Rabu, Juni 3, 2020

Penerima “Nusantara Writing Grant 2020”

Nusantara Writing Grant (NWG) adalah bantuan finansial untuk penulisan tesis magister atau disertasi doktor yang membahas tentang aneka ragam aspek kebudayaan, keagamaan, dan kerajaan di Indonesia yang sesuai dengan platform Nusantara Institute. Program ini bekerja sama dengan PT Bank Central Asia, Tbk.

Nama: Nadhifa Indana Zulfa Rahman (Universitas Gadjah Mada)

Judul Tesis: Sistem Penamaan Tokoh-Tokoh dalam Hikayat Raja Pasai

Tesis ini menguraikan bentuk, fungsi, dan makna dalam sistem penamaan tokoh-tokoh dalam Hikayat Raja Pasai (HRP). Struktur penamaan tokoh dalam HRP dapat diklasifikasikan berdasarkan asal bahasa, jumlah kata, kelas kata, dan tata urutan kata. Nama-nama tersebut mengandung makna leksikal (didapatkan dari berbagai kamus bahasa Melayu, Brunei, Mandarin, Arab, Indonesia, Jawa, Kawi, Hindi, dan Tamil baik offline maupun online) dan makna presuposisi (makna kategorial, makna asosiatif, makna emotif, dan makna gramatikal). Kemudian, analisis mengenai fungsi penamaan difokuskan pada dua perspektif, yaitu nama sebagai identitas dari perspektif individu dan dari perspektif sosial. Fungsi nama sebagai identitas individu tampak digunakan sebagai bentuk resistensi atas dominasi bahasa Arab yang muncul pada nama Sultan Ahmad Perumudal Perumal yang menggunakan bahasa Tamil, bahasa yang dianggap berafiliasi dengan “agama pagan”. Dari perspektif sosial yang diwakili oleh perspektif pengarang, fungsi nama adalah legitimasi kedudukan politik di istana, penanda stratifikasi sosial, bentuk loyalitas kepada raja, dan penanda agama yang dianut.

Nama: Aisyah Nur Amalia (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)

Judul Tesis: Otoritas Spiritual dan Pergeseran Fungsi Polowijo-Cebolan di Keraton Yogyakaarta: Studi Disabilitas dalam Budaya Jawa

 Tesis ini mengkaji tentang disabilitas dalam masyarakat Jawa, khususnya di Keraton Yogyakarta. Jika selama ini disabilitas sering digambarkan secara negatif sebagai “the other” atau sosok liyan sekaligus erat dengan stigma, tesis ini justru menunjukkan sebaliknya. Dalam sejarah kerajaan Jawa, kaum difabel diilustrasikan memiliki otoritas spiritual dan berpengaruh bagi kepemimpinan raja. Pandangan ini mengalami pergeseran fungsi terutama sejak masa Sultan Hamengku Buwono IX. Tesis ini berusaha menjawab sejumlah pertanyaan fundamental: (a) bagaimana otoritas spiritual polowijo-cebolan (kelompok difabel) serta praktik dan operasionalisasinya di Keraton Yogyakarta? (b) bagaimana pergeseran fungsi polowijo-cebolan dari masa ke masa? (c) bagaimana otoritas spiritual polowijo-cebolan itu berubah dan apa saja faktor yang melatarbelakangi perubahan tersebut? Melalui penelitian lapangan dan analisis terhadap naskah-naskah kuno, tesis ini menunjukkan pergeseran fungsi polowijo-cebolan disebabkan oleh modernisasi terhadap identitas Islam Jawa, adanya legitimasi kepemimpinan raja sehingga polowijo-cebolan menjadi simbol sosial, dan kesalehan abdi. Kendati mengalami pergeseran fungsi, baik sakral maupun profan, keduanya masih cukup kuat dipahami masyarakat Keraton Yogyakarta hingga dewasa ini.

Sriyadi (Institut Seni Indonesia Surakarta)

Judul Tesis: Gaya Penyajian Tari Bedhaya Bedhah Madiun di Pura Mangkunegaran

Dulu, tari yang dipraktikkan di Pura Mangkunegaran, yang merupakan wilayah Pangeran Miji yang menjadi vasal Keraton Kasunanan Surakarta, menggunakan gaya Surakarta. Tetapi pada masa pemerintahan Mangkunegara VII terdapat beberapa karya tari di Mangkunegaran yang dianggap menyerupai gaya Yogyakarta, termasuk tari Bedhaya Bedhah Madiun. Tesis ini bertujuan untuk  mengkaji sejarah tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran serta menganalisis gaya penyajiannya guna mengetahui kronologi dan faktor-faktor penyebabnya. Lebih lanjut, analisis gaya penyajian dilakukan untuk mendeskripsikan teknik penyajian dan karakteristik tari tersebut serta untuk mengetahui faktor pembentukan gayanya. Riset ini menggunakan pendekatan etnokoreologi dan studi arsip. Hasil penelitian menunjukkan ada sejumlah faktor (sosial, politik, budaya, dan ekonomi) yang turut membentuk eksistensi tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran serta mempengaruhi pembentukan gayanya. Selain itu, studi ini juga menunjukkan bahwa tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran sejatinya memiliki gaya penyajian yang berbeda dengan gaya Yogyakarta.

Hesti Rosita Dwi Putri (Institut Teknologi Bandung)

Judul Tesis: Kajian Stuktur Motif Songket Palembang untuk Pengembangan Motif pada Songket Ogan Ilir

Songket yang merupakan warisan kebudayaan dari zaman Kerajaan Sriwijaya memiliki nilai estetik dan filosofis pada setiap motifnya. Keahlian menenun diteruskan secara turun temurun menggunakan alat tradisional. Prosesnya yang rumit membuat songket memiliki harga yang cukup mahal. Tingginya permintaan songket membuat produksinya menyebar ke Kabupaten Ogan Ilir yang merupakan wilayah perbatasan dengan kota Palembang. Meskipun sentra produksi songket menyebar di berbagai daerah Ogan Ilir, namun daerah tersebut belum memiliki motif  khas. Penenun hanya mengikuti motif songket Palembang. Pembuat motif songket (nyukit) tidak dapat dilakukan oleh semua penenun dikarenakan sulit pengerjaannya sehingga motif songket mengalami perkembangan sangat lambat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan people center depelopment pada pengrajin songket desa Tanjung Pinang Ogan Ilir. Tujuan riset ini, antara lain, untuk meningkatkan minat masyarakat dengan cara membuat struktur motif yang mudah sehingga masyarakat tertarik untuk meneruskan tradisi menyukit. Hasil penelitian menunjukan bahwa motif songket Ogan Ilir yang tepat untuk disimulasikan adalah motif seluang mudik.

Nama: Nusya Kuswantin (Universitas Gadjah Mada)

Judul Disertasi: Strategi Melawan Dominasi: Studi Kasus Komunitas Kasogatan

Disertasi ini membahas komunitas (non-monastik) Kasogatan yang sedang berusaha eksis dengan melanjutkan misi mendiang para sesepuh, yaitu menggali ajaran leluhur Nusantara. Pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam disertasi ini antara lain: apa itu Kasogatan? Apa perbedaan antara monastik dan non-monastik dalam konteks Kasogatan? Apa tantangan yang dihadapi komunitas ini? Penelitan ini menggunakan metode penelitian kualitatif teoritisasi data dengan menggunakan studi kasus, studi dokumen, observasi alami serta wawancara terpusat dan fenomenologi. Hasil dari riset ini adalah bahwa sebagai efek dari 32 tahun di bawah rezim Orde Baru yang terobsesi pada formalisme (sebagai bagian dari sistem kontrol terhadap rakyat), masyarakat Indonesia cenderung lebih menghargai bentuk-bentuk lembaga daripada komunitas. Dalam kaitan ini, komunitas Kasogatan dihadapkan pada tantangan mendasar: apakah akan tetap sebagai komunitas spiritual (yang dekat dengan Siwa Buddha) mengingat anggotanya dari latar belakang agama formal yang beraneka ataukah perlu melakukan religionisasi dengan menginduk pada lembaga agama tertentu seperti Buddha atau Hindu?