Beranda Publikasi Kolom Nilai Filosofis dalam Seni Kerajinan Batik Indonesia

Nilai Filosofis dalam Seni Kerajinan Batik Indonesia

1891

Dewi Ayu Larasati (Akademisi & Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)

Batik begitu melekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Karena sudah terpatri citra dan identitas nasional Indonesia, tak ayal batik dinyatakan sebagai salah satu national branding Indonesia. Terlebih sejak 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, UNESCO telah menetapkan batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity (Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-bendawi).

Batik, secara etimologi diambil dari kata “ambatik”, yaitu dalam bahasa Jawa “amba” berarti menulis dan “tik” yang berarti titik kecil, tetesan, atau membuat titik. Jadi, batik adalah menulis atau membuat titik. Sir Thomas Raffless yang pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda, dalam bukunya History of Java (London, 1817) juga menyatakan bahwa kata batik berhubungan dengan kata titik.

Menurut beberapa catatan sejarah, seni batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang pada raja-raja berikutnya dan akhirnya menyebar ke banyak pelosok wilayah Indonesia. Pada saat itu batik ditulis dan dilukis pada daun lontar dan motifnya masih didominasi oleh motif bentuk flora dan fauna.

Kesenian batik mulai meluas hampir di setiap wilayah Indonesia dan khususnya di Jawa diperkirakan setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah Perang Dunia I habis atau sekitar tahun 1920.

Dengan berkembangnya kerajinan batik, masing-masing daerah memiliki corak dan motif yang khas sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah. Kini hampir setiap daerah dari Sabang sampai Merauke mempunyai beragam hias batik dengan karakter yang berbeda. 

Yang mesti menjadi perhatian kita saat ini adalah kain batik sebagai warisan budaya bangsa hanya dimanfaatkan sekadar sandang atau kebutuhan dunia fashion. Masih banyak orang yang mengenakan batik tanpa tahu makna filosofi apa yang terkandung di dalam batik yang dikenakan. Apalagi kajian tentang batik hampir tidak diberikan di sekolah-sekolah. Karena itu wajarlah bila pengetahuan batik masyarakat kita kurang apalagi generasi mudanya.

Berikut adalah nilai filosofis dalam seni kerajinan batik Indonesia yang patut kita ketahui.

Nilai Spiritual

Batik memang bukan hanya perkara fashion, seni tradisi ini juga menyimpan makna dan spiritualitas mendalam. Filosofi dalam pola batik merupakan harapan dan doa-doa yang menyebabkan batik selalu dihadirkan dalam berbagai upacara adat masyarakat etnik sehingga batik dianggap mempunyai kekuatan mistik religius tersendiri.

Seperti halnya batik larangan Keraton Yogyakarta, atau kadang disebut Awisan Dalem, adalah motif-motif batik yang penggunaannya terikat dengan aturan-aturan tertentu di Keraton Yogyakarta dan tidak semua orang boleh memakainya.

Keyakinan akan adanya kekuatan spiritual maupun makna filsafat yang terkandung dalam motif kain batik menjadi salah satu hal yang melatarbelakangi adanya batik larangan di Yogyakarta. Motif pada batik dipercaya mampu menciptakan suasana yang religius serta memancarkan aura magis sesuai dengan makna yang dikandungnya. Oleh karena itu beberapa motif, terutama yang memiliki nilai falsafah tinggi, dinyatakan sebagai batik larangan.

Adapun yang termasuk batik larangan di Keraton Yogyakarta antara lain Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, Parang-parangan, Cemukiran, Kawung, dan Huk.

Bagi para pengrajin batik itu sendiri, membatik tak hanya sekadar melukis di atas kain. Hal ini yang diyakini oleh para pembatik di Pekalongan, seperti yang dikutip dari artikel Tempo “Setia Merawat Warisan” (25/12/2011), bahwasanya menurut mereka, membatik bukan sekadar menorehkan malam dalam canting pada kain mori, membentuk aneka gambar, mewarnainya, lalu menjadi selembar batik indah. Membatik adalah sebuah laku spiritual. Tanpa spiritual yang kuat, batik tulis yang halus dan rumit tak akan tercipta.

Maka tak jarang kita mendengar kisah para pembatik yang memanjatkan rangkaian doa atau berpuasa terlebih dahulu sebelum membatik. Dengan harapan karya yang dihasilkan ketika dikenakan akan membawa berkah.

Nilai Estetik

Dalam hal estetik, seni kerajinan batik memiliki makna filosofis, kesesuaian ciri khas daerah, serta keindahan komposisi warna.

Batik Pekalongan misalnya, mempunyai ciri-ciri gambar bunga-bunga yang terang, daun, dan ranting, serta burung yang berwarna mencolok. Dulu pedagang Cina berlabuh ke pantai pesisir Pekalongan sangat memberikan pengaruh terhadap corak batik Pekalongan.

Bagi masyarakat Sulawesi, sumber inspirasi kerajinan batik diambil dari nilai-nilai kebudayaan lokal dan khas seperti sambulugana, rumah adat (souraja), tai ganja, motif burung maleo, motif bunga merayap, motif resplang, motif ventilasi, motif ukiran rumah adat Kaili, bunga cengkeh dan lain sebagainya.

Batik Tubo Maluku Utara memiliki ciri khas motif cengkeh, pala, peta Maluku Utara, serta flora dan fauna laut.

Batik Minangkabau yang dikenal dengan nama batik tanah liek (batik tanah liat) memiliki karakter batik yang lebih banyak menggambarkan ukiran rumah adat serta motif kain songket. Batik Tanah Liek biasa dipakai sebagai kain adat untuk sandang atau selendang oleh penghulu dan bundo kandung dalam upacara adat. 

Nilai Kerukunan dan Solidaritas

Kerukunan dan solidaritas berperan penting sebagai pengikat persatuan dan kesatuan bangsa. Batik sebagai karya seni adiluhung juga mengandung nilai-nilai luhur tentang kerukunan dan solidaritas sosial.

Motif Kotak Nan Rancak misalnya, menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Baturaja di Sumatera Selatan yang penuh warna, terkotak-kotak dalam perbedaan, namun tetap terselaraskan dalam naungan sendi-sendi kerukunan beragama, hukum negara, adat-istiadat, dan budaya setempat yang luhur. Hal ini senada dengan makna “Bhinneka Tunggal Ika” semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Motif batik garundang mandi pada masyarakat Minangkabau merupakan kain batik kawanan garundang atau kecebong yang hidup berkelompok di sebuah kolam air. Filosofi yang terkandung pada motif batik garundang mandi ini tentang hubungan masyarakat egaliter yang kompak dan menjaga kebersamaan namun dengan nikmat dan berkecukupan.

Motif batik Sekar Jagad pada masyarakat Jawa memiliki makna bahwa keanekaragaman kehidupan di seluruh dunia adalah sumber keindahan, bukan sumber keburukan/perpecahan.

Adapun motif batik Kalimantan yang mengandung makna filosofis tentang kerukunan dan solidaritas yaitu: motif Kambang Munduk, Kembang Mengalir, Dayak Latar Gringsing, dan lain sebagainya. Motif Kambang Munduk mengandung makna keterikatan hubungan manusia dengan lingkungan, terjalinnya rasa saling melindungi, saling memberi.

Motif Kembang Mengalir mengandung makna dukungan dari lingkungan atau solidaritas keluarga akan melancarkan kehidupan masa depan/pertunangan. Motif Dayak Latar Gringsing mengandung makna kerukunan atau akulturasi antar kebudayaan yang berbeda yaitu budaya Dayak dan Jawa, bahwa perbedaan yang ada bukan untuk permusuhan, tetapi untuk saling melengkapi.

Selain itu, motif batik Bali yang mengandung makna nilai-nilai kerukunan dan solidaritas antara lain motif Sekar Jagad Bali, Teratai Banji, dan Poleng Biru.

Nilai Edukasi

Batik semestinya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan dan pembangunan karakter. Dalam dimensi pendidikan, batik mengajarkan kita tentang konsistensi dan keuletan. Seperti kita ketahui, membuat batik tidaklah mudah. Perlu waktu yang cukup lama untuk menghasilkan karya terbaik. Untuk itu dibutuhkan ketelitian dan keuletan yang tinggi.

Membatik juga membutuhkan jiwa seni yang tinggi, karena pembuatnya harus jeli dan kreatif. Langkah demi langkah harus dilakukan dengan tepat agar warnanya menyatu dan tidak ada kesenjangan. Semakin bagus motifnya, maka harganya juga akan semakin tinggi.

Dengan menggali nilai-nilai filosofis pada seni kerajinan batik, sudah sepatutnya kita melestarikan batik sebagai salah satu produk kebanggaan Indonesia. Revitalisasi batik sebagai sarana pembangunan karakter bangsa tentu akan menguatkan identitas kebangsaan kita. [NI]