Beranda Publikasi Kolom Ritual Rambut Gimbal Masyarakat Dieng

Ritual Rambut Gimbal Masyarakat Dieng

99
0

Eikel K. Ginting (Peneliti Independen dan Alumni Kajian Konflik dan Perdamaian, UKDW)

Di keheningan kabut pagi Dataran Tinggi Dieng, sebuah tradisi sakral telah mengalir turun temurun selama berabad-abad. Ritual cukur rambut gimbal bukan sekadar pertunjukan budaya yang memukau mata wisatawan, melainkan manifestasi kepercayaan mendalam yang mengakar dalam jiwa masyarakat setempat. Setiap awal tahun penanggalan Jawa-Islam, ritual ini diselenggarakan dengan penuh khidmat, membawa serta warisan spiritual yang tak ternilai.

Dalam kepercayaan masyarakat Dieng, anak yang terlahir dengan rambut gimbal bukanlah kebetulan semata. Mereka dipercaya sebagai titisan dari Kiai Kolodete—seorang tumenggung atau raja spiritual yang diyakini sebagai leluhur pertama yang datang ke Dieng dalam keadaan berambut gimbal. Sosok Kiai Kolodete tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai peletak dasar ajaran Islam di kawasan pegunungan Dieng.

Rambut gimbal dalam tradisi Dieng memiliki dualitas makna yang menarik. Di satu sisi, kehadiran rambut gimbal dianggap sebagai anugerah istimewa—tanda bahwa anak tersebut memiliki kedekatan khusus dengan dunia spiritual dibanding anak-anak lainnya. Mereka dipercaya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan dunia gaib, sehingga segala keinginan mereka harus dipenuhi oleh orangtua. Namun di sisi lain, rambut gimbal juga dipandang sebagai beban yang harus dilepaskan melalui ritual pemotongan, sebagai upaya membebaskan anak dari potensi kesialan yang mungkin menempel. (Mubin, 2016)

Sakralitas Ritual

Ritual cukur rambut gimbal dimulai dengan pengumpulan anak-anak berusia 3 hingga 15 tahun di rumah tetua adat. Suasana khidmat langsung terasa ketika para anak ini diarak berkeliling kampung, seolah-olah seluruh komunitas turut merayakan momen transisi spiritual mereka. Prosesi berlanjut dengan ritual mandi menggunakan air suci, sebelum akhirnya para anak dibawa ke kompleks Candi Arjuna—lokasi yang dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai simbol pertemuan antara warisan leluhur dengan dimensi sakral.

Upacara ini dipimpin oleh tokoh-tokoh penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati atau pemimpin budaya setempat. Doa-doa Jawa dan Islam bergema berdampingan, mencerminkan sinkretisme kepercayaan yang telah melebur harmonis dalam kehidupan masyarakat Dieng. Setelah pemotongan rambut selesai, tradisi mengharuskan pemenuhan permintaan anak sebagai ‘upah’ atas kesediaan mereka melepaskan rambut gimbal. Rambut yang telah dipotong kemudian dilarung ke sungai atau telaga, sementara sebagian disimpan di batu sebagai pelengkap ritual. (Atrinawati et al., 2021)

Dinamika zaman telah membawa perubahan pada ritual ini. Kini, cukur rambut gimbal tidak lagi menjadi upacara tertutup yang hanya melibatkan komunitas lokal. Melalui Dieng Culture Festival, ritual ini telah bertransformasi menjadi bagian dari agenda wisata budaya tahunan yang terbuka untuk umum. Namun yang menarik, dimensi ritual dan religius masyarakat Dieng tetap bertahan kukuh di tengah keterbukaan ini.

Transformasi ini mencerminkan kemampuan luar biasa masyarakat Dieng dalam mempertahankan sakralitas sambil berbagi nilai-nilai budaya kepada dunia yang lebih luas. Ritual yang dulunya bersifat eksklusif kini menjadi ekspresi religius di ruang publik, berfungsi ganda sebagai praktik spiritual sekaligus medium promosi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi rambut gimbal. (Suprobowati, 2021)

Menyelami Makna yang Tersembunyi

Ritual cukur rambut gimbal mengandung dimensi keselamatan dan pembersihan yang mendalam. Dalam kosmologi Jawa, konsep sukerto—yang berarti kotor, lemah, atau pembawa sial—dipercaya dapat menempel pada manusia maupun lingkungan. Ritual pemotongan rambut gimbal dipandang sebagai cara untuk membebaskan anak-anak dari sukerto ini, mencegah gangguan yang mungkin terjadi di masa depan. Secara psikologis, ritual ini juga berfungsi mengikis stigma perbedaan antara anak berambut gimbal dan yang tidak, memberikan identitas spiritual dan fisik yang seimbang.

Ritual ini menjadi simbol identitas kultural yang mengikat berbagai elemen. Kehadiran unsur kepercayaan lokal Tunggul Sabdo Jati (kepercayaal lokal masyarakat Dieng), nilai-nilai Islam, dan dukungan pemerintah menunjukkan bahwa identitas kultural ini terbentuk melalui negosiasi yang dinamis. Bukan sekadar pelaksanaan ritual, tetapi juga edukasi kultural melalui pariwisata—sebuah kombinasi yang memberikan kekhasan tersendiri bagi keberlanjutan dan promosi praktik ritual ini. (Mubin, 2016)

Dimensi sakral ritual rambut gimbal melampaui aspek kultural semata, menjadi simbol relasionalitas kosmik yang mendalam. Bagi masyarakat Dieng, menjaga keseimbangan dan ketertiban kosmis bukan pilihan, melainkan keharusan untuk mencapai kehidupan yang selaras. Penggunaan unsur-unsur alam dalam ritual—mulai dari lokasi di kompleks Candi Arjuna, air dari tujuh sendang yang berbeda, hingga elemen bumi seperti batu dan kayu—mencerminkan pemahaman holistik tentang hubungan manusia dengan alam semesta.

Filosofi memayu hayuning bawono yang diyakini masyarakat Dieng—dalam keadaan tenang, damai, dan selaras seperti kesempurnaan bunga keabadian di alam semesta—terwujud nyata dalam setiap aspek ritual ini. Ketika rambut yang dipotong dilarung ke sungai atau telaga, tindakan ini bukan sekadar simbol, melainkan ekspresi kepercayaan untuk menjaga ekosistem alam. Praktik ini menunjukkan dimensi vertikal sebagai eksistensi manusia di hadapan Yang Mahakuasa, sekaligus dimensi horizontal sebagai upaya mempererat relasi dan mengintegrasikan hubungan alam-manusia dalam makrokosmos bopo angkoso lan ibu pertiwi (bapak langit dan ibu bumi). (Hermanto, 2018)

Ritual rambut gimbal juga memiliki fungsi penting sebagai katalisator kesadaran sosial. Di tengah kesibukan hidup sehari-hari, ritual ini menjadi momen berharga di mana seluruh komunitas berkumpul untuk merayakan bersama. Bagi mereka yang baru atau belum saling mengenal, ritual ini menjadi pengikat untuk saling menyapa dan menjalin relasi.

Semangat aksi sosial terlihat jelas dalam persiapan ritual, di mana warga dari berbagai desa bergotong-royong membantu perlengkapan acara, memasak, menyediakan jajanan pasar, hingga memberikan uang kepada anak yang telah selesai dipotong rambut gimbalnya. Solidaritas sosial ini menjadi simbol relasionalitas terhadap sesama yang mengakar kuat. Ikatan emosional dan pemahaman bersama bahwa rambut gimbal adalah karunia yang memiliki koneksi dengan leluhur melalui eksistensi Kiai Kolodete mendorong warga untuk hadir dan terlibat sebagai bagian dari identitas kolektif yang memiliki keyakinan sama. (Mubin, 2016)

Sakralitas sebagai Jembatan Relasionalitas

Ritual rambut gimbal yang mengandung konsep supernatural sebenarnya menunjukkan bahwa kepercayaan lokal memiliki pandangan holistik tentang eksistensi manusia yang tidak terpisah dari leluhur dan pengetahuan yang telah ada. Seperti yang ditegaskan oleh Kovach, kepercayaan lokal memandang epistemologi (cara pandang tentang penciptaan pengetahuan), etika (nilai dasar), komunitas (termasuk tanah dan tempat), serta pengalaman diri dalam relasi sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keempat unsur ini menjadi identitas kepercayaan yang kokoh di tengah tantangan perubahan dan pergeseran nilai zaman modern. (Kovach, 2021)

Aspek relasi vertikal dalam ritual ini mencerminkan etika terhadap Yang Ilahi dan leluhur, di mana eksistensi manusia tetap bersandar dan memohon kelepasan dari bencana atau nasib buruk. Secara komunitas, ritual ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial terhadap sesama, sebab solidaritas antarwarga dan pengunjung terjalin erat, dan sakralitas ritual terwujud dalam simbol kebersamaan. Tidak kalah penting adalah relasionalitas terhadap alam yang merupakan etika ekologis yang dihayati, mengingat bahwa manusia membutuhkan unsur alam sebagai pembersihan dan simbol energi makrokosmos yang saling berkelindan dalam kehidupan. (Maarif, 2019)

Dalam era globalisasi yang sering kali mengikis nilai-nilai lokal, ritual rambut gimbal Dieng menjadi bukti bahwa tradisi yang berakar kuat dapat bertahan dan bahkan berkembang ketika dimaknai dengan bijak. Ritual ini mengajarkan bahwa sakralitas tidak harus terisolasi dari modernitas, melainkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, lokal dengan global, spiritual dengan material. Inilah kekayaan sejati yang dimiliki masyarakat Dieng—kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara preservasi dan inovasi, antara sakralitas dan keterbukaan, antara tradisi dan transformasi.

Referensi

Atrinawati, A., Hadiyanto, H., & Sundari, W. (2021). The Sacred Meanings of Yearly “Dreadlock Haircut Ritual” As A Blessing Expectation for Dieng Plateau Society. E3S Web of Conferences, 317. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202131704020

Hermanto, H. (2018). Keunikan Masyarakat Pegunungan Dieng. LP3M UNSIQ.

Kovach, M. (2021). Indigenous Methodologies: Characteristics, Conversations and Contexts. University of Toronto Press.

Maarif, S. (2019). Indigenous Religion Paradigm: Re-interpreting Religious Practices of Indigenous People. Rethinking Religious Pluralism in Asia: India-China-Indonesia (2017-2019), April, 103–121. https://www.researchgate.net/publication/332511113

Mubin, N. (2016). Ritual Cukur Rambut Gimbal (Studi Makna Ritual bagi Pendidikan Moral Lingkungan dalam Komunitas Muslim Penghayat Kepercayaan Tunggul Sabdo Jati di Kawadan Dataran Tinggi Dieng). Pustaka Pelajar.

Suprobowati, G. D. (2021). DCF (Dieng Culture Festival), Wujud Harmonisasi Antara Kearifan Lokal, Agama dan Sosial Ekonomi di Masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Journal of Law, Society, and Islamic Civilization, 9(1), 22. https://doi.org/10.20961/jolsic.v9i1.51714

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini