo, 1984).
Desain masjid ini menampilkan penggunaan material alami dan teknik konstruksi lokal, yang membuktikan kemandirian arsitektur Bugis. Ciri khas yang sering dianalisis meliputi atap bersusun tiga, yang ditafsirkan sebagai simbol dimensi kosmos dalam tradisi lokal yang kemudian diselaraskan dengan konsep Islam (Makmur et al., 2023). Selain itu, adanya tiang utama yang masif, atau soko guru, melambangkan kekokohan spiritual dan fisik komunitas. Berdasarkan temuan arkeologis, minimnya serambi pada bangunan awal masjid ini juga menunjukkan fokus arsitektur pada fungsi inti peribadatan pada masa pendiriannya.
Unsur arsitektur seperti mihrab, mimbar, dan tata letak halaman, seluruhnya mengandung informasi historis dan budaya yang berharga. Mimbar, misalnya, kerap memuat ukiran yang mencerminkan kekayaan seni ukir Bugis, yang merupakan perpaduan antara motif lokal dan motif kaligrafi Islam. Tiang-tiang penyangga, yang didirikan dengan material yang kuat, menunjukkan sumber daya dan keahlian tukang Bugis di masa lalu.
Secara kolektif, fitur-fitur ini memungkinkan para ahli arkeologi untuk membaca bangunan Masjid Tua Tosora sebagai teks budaya. Melalui bentuk dan materialnya, masjid ini menyajikan narasi tentang bagaimana masyarakat Bugis di Wajo menginterpretasikan ruang suci mereka, menciptakan sebuah model arsitektur Islam Nusantara yang unik dan berkarakter lokal.
Kontinuitas Budaya: Peran Komunal dan Warisan Spiritual
Melampaui fungsi peribadatan, Masjid Tua Tosora terus memegang peranan vital dalam kehidupan komunal masyarakat Wajo. Ia bertindak sebagai poros tempat tradisi dan spiritualitas bertemu, sekaligus menjadi pusat yang menjaga kesinambungan budaya Bugis-Islam. Sepanjang sejarahnya, masjid ini selalu menjadi ruang sosial utama bagi masyarakat untuk berkumpul, bermusyawarah, dan merayakan hari-hari besar keagamaan. Hal ini sejalan dengan fungsi masjid-masjid kuno di Nusantara yang sering kali menjadi pusat ulil amri (kepemimpinan) di suatu wilayah.
Eksistensi makam Syekhta Tosora (Syekh Jamaluddin al-Akbar al-Husaini) di lingkungan masjid menjadikan tempat ini sebagai titik fokus ziarah. Situs ini mengikat erat memori kolektif masyarakat, mengingatkan mereka pada para leluhur dan perjuangan panjang penyebaran Islam (Hafid, 2018). Pengetahuan sejarah masjid ini bukan hanya didapatkan dari dokumen resmi, tetapi juga dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, sebuah sumber penting dalam penelitian sejarah lokal.
Selain itu, Masjid Tua Tosora juga memiliki peran edukatif yang berkelanjutan. Nilai-nilai keislaman dan etika Bugis, atau pappaseng, seperti semangat persatuan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan, terus diajarkan dan dipraktikkan di sekitar masjid. Ia adalah sekolah tak tertulis yang melestarikan moralitas dan identitas masyarakat Wajo. Upaya pelestarian bangunan ini, yang melibatkan komunitas secara aktif, merupakan cerminan dari kesadaran kolektif untuk menjaga warisan spiritual dan budaya ini agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
Penutup: Masa Depan Warisan Tosora
Masjid Tua Tosora adalah sebuah permata sejarah dan arkeologi yang sangat berharga bagi Indonesia. Menunjukkan bahwa masjid ini adalah pusat peradaban yang membentuk wajah keislaman di Wajo. Dari peran sentralnya dalam proses Islamisasi yang dimulai sejak abad ke-14, hingga keunikan arsitekturnya yang memadukan dua dunia, yaitu nilai arsitektur Islam dan gaya arsitektur kearifan lokal Bugis. Sehingga menjadikan Masjid Tua Tosora sebagai bukti nyata fleksibilitas Islam dalam berinteraksi dengan budaya lokal.
Menjaga kelestarian masjid ini adalah tanggung jawab kolektif. Dengan memahami narasi sejarah yang terkandung di dalamnya, yang bersumber dari lontarak, tradisi lisan, dan temuan arkeologi, masyarakat dapat lebih menghargai akar budaya dan spiritualitas mereka. Warisan Masjid Tua Tosora harus terus dikaji dan disosialisasikan, sehingga generasi mendatang dapat terus mengambil pelajaran dari kekokohan sejarah dan kearifan lokal yang terpancar dari bangunan tua yang penuh makna ini.
Referensi
Abidin Farid, A. Z. (1983). Wajo pada Abad XV-XVI: Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi dari Abad XIV. Bandung: Penerbit Alumni.
Damayanti, Tita Irsani. (2022). Masjid Tua Tosora di Kabupaten Wajo (Studi Historis dan Arkeologis). Tesis, Makassar: UIN Alauddin Makassar.
Duli, A. (2010). Arkeologi Islam di Sulawesi Selatan: Jejak dan Peranannya dalam Perkembangan Kebudayaan. Makassar: Pustaka Refleksi.
Hafid, Abdul. (2018). Jejak Syekh Jamaluddin al-Akbar al-Husaini di Wajo dan Implikasinya Terhadap Perkembangan Islam. Jurnal Keislaman dan Kebudayaan.
Makmur, M., dkk. (2023). Eksistensi dan Makna Simbolis Arsitektur Masjid Tua Tosora di Wajo. Jurnal Arsitektur dan Budaya Lokal.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi. (1984). Studi Kelayakan Bekas Ibukota Wajo: Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rustan, A. M., & Mulyadi. (2002). Sejarah dan Budaya Wajo. Sengkang: Pemerintah Kabupaten Wajo.


















