Daftar Nama Penerima Nusantara Academic Writing Award 2025

Nusantara Academic Writing Award (NAWA) adalah penghargaan penulisan pascariset (post-research writing grant) untuk tesis dan disertasi bagi mahasiswa magister dan doktor di perguruan tinggi di Indonesia tentang topik-topik yang sesuai dengan visi, misi, dan platform lembaga Nusantara Institute, yaitu studi mengenai dunia pendidikan, kesenian, kebudayaan, keagamaan, dan kerajaan di Indonesia. Program ini diadakan oleh Nusantara Institute sejak 2019 bekerja sama dengan Bakti BCA, dan sejak 2024, Bakti Pendidikan Djarum Foundation turut bergabung mensponsori program NAWA.

Novi Diah Haryanti (Mahasiswa S3, Universitas Indonesia)

Judul Diserasi: Strategi Negosiasi Tokoh Perempuan dalam Kontestasi Habitus di Pesantren pada Empat Karya Perempuan Penulis Pesantren

Abstrak

Di awal 2020 booming novel yang ditulis oleh ning (anak perempuan kiai), yang juga pengasuh pondok pesantren. Para ning tersebut menerbitkan novel yang menceritakan pengalaman khas menjadi anak perempuan atau menantu kiai di pesantren, khususnya mengenai tradisi perjodohan, kepemimpinan di pondok, serta habitus di pesantren yang kerap mempersulit gerak perempuan.  Novel tersebut tak hanya berfungsi sebagai ekspresi personal, tapi juga stretegi negosiasi terhadap struktur sosial yang harus mereka hadapi. Kemunculan para ning yang menulis, menunjukkan fenomena kebangkitan sastra pesantren. Hal ini menarik, karena di tengah terbatasnya ruang gerak bagi perempuan, karya-karya mereka dibaca dan diapersiasi di berbagai pondok pesantren. Disertasi ini akan mengkaji empat novel yang terbit pada tahun 2019 hingga 2021. Novel tersebut adalah Hati Suhita karya Khilma Anis, Dua Barista karya Najhaty Sharma, Diary Ungu Rumaysha karya Nisaul Kamilah, dan Cincin Kalabendu karya Liza Samchah. Dengan menggunakan perspektif sosiologi Pierre Bourdieu, disertasi ini akan membongkar bagaimana empat novel yang ditulis oleh para ning memperlihatkan strategi tokoh perempuan dalam menegosiasikan habitus di arena simbolik pesantren. Penelitian ini akan berkontribusi pada kajian sastra Indonesia, khususnya sastra pesantren yang selama ini didominasi karya laki-laki, serta menunjukkan adanya peningkatan kesadaran terhadap isu gender di pesantren.

Siti Rohwati (Mahasiswa S2, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

Judul Tesis: Islam dan Budaya Lokal: Studi Tradisi Puasa Adat di Masyarakat Blora.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dialektika Islam dan budaya lokal dalam tradisi puasa adat masyarakat muslim Samin di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Fokus kajian ini terletak pada pandangan masyarakat muslim Samin terhadap makna dan pelaksanaan tradisi puasa adat yakni Ngrowot dan Deder, serta pada pola akulturasi antara pelaksanaan puasa ramadan dengan tradisi masyarakat Samin. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan antropologi, penelitian ini berargumen bahwa agama dan adat dapat berjalan secara harmonis tanpa harus saling meniadakan. Pandangan ini berbeda dengan teori yang digagas oleh Ernest Gellner, yang menyatakan bahwa modernisasi dan islamisasi cenderung mendorong purifikasi agama dan mengikis ekspresi lokal. Secara konseptual tesis ini menggunakan teori interpretatif simbolik dari Clifford Geertz serta teori identitas diri yang dikembangkan oleh Peter J. Burke & Jan E. Stets. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi puasa Ngrowot dan Deder pada masyarakat muslim Samin di Blora, tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga berfungsi sebagai ruang simbolik yang merepresentasikan dialektika antara Islam dan budaya lokal. Praktik puasa tersebut menampilkan adanya identitas ganda dalam diri masyarakat muslim Samin, namun identitas tersebut tidak menimbulkan pertentangan. Sebaliknya, adat dan syariat hadir dalam dinamikan yang saling melengkapi dan memberi kesejahteraan, sehingga terbentuklah keselarasan antara nilai-nilai tradisi dengan ajaran Islam. Dengan demikian, penelitian ini sejalan dengan Roni Faslah dan Ahmad Khoirul Fata (2020), Nur Syarifuddin (2020), dan Enkin Asrawijaya (2022). Kajian ini mempertegas hubungan Islam dan budaya lokal yang melanda di Jawa memang berlangsung secara tidak seragam, meski sebagian memiliki pola konflik atau resistensi, namun sebagian memiliki tingkat resepsi yang variatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa perdebatan antara agama dan budaya lokal tidak dapat dipahami secara mutlak, melainkan lebih tepat dipandang sebagai proses dialektika yang berlapis dan adaptif.

Suaidi (Mahasiswa S3, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Judul disertasi: Transaksi Ekonomi dalam Pelaksanaan Tradisi Tompangan Masyarakat Sumenep, Madura.

Disertasi ini mengkaji praktik tradisi tompangan dalam masyarakat Sumenep, Madura, yang bukan hanya sekadar ritual sosial tolong-menolong dalam hajatan pernikahan, melainkan juga sarat dengan dimensi ekonomi, kekuasaan, dan hukum Islam. Melalui pendekatan Pierre Bourdieu tentang habitus dan kapital, serta konsep tradisi diskursif Talal Asad, penelitian ini membongkar bagaimana tompangan membentuk arena kontestasi sosial, di mana aktor-aktor lokal saling bernegosiasi dengan modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Fenomena ini menyingkap pergeseran nilai dari orientasi sosial menuju kapitalisasi ekonomi, bahkan berpotensi menimbulkan ketegangan antara prinsip syariah dan praktik lokal. Perbedaan pandangan ulama, mulai dari yang menganggap tompangan sebagai akad qardh, hibah , hingga “ halal tapi diharamkan ”, memperlihatkan kompleksitas diskursus hukum yang hidup dalam masyarakat.

Melalui penelitian lapangan dan analisis kritis, disertasi ini menawarkan pembacaan baru bahwa tompangan tidak bisa dilihat secara hitam-putih sebagai tradisi yang sahih atau menyimpang, tetapi sebagai ruang negosiasi dinamis antara agama, budaya, dan realitas ekonomi kontemporer. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang hukum Islam dalam konteks lokal, tetapi juga membuka perspektif baru tentang bagaimana masyarakat Madura mempertahankan identitas, solidaritas, sekaligus menghadapi tantangan modernitas.

Fina Mazida Husna (Mahasiswa S3, UIN Walisongo, Semarang)

Judul disertasi: Pembacaan Ulang Maulid Al-Dziba’i sebagai Karya Sastra Arab Populer di Indonesia.

Abstrak

Maulid al-Diba’i merupakan salah satu karya sastra Arab yang populer di Indonesia. Menurut antropolog Belanda, Martin van Bruinessen, teks ini menempati posisi penting dalam tradisi keislaman. Maulid al-Diba’i tidak hanya dibacakan saat perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga hadir dalam berbagai ritual sosial-keagamaan , seperti kelahiran, pernikahan, hingga hajatan masyarakat. Pembacaan Maulid al-Diba’i oleh masyarakat dikenal dengan sebutan tradisi Diba’an. Kepopuleran Maulid al-Diba’i bahkan melampaui batas bahasa. Hal ini terbukti dari banyaknya terjemahan dan adaptasi ke dalam bahasa daerah. Namun, di balik popularitas tersebut, muncul pula sejumlah kesalahpahaman. Misalnya, jurnal al-Manar tahun 1970 menilai bahwa kisah-kisah dalam Maulid mengandung kesesatan. Pada tahun 1987, Suara Muhammadiyah menyatakan narasi tentang Nur Muhammad dalam Maulid al-Diba’i perlu dikaji ulang. Lalu, pada 2005, majalah as-Sunnah menilai teks ini mengandung unsur pengkultusan Nabi Muhammad SAW melalui pujian berlebihan. Bahkan, pada tahun 2022, pernyataan Gus Baha’ sempat viral, karena menyebut penulis Maulid al-Diba’i adalah penganut Syiah Zaidiyah. Hal ini pun menimbulkan perdebatan yang luas di tengah masyarakat.

Sebagai karya sastra keagamaan, Maulid al-Diba’i sejatinya di dalamnya terkandung unsur sejarah, teologi sufistik, dan imajinasi kreatif pengarangnya. Sayangnya, pembacaan yang terlalu menekankan aspek teologis sering mengabaikan sisi kesusastraan serta ruang interpretasi yang kaya di dalamnya. Maka kemudian penelitian ini berupaya memperkecil jarak pemahaman antara penulis dan pembaca masa kini, dengan cara memaknai ulang Maulid al-Diba’i dengan menggunakan pendekatan hermeneutika yang melibatkan aspek gramatikal maupun psikologis.  Sehingga dengan penelitian ini, masyarakat diharapkan mampu memaknai teks maulid secara lebih terbuka, kritis, dan apresiatif, sembari tetap menjaga keberlangsungan tradisi Diba’an.

Kurnia (Mahasiswa S2, Center for Religious and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada)

Judul Tesis: The Agency of Kaluppini Women in Indigenous Natural Resource Management in Sulawesi, Indonesia.

Abstrak

Indigenous women are often overlooked in discourses on natural resource management. Even as indigenous communities begin to gain recognition in development narratives and policy frameworks, the roles of women within these communities remain largely invisible. Yet, in many indigenous societies, including the Kaluppini community of South Sulawesi, women hold central roles in sustaining both life and the natural environment. They care for the land, preserve seeds, manage communal granaries, lead rituals, and transmit intergenerational knowledge. This thesis emerges from a critical concern over such invisibility. It seeks to demonstrate that natural resource governance in indigenous communities cannot be understood apart from women’s agency, which manifests through daily practices, local values, and spiritual relationships with nature.

This study employs a qualitative approach using ethnographic methods. Over the course of two months, fieldwork was conducted in the Kaluppini indigenous community through participant observation, in-depth interviews, and documentation of women’s activities. Sherry B. Ortner’s agency theory was used to identify various forms of agency expressed through domestic labor, ritual practices, and local resource management. Findings reveal that the agency of Kaluppini indigenous women does not always take the form of overt resistance to patriarchal structures, but rather emerges through reflective, spiritual, and ecologically grounded actions. These women serve as custodians of traditional houses, stewards of food and medicinal knowledge, and key actors in sustaining community life. Their agency is enacted through conscious adherence, collective labor, and shared communal values.

The study concludes that ecological and cultural sustainability in indigenous communities is inseparable from the active roles of women. Their contributions must be recognized not as passive forms of service, but as full expressions of agency. These findings offer a new reading of agency rooted in locality and spirituality, and present an ethical call for development policies that center the lived experiences and ways of knowing of indigenous women.

Marthinus Ngabalin (Mahasiswa S3, Universitas Kristen Satya Wacana)

Judul disertasi: Ritus Tombor Maghi: Liminalitas Hubungan Antaragama Islam-Kristen di Kabupaten Fakfak, Papua

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dan menganalisis pemahaman masyarakat Fakfak terhadap konsep liminalitas dalam pelaksanaan ritus Tombor Maghi, yang berkembang sebagai sarana mempererat relasi antarumat beragama, khususnya antara Islam dan Kristen. Awalnya merupakan bagian dari prosesi perkawinan tradisional, ritus ini telah mengalami transformasi makna seiring waktu, hingga kini turut diadaptasi dalam konteks pembangunan rumah ibadah—seperti Masjid (Masjid Maghi), Gereja (Gereja Maghi), serta institusi pendidikan (Pendidikan Maghi). Tulisan ini memfokuskan kajian pada dinamika perubahan makna dan fungsi sosial ritus tersebut, serta menelaah keterkaitannya dengan upaya perdamaian dan pembentukan relasi harmonis antaragama di Kabupaten Fakfak. Melalui pendekatan interdisipliner—yang mengintegrasikan perspektif antropologi agama (ritual dan liminalitas), sosiologi agama (solidaritas sosial), dan kajian hubungan antaragama (dialog dan keterlibatan antaragama)—penelitian ini menganalisis ritus Tombor Maghi sebagai ekspresi liminalitas antaragama. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan etnografi, sementara data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah pustaka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Fakfak tidak hanya merupakan salah satu wilayah tertua di Papua, tetapi juga menjadi ruang historis dan kultural yang mempertemukan dinamika keberagaman agama, budaya, dan solidaritas sosial. Pertemuan Islam dan Kristen di Fakfak merefleksikan harmoni sosial-keagamaan yang tertanam kuat dalam struktur kehidupan masyarakat. Ritus Tombor Maghi, yang dijalankan lintas agama oleh komunitas adat Mbaham dan Matta, tetap menjadi bagian penting dalam prosesi perkawinan. Dalam konteks ini, ritus tersebut berfungsi sebagai medium sosial yang menghubungkan perbedaan keyakinan dan menjadi wadah untuk memperkuat ikatan kekerabatan di atas batas-batas teologis.

Ritus Tombor Maghi, dengan demikian, tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai arena sosial tempat negosiasi identitas dan kohesi antaragama dibangun secara aktif. Nilai-nilai adat dan relasi kekerabatan menjadi landasan penting dalam menciptakan ruang dialog dan rekonsiliasi, serta menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman agama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tombor Maghi merupakan bentuk lived religion berbasis budaya, di mana pengetahuan dan praktik keagamaan tidak semata-mata lahir dari institusi formal, melainkan diwujudkan, diwariskan, dan dimaknai melalui praktik sehari-hari dalam komunitas.

Rifqi Nurdiansyah (Mahasiswa S3, Universitas Islam Internasional Indonesia)

Judul disertasi: Islamic Hybridity and Meaning-Making of Islam in Indonesia: Islam Langkah Lama of the Talang Mamak Tribe

Abstrak

Disertasi ini mengkaji fenomena Islam Hibrida sebagai tawaran alternatif terhadap istilah Islam sinkretis yang kerap digunakan untuk menstigma praktik Islam pribumi. Dengan menyoroti Islam Langkah Lama pada Suku Talang Mamak, penelitian ini menunjukkan bahwa hibriditas Islam merepresentasikan proses pemaknaan ulang keislaman yang khas dalam tradisi tersebut. Istilah hibrida dipilih karena lebih netral, dinamis, dan erat kaitannya dengan relasi kuasa yang membentuk praktik keagamaan. Secara historis, Islam Langkah Lama berkembang melalui lima tahap penting: (1) abad ke-14 pada masa Kerajaan Pagaruyung, (2) abad ke-16 dengan berdirinya Kerajaan Islam Indragiri, (3) abad ke-17 dan 18 dipengaruhi ajaran wahdatul wujud, (4) abad ke-19 dan 20 dalam konteks kolonialisme, serta (5) abad ke-21 ketika terjadi intensifikasi gerakan Islamisasi dan Katolikisasi di wilayah Talang Mamak. Meskipun demikian, inti ajaran Islam tetap terjaga, yaitu bertauhid kepada Allah dan mengikuti Nabi Muhammad, namun diproduksi ulang secara lokal melalui kosmologi, ajaran leluhur, ritual, dan adat-istiadat.